Menjadi al-Husain as

Lebih dari 1400 tahun lalu, tepatnya pada 10 Muharram, sesaat sebelum Ashar, seorang lelaki setengah baya nan gagah berdiri di lautan padang pasir Karbala. Darah merembes dari luka-luka di sekujur tubuhnya. Ia telah kehilangan segalanya.

Sejak pagi lelaki perkasa itu tanpa lelah membawa potongan mayat-mayat ke dalam kemah, satu-satunya tempat berlindung. Ia juga sudah menguburkan putra balitanya, yang meregang nyawa karena panah musuh menancap di leher. Air matanya kembali mengalir deras kala mengingatnya.

Sebelum berpisah untuk selama-lamanya, lelaki itu memeluk erat putranya, sementara adik perempuannya yang berada di sampingnya berkata lirih, “Wahai saudaraku! Anak ini sudah lama tidak menyentuh air. Mintalah sedikit air untuknya.”

Lelaki itu membawa putranya keluar dari kemah dan menaiki kuda. Dari atas pelana kuda ia angkat sang putra dengan kedua tangannya dan berseru, “Hai para pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian menganggapku sebagai pendosa, lantas dosa apakah yang diperbuat oleh bayi ini sehingga setetes airpun tidak kalian berikan untuknya yang sedang mengerang kehausan?”

Sungguh biadab! Mereka menjawab seruan lelaki itu dengan menembakkan anak panah tepat mengenai leher bayi mungil itu. Bayi malang itu menggelepar. Darah segar mengucur deras dari lehernya dan menggenangi kedua telapak tangan lelaki itu. Lalu ia lemparkan ke langit darah tersebut sambil berkata, “Setiap musibah yang aku alami, mudah bagiku untuk bersabar karena semuanya disaksikan Allah Swt.”

Lelaki itu kemudian turun dari kuda. Dengan sarung pedangnya, ia gali tanah dan menguburkan putranya.

Sejenak ia menatap langit bak seorang muazin dari puncak menara masjid, lelaki itu dengan tegas memekikkan suara paraunya, “Adakah orang yang bersedia membantu kami? Adakah orang yang akan menjawab seruan kami?”

Pandangan mata lelaki itu menyapu pasukan musuh dari ujung ke ujung. Hening, tak satu pun menjawab seruannya. Ia kembali memekikkan seruannya sampai empat kali. Tapi nihil. Sebenarnya, siapakah yang ia panggil?!

Sesungguhnya ia tidak lagi berharap bantuan siapapun. Sahabat dan keluarganya telah gugur mengorbankan nyawa. Ia tahu tak ada satu pun yang tersisa. Ia tahu, sudah tidak ada al-Hurr kedua apalagi ketiga. Tetapi lelaki itu terus mengumandangan seruannya sebagai itmamul hujjah.

Dan kini, seruan yang dikumandangkan lebih dari 1400 tahun lalu itu dijawab oleh Muslimin di berbagai penjuru dunia. Seruan itu adalah taklif kita sebagai manusia, di mana, dan kapanpun kita berada. Jawaban seruan itu merupakan sesuatu yang kecil dari pertolongan kepadanya.

Ya, lelaki sendirian itu adalah al-Husain bin Ali as, cucu Rasulullah Saw. Al-Husain menyeru kepada setiap generasi di setiap ruang dan waktu untuk memerangi Yazidisme dalam diri kita maupun luar diri kita. Al-Husain telah mendemonstrasikan sebuah peristiwa heroik untuk menciptakan kesadaran spiritual melalui amar makruf nahi munkar. Mampukah kita menjawab seruan al-Husain?

Jutaan orang menjawab seruan itu dalam bentuk tangis dan kucuran airmata. Jutaan lainnya menjawab dengan memukul-mukul dada. Bisakah ini semua membuat kita merasakan derita yang dialami al-Husain, merasuk hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa dan perilaku kita? Ribuan lainnya menjawab seruan al-Husain dengan membawa cambuk atau apa saja yang bisa menggores badan agar kucuran darah “lelaki itu” menjadi bagian darinya.

Maka, mereka yang memukul-mukul dada, meraung-raung, merintih-rintih, menangis dan memekik-mekik, adalah sebagai usaha dari sebuah konsentrasi kecil untuk melarutkan keperihan dan derita yang bukan lagi hanya dialami oleh al-Husain belasan abad yang lalu. Sebab, orang yang menjawab dengan cinta akan melarutkan eksistensinya, melebur, sirna dan menjadi orang yang dicintainya; menjadi al-Husain as seutuhnya. [HPI/Tiw]

Share :
Headline, Sudut Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.