Resensi Film 23 Nafar: Semangat Resistensi dari Pemuda Zaman Old

Dari Kisah Nyata

Iran merupakan salah satu negara berpengaruh di Timur Tengah. Kemenangan Iran dalam revolusi Islamnya membakar jenggot para tirani dunia pada waktu itu. Berbagai macam usaha dilakukan untuk merobohkan Republik Islam Iran yang masih belia tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah invasi Irak ke Iran sejak September 1980 hingga Agustus 1988.

Di tahun 1982, tersebar isu mengenai eksploitasi anak-anak di bidang militer oleh Iran. Di antara penyebaran isu tersebut, televisi Irak menampilkan 23 remaja Iran usia antara 13 hingga 17 tahun yang “dipilih” dari para tawanan. Mereka merupakan anggota Tharallah Brigade of Kerman yang turun ke medan perang untuk mempertahankan Republik Islam kecintaan mereka.

Setelah peristiwa itu, salah satu dari mereka menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku yang berjudul 23 orang (23 Nafar). Cerita tersebut kemudian diangkat menjadi sebuah film dokumenter pada tahun 2018 dengan disutradarai oleh Mahdi Ja’fari. Kemunculan film ini mengawali penerbitan dan produksi buku, film dokumenter, dan acara-acara televisi bertema serupa. Cerita yang awalnya tak didengar kini menjadi perbincangan hangat di antara masyarakat.

Film ini berpusat pada bagaimana frame media memberitakan anak-anak yang tertawan untuk menjatuhkan Iran dengan isu eksploitasi. Ke-23 remaja ditampilkan dengan satu karakter yang kompak dan selalu mengambil keputusan dan sikap yang sama. Meski begitu ada beberapa momen perbedaan pendapat di antara mereka yang membangun cerita menjadi lebih hidup.

 

Sinopsis

Film berdurasi 101 menit itu dimulai dengan potret malam sebelum para tentara Iran melakukan misi untuk mementahkan serangan tentara Irak. Dalam misi ini, beberapa orang terbunuh. Sisa tentara yang masih hidup ditangkap oleh tentara Irak dan dibawa ke markas tawanan di kota Baghdad. Satu hari setelah ditawan di satu bangsal sempit dan bau, ke-23 pemuda ini dipisahkan dari tentara lain yang berusia lebih tua.

Mereka dikurung di penjara tawanan di Baghdad, sementara yang lain dibawa ke penjara di kota lain. Di sanalah cerita mereka dimulai. Kepala militer Irak menyampaikan keprihatinan atas bergabungnya mereka ke medan militer. “Kalian akan kami bebaskan, dan kalian akan kembali bersekolah, berkumpul dengan keluarga, tidak perlu menderita seperti ini.” Begitulah kata manis musuh. Tentu saja mereka tak memercayainya.

Dalam upayanya, pemerintah Irak mengadakan konferensi pers. Konferensi pers juga dilakukan dengan mengundang wartawan asing, seperti dari BBC. Salah satu dialog yang menarik ada di adegan ketika salah satu wartawan bertanya, “Apakah kalian diiming-imingi dengan kesyahidan untuk turun ke medan perang?” Salah satu dari mereka menjawab, “Kesyahidan butuh kelayakan yang tidak kami miliki.”

Salah satu dialog yang menarik ada di adegan ketika salah satu wartawan bertanya, “Apakah kalian diiming-imingi dengan kesyahidan untuk turun ke medan perang?” Salah satu dari mereka menjawab, “Kesyahidan butuh kelayakan yang tidak kami miliki.”

Puncak dari cerita ini adalah pertemuan para remaja dengan Saddam Husein yang disiarkan oleh media Irak di puncak perseteruan antardua negara tersebut. Saat itu, anak perempuan Saddam yang masih kecil memberikan bunga pada satu per satu dari remaja Iran ini sebagai simbol kecintaan Saddam pada mereka. Saddam berkata bahwa mereka akan dibebaskan dan kembali ke Iran.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, mereka bertemu lagi dengan Saddam Husein yang mengatakan bahwa Iran tidak menerima mereka lagi. Oleh karenanya mereka akan dibawa ke Paris dan bersekolah di sana di bawah tanggungan Irak.

Di sinilah konflik cerita dimulai. Ada sekelompok remaja yang tak keberatan dengan itu, ada pula yang menolak mentah-mentah. Tapi kemudian perseteruan berakhir dengan kesepakatan bahwa mereka menolak untuk diterbangkan ke Paris. Mereka menyadari bahwa semua sikap baik Irak kepada mereka tak lebih dari siasat perang untuk mengambil simpati dunia dan menuding Iran sebagai negara pengeksploitasi anak di bawah umur. Mereka enggan menjadi boneka musuh, dan lebih memilih disiksa seperti tawanan yang lain.

Upaya penolakan itu mereka lakukan dengan mogok makan, dengan harapan mereka dikembalikan lagi bergabung dengan tawanan lainnya. Di akhir cerita, mereka sampai pada keinginan mereka dan ketika perang berhenti, bersama semua tawanan Iran mereka kembali ke negaranya, bertemu lagi dengan keluarga, dan melanjutkan kehidupan sebagaimana mestinya.

Salah satu tokoh penting dalam film ini adalah sosok seorang penerjemah antara tawanan dan tentara Irak di markas yang bernama Mulla Sholih. Konon ia adalah seseorang berkebangsaan Arab yang menjadi tawanan Irak juga. Keberadaannya yang asing di antara 23 remaja menimbulkan kecurigaan. Mereka curiga, apakah ia benar-benar memihak atau hanya suruhan Irak untuk mengontrol mereka dari dekat. Bahkan sepanjang film, penonton merasakan kecurigaan tersebut kepadanya.

 

Penghargaan

Di skala nasional film ini meraih 5 perhargaan sekaligus di tahun 2019, di antaranya Kompetisi Nasional Golden Butterfly for Best Screenplay kategori International Film Festival for Children and Youth Awards. Sedangkan di skala internasional, film ini terpilih sebagai Film of the Year of Iranian National Comission menurut UNESCO di tahun yang sama.

 

Sebuah Pelajaran

Dari beberapa film bertema perjuangan rakyat Iran dalam membela tanah airnya (atau biasa disebut Pertahanan Suci), film ini cukup menarik perhatian saya. Pasalnya, tokoh utama dari film ini adalah para remaja. Di saat dunia mengarahkan pemuda masa kini pada hal-hal duniawi, Iran mengajak para remaja zaman now nya untuk belajar semangat perjuangan dari remaja zaman old. Bagaimana sekelompok remaja dengan karakter khasnya yang kuat dan pemberontak harus menghadapi musuh. Bagaimana mereka sepakat, membulatkan tekad untuk mengabaikan iming-iming musuh dan memilih mati bersama para tawanan lain.

Keberanian dan keteguhan hati yang disampaikan dalam film ini patut menjadi contoh bagi para remaja resistensi di zaman ini, di manapun mereka berada. Bagaimanapun, iming-iming musuh akan selalu terlihat menggiurkan. Godaan ini hanya mampu dikalahkan dengan niat yang tulus dalam mempertahankan ideologi bahkan sampai rela menyerahkan jiwanya di jalan kebenaran.

Penulis: Nab Karbela.

 

Sumber rujukan:

https://www.google.com/amp/www.namava.ir/blog/23-people-movie-review/amp/

https://en.irna.ir/news/83233972/23-People-won-UNESCO-s-film-of-year-award

https://www.zoomg.ir/2019/12/28/311717/23people-movie-review/

Share :
Headline, Lingkar Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.