HPI Iran Gelar Seminar Kemenangan 41 Tahun Revolusi Islam Iran

Qom- Revolusi Islam Iran sudah berusia 41 tahun. Dalan perjalanannya, tentu banyak sekali rintangan yang harus dihadapi. Meski begitu, revolusi Islam yang dicetus Imam Khomaini itu masih tetap bertahan hingga kini.

Dalam rangka memperingati hari Revolusi Islam Iran yang ke-41, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI Iran), melalui Divisi Kajian Ilmiah (KAIL) menggelar seminar  bertajuk “Peran Talabah dan Aktivis dalam Amanat Gom-e Duvvum Enqelabe Islami”.

Gom-e Duvvum, yang berarti ‘langkah kedua’,  adalah sebuah penjelasan dari Ayatullah Ali Khamenei mengenai poin-poin penting terkait dengan Revolusi Islam secara umum, dan masyarakat Iran secara khusus, untuk empat puluh tahun ke depan.

Bertempat di  mabes HPI Iran, tadi malam usai  salat magrib pukul 18.30 waktu setempat (10/02), acara seminar yang dihadiri  seorang pemateri asal Iran, Dr. Forati, itu berjalan dengan lancar.

Selain memperingati hari kemenangan Revolusi Islam ke-41, di acara seminar itu juga  memperingati hari keempat puluh mendiang Jenderal Qasem Soleimani.

Sebelum  acara dimulai, para hadirin yang merupakan para pelajar, membacakan surah al-Fatihah dan surah Yasiin secara bersama-sama.

Pemateri yang merupakan dosen di Universitas Imam Shadiq Teheran itu mengawali pembicaraanya dengan menyampaikan kepribadian Syahid Qasem Soleimani.

Dalam paparannya, ia mengatakan bahwa sang jenderal tak hanya mengusir para teroris di kawasan. Lebih dari itu, ia juga membantu orang-orang yang terkena bencana, salah satunya adalah korban banjir yang terjadi di Iran.

“Syahid Qasem tidak hanya berjibaku melawan para teroris di kawasan, bahkan ia meluangkan selain waktu dinasnya dengan membantu masyarakat yang menjadi korban korban banjir,” uangkapnya.

“Amerika melakukan  kesalahan yang cukup besar, dengan meneror Syahid Qasem Soleimani. Sekarang, Setelah keregian jenderal Qasem Soleimani, kita beru sadar bahwa, Syahid Soleimani tidak saja memberikan manfaat kepada para pengikut Syiah, bahkan manfaatnya juga dirasakan oleh kalangan saudara Ahlussunnah,” paparnya.

Di dalam penggalan ungkapannya, sang pemateri juga mengatakan bahwa kematian Syahid Qasem Soleimani lebih membahayakan bagi musuh daripada di saat ia masih hidup.

“Syahid Qasem Soleimanai dampaknya lebih besar daripada Jenderal Qasem Seoleimanai. Kematiannya memberikan pengaruh yang luar biasa, dan menjadi awal dari sebuah peradaban.”

Terkait dengan Revolisi Islam Iran, Dr. Forati mengungkapkan bahwa Revolusi Islam Iran adalah salah satu revolusi yang tidak membutuhkan banyak budjet. Dan hal itu mampu menlengserkan Syah Pahlevi, yang dari segi kekuatan tak bisa dirakukan lagi. Namun, seorang ulama mampu melengserkannya.

“Imam Khomeini  mampu melengserkan  Syah Pahlevi, lalu membentuk sebuah pemerintahan Islam. Revolusi Islam di Iran adalah satu-satunya revolusi yang tidak memerlukan banyak budjet,”  katanya.

Acara seminar usai pukul 21.30 waktu setempat. Acara ditutup dengan ditandai pemberian sertifikat oleh ketua HPI Iran, Zaky Fathoni kepada pemateri. (HPI Media).

 

 

Share :
Events, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.