Peringati Hari Bela Negara, Duta Besar RI untuk Republik Islam Iran: Kita Bisa Belajar Banyak dari Iran

Qom- Berlokasi di  Auditorium  Shahid Sadr Universitas Imam Khomaini di kota suci Qom-Iran, KBRI Teheran menggelar acara  Hari Bela Negara dengan tajuk ‘Membangun Revolusi Mental, Menjaga NKRI’. (17/12/19)

Dihadiri puluhan pelajar Indonesia dari beberapa kota di Iran, acara itu berjalan cukup khidmat dan lancar. para pserta terlihat sangat antusias, menyimak materi yang disampaikan para pembicara.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Islam Iran, Bapak Ocktavino Alimudin yang saat itu sebagai keynote speaker memaparkan materinya, sebelum disusul oleh pemateri yang lain. Di dalam keterangannya, ia menyampaikan beberapa poin terkait dengan Hari Bela Negara.

“Saya sendiri, kalau boleh jujur, selama saya di sini (Iran), hampir empat tahun, baru satu kali kita rayakan (Hari Bela Negara). Padahal, sudah tujuh puluh satu tahun,” kata pak Dubes, menyinggung soal peringatan Hari Bela Negara, di mana, selama ia menetap hampir empat tahun di Iran, baru malam itu acara Hari Bela Negara diperingati.

Ia mangatakan bawha Hari Bela Negara dilandasi  oleh sebuah peristiwa pada 1948, di mana,  Indonesa saat itu berada dalam darurat, lalu pemerintah PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) memindahkan ibu kota di Sumatera Barat.

“Tahun 1948 kita nyaris di ambang perpecahan, kita nyaris kembali lagi menjadi negara jajahan. Jadi kemerdekaan itu kita pertahankan dengan memindahkan ibu kota. Supaya tidak ada kefakuman,” katanya.

Ia juga memaparkan tentang pentingnya bagi warga negara Republik Indoensia untuk mempertahankan keamanan negaranya, sebagaimana yang tertuang di dalam pasal 30 dan 27.

“Pasal 30, setiap warga negara wajib beserta dalam membela dan menjaga keamanan negara. Di pasal 27 di dalam amandemen ketiga juga dikatakan secara khusus, bahwa setiap warga negara ikut dalam usaha bela negara. Pertama ikut dalam pertahanan keamanan, dan yang kedua ikut dalam membela negara.”

Sejatinya, membela negara tak harus dengan kekuatan militer, setiap orang punya kewajiban membela negaranya dengan cara apapun.

“Bela negara bisa dilakukan dalam beragam bentuk, bisa melalui pendidikan, pelatihan, atau melakukan pelaksanaan tugas sesuai bidang kita masing-masing,” katanya.

Di kesempatan yang sama, ia juga sempat menyinggung tentang Iran, di mana selama empat puluh tahun berada dalam embargo dan tekanan dari Amerika dan sekutu, namun Iran sampai saat ini menjadi negara yang tetap kokoh dan kuat.

“Kalau kita lihat, bagaimana dengan Republik Islam Iran selama empat puluh tahun setelah berdirinya, tidak ada satu pun  mereka  bebas dari ancaman terhadap keutuhan wilayahnya. Kalau kita lihat tahun 1978, diawali dengan jatuhnya rezim Syah, kemudian sejak tahun 1979 berdirilah negara Islam Iran.”

“Sejak tahun 80-an ada perang Iran-Irak sampai tahun 88 tidak ada henti-hentinya. Jadi, kita bisa belajar banyak, bagaimana mereka membela negaranya,” paparnya.

Lebih jauh, ia juga menyoroti ancaman yang dialami Indonesia. Bahwa Indonesia juga memiliki tantangan tersendiri yang tak kalah penting dari nerara lain.

“Kita juga memiliki ancaman yang tak kalah pentingnya, seperti yang kita rasakan sekarang, misalnya banyak sekali ideologi-ideologi. Dulu mungkin, kita bicaranya komunis, sekarang mungkin radikalis, menjadi ekstrim kiri mejadi ekstrim kanan, atau yang selalu ada dari dulu, SARA itu selalu muncul, suku agama, ras dan antar golongan. Ini semua adalah masalah di dalam kita.”

Selain itu, ia juga mengingatkan betapa masyarakat mudah sekali terpecahbelah hanya karena termakan informasi-informasi yang tak jelas juntrungnya. Dan bagi mereka yang tidak tahu dan lugu, tentu mereka adalah sasaran empuk musuh untuk dipecahbelah.

“Raktat yang tidak tahu, yang begitu lugu dan naif menerima apadanya informasi-informasi yang ada, ini yang kemudia menjadi terpecah,” ujarnya.

Di akhir materi, Dubes RI untuk Iran yang merangkap untuk Turkimenetan itu juga memaparkan, bahwa kesatuan dan keamanan Republik Indonesia  tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi setiap rakyat juga harus ikut bersatu demi mencegah para musuh memecahbelah bangsa Indonesia.

“Di satu sisi diperlukan kekuatan militer untuk menjaga kesatuan,  tapi di sisi lain kita juga harus memiliki mental, harus memiliki kekuatan untuk bisa tetap mempertahankan kesatuan ini. Harga yang terlalu mahal untuk negara sebasar Indonesia lebih dari dua ratus lima puluh juta penduduk jika harus pecah menjadi berbagai negara. Banyak yang menginginkan pecah, tapi tentunya kita ingin bersatu, karena kekuatan Indonesia di kawasan sudah tidak lagi diragukan, kita diakui dari berbagai penegakan pasukan-pasukan perdamaian. Jadi kita memberikan kontribusi konkret bagi dunia, bahkan di kawasan,” tutupnya. (Media HPI)

Share :
Events, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.