Dia Telah Pergi ke Langit

Kini, kusaksikan jutaan manusia mengerumuniku, berdesak-desakan, mendekati mobil kontainer yang membawaku keliling di pekuburan manusia mulia. Sejauh mata memandang, dan sesekali kusapukan penglihatanku ke tiap sisi, tak kulihat kecuali samudera manusia, yang tak lagi dapat dihitung dengan jari.

Pemandangan ini tak pernah kusaksikan dalam hidupku. Tak pernah terbayang dalam benaku, akan ada jutaan manusia yang mengelilingiku. Terlihat dari jarak yang dekat, bulir-bulir air mata membelah kedua pipi mereka. Mereka melambaikan tangan; mengucapkan salam padaku.

Bahkan, tak luput dari penglihatanku, di tiap sudat tempat, di pertokoan, rumah-rumah, kaca mobil, tertempel foto-foto wajahku. Bannar-banner besar di penyeberangan jalan dan di tempat-tempat umum lainnya, juga memperlihatkan foto wajahku. Allahu akbar.

Entah kenapa, di pelupuk mataku, ada pantulan semburat cahaya suci. Kulihat lagi dengan serius, cahaya suci itu ternyata sekumpulan manusia. Mereka membuka kedua tangannya, seoalah ingin mengucapkan selamat datang dengan  memelukku.

***

Kala itu, langit dihiasai beberapa helikopter pasukan Irak. Helikopter itu tak membiarkan kami menghirup napas dengan bebas. Helikopter itu menghujani kami dengan perluru mematikan. Mobil Ambulan yang sedang mengangkut jenazah para tentara yang telah gugur, juga menjadi sasarannya. Tak kulihat sekeliling kami kecuali api dan asap yang hitam pekat.

Kami berlari, mencari tempat perlindungan di balik puing-puing beton jembatan yang runtuh akibat dibombardir pasukan Irak. Kala itu, kami hanya punya dua mobil tank, sementara mereka memiliki lima ratus tank. Iya, lima ratus tank. Jika dihitung-hitung, pasukan kami tidak sebanding dengan mereka. Praktis, kami akan kalah.

Berkat bantuan Allah yang Mahakuasa, mereka tumbang.

***

Di perang Iran-Irak di zaman Saddam Husein, aku dan beberapa sahabat ikut terjun ke medan perang, berjibaku dengan pasukan Saddam. Di dalam peperangan itu, aku selalu berpegang pada lima prinsip, yang selalu kami pegang dan amalkan. Lima prinsip itu adalah jihad, akhlak, sriptual, ibadah dan berwilayah dengan para Imam.

Kelima prinsip  itulah yang yang membuatku dan para sahabat seperjuangan lainnya menjadi lebih kuat dan bersemangat memertahankan tanah air dan untuk Islam. Kami lebih ikhlas, sebab semata-mata, perjuanganku ini bukan untuk membesarkan namaku, melainkan ikhlas karena-Nya.

Selama perjuanganku melawan para musuh, tak sedikit para sahabat karibku, yang pernah berjuang  bersama melawan para musuh, sampai pada harapan mereka: Syahid. Bagi kami, syahid adalah harapan yang selalu kami nanti, layaknya para imam suci kami, yang  gugur  dalam kesyahidan.

***

Di hadapanku, barisan musuh dari pasukan ISIS sedang melancarkan serangan. Aku dan para pasukan tergabung melawan mereka. Seperti yang kita tahu, sejak beberapa tahun terakhir, teroris yang paling sadis di dunia, bernama ISIS telah meluluhlantahkan di beberapa negara di Asia Barat.

Suriah dan Irak adalah salah satu korban mereka. Mereka telah menghapus mimpi anak-anak Suriah. Kota Aleppo, kini menjadi mati. Dahulu, kota itu terlihat damai dan sejahtera. Namun, kedatangan ISIS mengubah kota itu menjadi luluh-lantah dan kota mati. Husain Hujaji adalah salah satu korban mereka. Kepalanya dipenggal oleh pasukan ISIS. Kini ia syahid.

Di tiap langkahku, aku selalu berharap, semoga kesyahidan menghampiriku. Jika syahid kelak, aku telah memberi wasiat pada istriku, bahwa agar aku dikuburkan disebuah pekuburan para syuhada, dengan sangat sederhana. Aku juga telah berpesan kepad dia, agar tidak menuliskan embel-embel pangkat di atas kuburanku nanti. Tulis saja, Prajurit Qasem Soleimani.

Aku yakin, sejatinya orang-orang syahid di jalan Allah tidak sepenuhnya mati. Bahkan mereka hidup.

Tepat tahun 2017 kelompok ISIS bertekuk lutut. Sejatianya itu adalah bentuk pembalasan kami atas syahidnya Husain Hujaji yang dipenggal kepalanya oleh mereka. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa ISIS adalah kelompok teroris yang mencoreng nama Islam. Mereka menghancurkan situs-situs penting Islam dan ratusan ribu nyawa tanpa dosa mati di tangan mereka. Karenaya, tumbangnya mereka membuatku bersyukur.

Di mana pun kezaliman berada, kami selalu berdiri tegak melawan mereka. Kami tak akan pernah membiarakan manusia-manuaia tak berdosa berada di bawah kesewanang-wenangan para mustakbirin.

***

Dini hari waktu Baghdad  kunaiki sebuah mobil. Mobil itu itu meluncur dari bandara internasional Baghdad. Belum jauh dari bandara, tiba-tiba mobil kami diserang dari udara, dengan suara yang cukup memekikkan telinga. Duaaarrrr. Setelah itu, aku tak tahu lagi. Ruhku terbang ke langit.

Entah kenapa, di pelupuk mataku, ada pantulan semburat cahaya suci. Kulihat lagi dengan serius, cahaya suci itu ternyata sekumpulan manusia. Mereka membuka kedua tangannya, seoalah ingin mengucapkan selamat datang dengan  memelukku. []

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”  (QS. Al-Ahzab:23).

Selamat jalan Jendral Qasem Soleimani. Kau telah sampai pada cita-cita muliamu. Selamat meneguk cawan syahdah.

Penulis: A.R

 

 

*Tulisan ini hanya cerita fiktif belaka, yang terisnspirasi dari kisah  kehidupan Jenderal Syahid Qasem Soleimani yang kasrismatik dan penuh ikhlas dalam meperjuangkan hak-hak  kaum tertindas dan melawan orang-orang zalim.  Ia syahid 3 Januari 2020 di kota Baghdad, Irak dalam serangan udara Amerika Serikat.

Rerfrensi: Buku Haji Qasim, karya Ali Akbar  Mazdobodi. Tahun cetak 2017. 

 

 

 

 

 

 

 

Share :
Headline, Lingkar Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.