Ustadz Hadi Pratama: Tragedi Asyura Tidak Pernah Lekang Oleh Waktu

Di malam kedua dari bulan Muharram, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI Iran) kembali mengadakan acara duka Imam Husain di kesekretariatan HPI tadi malam (01/09/19). Dihadiri puluhan pelajar, acara berjalan dengan lancar hingga akhir acara.

Seperti biasa, acara dibuka oleh pembawa acara, Kheiril Anwar, disambung dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Quran oleh Ali Hadi Demak, disambung dengan acara inti, yaitu ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Hadi Pratama.

Di awal ceramahnya, beliau mengungkapkan, bahwa para sahabat setia Imam Husain yang membelanya tidaklah main-main. Mereka benar-benar bersungguh-sungguh ikut serta membela Al-Husain, sampai mereka meneguk cawan syahadah.

“Para sahabat setia Imam Husain tidak main-main dalam membelanya. Cinta mereka terhadap Imam Husain abadai, bahkan mereka siap menerima risiko yang bakal terjadi. Kalau main-main, dan hanya berdasarkan lidah saja, maka yang akan terjadi seperti orang-orang Kufah, di mana berkali-kali mereka mengirimkan surat untuk Imam Husain untuk mengungkapkan kesediaannya membela Imam Husain, namun begitu mereka diancam oleh pihak Ubaidllah bin Ziyad, mereka (orang-orang Kufah yang Berbait membela Imam Husain), membelot,” tegasya.

Di sisi lain, beliau juga sempat berbicara tentang sahabat Imam Husain yang setia, yang Syahid sebelum peristiwa Karbala berlangsung.

“Qheis bin Mushhir adalah duta besar Imam Husain. Perannya sebagai penyambung lidah imam Husain dengan penduduk Kufah. Perannya dalam membantu Imam Husain sangatlah besar. Ia syahid sebelum peristiwa Karbala. Ia berasal dari Bani Asad, yang dikenal sebagai orang-orang pemberani. Kakek-kakeknya dikenal sebagai veteran  yang berjuang bersama Rasulullah Saw,” katanya.

Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa Asyura adalah tragedy yang tak pernah lekang oleh waktu. Ia akan selalu hidup dan selalu dikenang.

“Tragedi Asyura tidak pernah lekang oleh waktu. Banyak orang-orang yang menghidupkan malam-malam Muharram. Tapi nyatanya, malam-malam Asyuralah yang menghidupkan hati kita yang redup, dan diri kita yang penuh dengan dosa.”

Di penutupan ceramahnya, beliau mengungkapkan bahwa Imam Husain dipersiapkan untuk  menghadapi orang-orang yang mencederai agama suci Rasulullah Saw.

“Imam Husain adalah Habib murni  yang sejak kecil telah dipersiapkan untuk menghadapi para tiran yang  hendak melucuti agama suci yang dibawa oleh Rasulullah Saw,” tutpnya.

Usai ceramah, acara dilanjut dengan pembacaan maqtal oleh Aqil  Mahdi, dilanjut dengan pembacaan maktam oleh ustadz Hendar dan Abudullah Haddad, lalu ditutup dengan pembacaan doa ziarah Aysura oleh Zainus Sulton. (Media HPI)

Share :
Events, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.