Mudah Mengenal Tuhan

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Setiap orang beragama menyetujui pernyataan ini. Mereka yang tak percaya Tuhan dan tak beragama, tak percaya kalau di balik dunia yang tersusun rapih ini ada pencipta (Atheis).

Di awal kehidupan, manusia ibarat orang yang pingsan karena kecelakaan lalu lintas. Begitu siuman, ia jadi linglung plus bingung. Ia bertanya-tanya, dirinya sedang berada di mana? Kenapa tiba-tiba ia berada di sana? Siapa yang membawanya ke tempat itu dan bagaimana caranya agar ia bisa kembali ke tempatnya semula? Dan pertanyaan selanjutnya.

Begitulah. Dengan akalnya, manusia mulai bertanya-tanya, siapa yang membawanya ke dunia ini? Siapa yang menciptakannya di dunia ini? Lalu, ke manakah ia harus pergi? Dan sederet pertanyaan terkait lainnya tentang hidup dan kehidupan. Bukankah Anda juga pernah dililit pertanyaan-pertanyaan semacam itu?

Kita juga dapat melihat kegelisahan alami manusia untuk mencari sebuah sandaran hakiki, yang akan membantunya dalam segala kesulitan (Tuhan). Artinya, mencari Tuhan dan mengenal-Nya merupakan fitrah manusia. Artinya, se-atheis apapun manusia, sejatinya dalam dirinya ada ‘fitrah’ untuk mencari dan mengenal Tuhan. Hanya saja, karena beberapa hal, kaum Atheis seakan ‘terpaksa’ untuk tidak bertuhan.

Dalam banyak kasus, terlebih kala musibah menimpa manusia, terbukti bahwa manusia sejatinya membutuhkan Tuhan. Dalam keadaan genting, manusia merasakan kekuatan besar untuk dekat dengan Tuhan. Sebagai contoh, bayangkan sekelompok orang sedang berada di atas sebuah perahu di tengah laut dengan yang sangat dalam. Tiba-tiba perahu rusak dan berlubang besar. Air dengan mudah masuk ke dalam ruang dan para penumpang tidak dapat berbuat apa-apa. Tentu sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa perahu itu akan terus berlayar dan para penumpang bakal selamat.

Sementara itu, tak ada kapal atau perahu lain di sekitar mereka. Tidak ada satu orang pun yang dapat menolong mereka. Di tengah kondisi gawat dan riskan seperti ini, otomatis muncul sebuah keiinginan untuk meminta pertolongan kepada Tuhan (Dzat Yang Maha Kuasa) di dalam hati mereka baik orang itu bertuhan maupun tidak. Sebab, keinginan bertuhan adalah fitrah setiap manusia. Tanpa terkecuali.Mungkin, kita juga pernah merasakan dan melakukan hal yang sama, bukan?

Lebih jauh, sebuah perjalanan mencari dan mengenal Tuhan sejatinya tidak lahir dari doktrin orang tua, guru atau bahkan agama, sebagaimana yang dipahami masyarakat kita. Tapi muncul dengan sendirinya, baik ia terlahir di keluarga yang kental dengan lingkungan keagamaan atau di lingkungan non-religius sekalipun. Artinya, rasa ingin bertuhan akan muncul sejak manusia didapuk menjadi manusia.

Sebagian besar psikolog juga mengatakan bahwa di kedalaman ruh manusia terdapat empat rasa. Keempat rasa itu adalah, rasa ingin pintar, rasa ingin berbuat baik, rasa untuk menciptakaan keindahan dan yang terakhir, rasa untuk mengenal Tuhan. Rasa keempat ini memperkuat klaim tentang kebutuhan manusia untuk bertuhan.

Karena itu, sejatinya bertuhan adalah hal yang tak dapat dipisahkan dari manusia. Sejak akalnya mulai bekerja, manusia sudah mencari-cari Tuhan. Tuhan sendiri dekat dengan diri manusia. Hanya saja, kita perlu peka untuk mengenal-Nya lebih jauh. Bukankah al-Quran dengan jelas mempertegas bahwa, Tuhan itu lebih dekat dari urat leher kita? (QS. Qaf: 16).

 

Penulis: Tim Penulis HPI Iran

Share :
Headline, Intelektual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.