Ustadz Ahmad Bahasim: Syiar-syiar Al-Husain Tak Akan Pernah Padam

Tadi malam, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI Iran)  mengadakan acara duka Imam Husain di malam kedelapan dari bulan Muharram (07/09/19). Seperti biasa, sebelum acara dimulai, para hadirin melaksanakan salat Magribain berjamaah di tempat acara, di Markas HPI. Usai salat berjamaah, acara dibuka oleh pemabawa acara, Maktum, lalu dilanjut dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Quran, dan dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Ahmad Bahasim.

Di awal ceramah, beliau menuturkan tentang pentingnya menghidupkan syiar-syiar Ahlulbait, terutama tentang menghidupkan malam-malam asyura, sebagaimana yang diperintahkan oleh Imam Jafar Shadiq di dalam salah satu hadisnya, “Hidupkanlah perkara kami (ahlulbait), maka Allah akan menyayangi siapa yang telah menghidupkan perkara kami.”

Namun, terkait dengan menghidupkan syiar Ahlulbait, beliau juga menuturkan bahwa di sisi lain banyak sekali tantangan yang hendak memadamkan syiar-syiar Ahlulbait, terutama yang berkaitan dengan Imam Husain.

“Jika di sana ada yang menghidupkan syiar-syiar Ahlulbait, maka di sisi lain, banyak juga yang berusaha untuk memadamkannya,” jelasnya.

“Syiar al-Husain adalah kepanjangan dari syiar imamah, karena hal ini akan berlanjut sampai hari kiamat. Oleh karenanya, hal ini (syiar al-Husain) tidak akan berakhir sampai hari kiamat,” tambahnya.

“Dengan menghadiri majelis duka Imam Husain, berarti kita juga telah menghidupkan syiar-syiar ahlulbait, dan nantinya hal ini sebagai sebuah bentuk untuk kita sampaikan kepada banyak orang, bahwa Imam Husain telah memberikank jiawa, sahabat dan keluaragnya serta apa yang telah ia miliki untuk agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.”

“Imam Ali Sayyid Ali Khamenei, di dalam kitab walayalil asr, menyebutkan, bahwa majelis Asyura harus terdiri dari tiga hal. Pertama, untuk menambah kecintaan kita kepada Imam Husain dan Ahlulbiat di hati manusia. Kedua, harus dijelaskan asas-asas majelis Asyura. Ketiga, untuk menambah pengetahuan agama dan keimanan,” tuturnya.

Di penggalan ceramahnya yang lain, beliau mengkisahkan tentang seseorang yang dulunya berada di pihak Yazid yang kemudian bertobat  untuk membela Imam Husain as. Ia adalah al-Hur ar-Riyahi. Ia berjuang bersama al-Husain di padang Karbala hingga meneguk cawan Syahadah.

Terkait dengan al-Hur, beliu membawakan khotbah al-Hur di hadapan orang-orang Kufah yang telah bersikap tidak manusiawi terhadap Imam Husain dan keluargnya.

“Wahai orang-orang Kufah, celakalah kalian ketika kalian mengundang al-Husain, kalian menghalanginya untuk pergi. Dan kalian pun mengepungnya dari segala arah. Dan kalian melarangnya untuk bepergian di negeri Allah yang luas. Sehingga, ia dan ahlulbaitnya menjadi seperti aman. Dan mereka menjadi seperti tawanan di tangan kalian.

Dan tidak memberikan manfaat dan mudorat padanya. Dan kalian melarangnya untuk mengambil air dari sungai furat, yang bisa diminum oleh orang Yahudi, Nasrani dan Majusi, di mana di sana babi-babi hitam dan anjing-anjing bisa berendam sepuasnya di sana. Dan mereka (Imam Husain dan Ahlulbait) di sini merasakan kehausan. Alangkah buruknya perbuatan kalian kepada Muhammad Saw. dan keluarganya. Semoga Allah tidak akan memberikan air kepada kalian di saat kalian kehausan,” tutupnya.

Usai ceramah, seperti biasa, acara dilanjut dengan pembacaan maqtal oleh Zaki Azhomat Khan, dilanjut dengan lantunan maktam oleh Zilal dkk. Dan ditutup dengan pembacaan doa ziarah Asyura oleh Hasan Akbar. (Media HPI)

Share :
Events, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.