Kisah Seorang Menteri yang Congkak

Suatu ketika ada seorang menteri yang memiliki kekuatan dan kekuasaan luar biasa di zamannya. Tak ada satu orang pun yang berani menentangnya. Suatu hari, menteri itu menghadiri sebuah acara yang di dalamnya juga dihadiri oleh para ahli agama.

Di hadapan mereka, ia berkata, “Mau sampai kapan kalian bilang kalau di dunia ini ada Tuhan? Aku punya ribuan argumen untuk mematahkan keyakinan kalian ini!”

Dengan sikap congkak ia berkata begitu. Para ahli agama yang hadir di acara itu pun tetap diam penuh makna dan tidak menghiraukannya, karena mereka tahu bahwa menteri itu bukanlah ahli logika, bukan pula ahli dalam berargumen, di mana, kekuatan dan kemampuan serta kesombongan yang ia tampakkan lewat lisannya itu sejatinya tidak memiliki kebenaran sama sekali.

Kejadian itu pun berlalu. Selang beberapa waktu, menteri yang memiliki kekuatan dan kekuasaan itu menjadi tersangka dan dijerumuskan ke dalam jeruji besi.

Salah satu dari ahli agama yang saat itu menghadiri sebuah acara bersamanya tempo hari, ia sempat berpikir, bahwa itu adalah saat yang tepat untuk menyadarkannya atas kesombonganya. Jika ahli agama itu menghubunginya untuk melakukan pertemuan, maka si menteri itu akan sadar untuk menerima kebenaran dan tentu akan sampai pada hasil yang positif.

Akhirnya, seorang ahli agama itu mendapat kesempatan untuk bertemu dengan si menteri itu. Ia menyaksikan kalau si menteri sedang sendirian di balik jeruji besi sambil bicara dengan diri sendiri.

Di saat yang sama, seorang ahli agama itu berkata,

“Sesungguhnya kita (manusia) bagaikan gambar singa yang terlukis di atas kain bendera. Di saat ada angin, kain bendera yang berlukiskan singa itu bergerak, dan seolah gambar singa itu terlihat gagah sambil melakukan perlawanan. Namun, pada hakikatnya lukisan singa di kain bendera itu tidak memiliki apa-apa. Anginlah yang menggerakkan bendera berlukiskan singa itu. Kita juga begitu, sekuat apapun kita, sejatinya diri kita tidak memiliki apa-apa.

“Tuhanlah yang memberikan kekuatan itu kepada kita. Kapan pun ia mau, tanpa tedeng aling-aling, Dia akan mengambil kekuatan itu dari kita.”

Berkat ahli agama itu, si menteri tak lagi ingkar dengan Tuhan, bahkan ia semakin mengenal Tuhan. Dalam keadaan seperti itu, si ahli agama itu bertanya-tanya tentang keadaannya, lalu ia berujar, “Apakah Anda masih ingat, tempo hari Anda pernah bilang kalau Anda punya ribuan argumen untuk membuktikan ketiadaan Tuhan? Kedatanganku di sini untuk membuktikan keberadaan Tuhan dengan satu argumen. Bahwa Tuhan dengan mudah telah mengambil kekuatan dan kekuasaan dari seseorang itu (menteri).”

Si menteri yang congkak itu pun menundukkan kepala dan malu, ia terdiam seribu bahasa. Ia akhirnya tahu atas kesalahannya. Dan pada akhirnya ia mendapati cahaya Tuhan di kedalaman hatinya.

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Yunus: 90).  (Media HPI) 

*Disadur dari buku Panjoh Dars Ushule Aqoyedh Baroye Javanan karya Ayatullah Makarim Syirazi

Share :
Headline, Lingkar Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.