Ali bin Abi Thalib dan Khilafah di Era Jahiliyah Baru

Walaupun tidak ada rentang waktu antara masa Islam seutuhnya di era Rasul dan para pelaku sejarah pasca beliau, namun seiring dengan bergulirnya penyebaran misi hingga melampaui ribuan kilo meter, tampak penyelewengan bermunculan secara perlahan-lahan.

Bahkan, jika dilibatkan faktor-faktor lain dalam penyelidikan, penyimpangan malah  semakin melebar, sehingga setiap arah akan mengambil garis masing-masing yang saling menggunting. Kenyataan menjadi fakta sejarah pada rentang waktu lima belas tahun, terhitung sejak hari pertama wafatnya Rasulullah Saw.

Dalam kurun tersebut, khilafah (kepemimpinan agama dan umat) menjadi magnet yang menarik setiap unsur yang bertentangan dengan revolusi Islam, laksana jembatan yang dilintasi setiap faktor yang menjebol dinding-dinding pemisah antara Islam dan Jahiliyah. Yang kita saksikan ialah runtuhnya segenap konsep dan basis yang telah dibangun oleh Muhajirin dan Anshar.

Tak pelak lagi, Khalifah pun menjadi alat yang dapat dimainkan oleh tangan-tangan yang telah dibuntungkan oleh Islam (orang-orang yang menanggung kerugian dan kehilangan kepentingan mereka dengan datangnya Islam, pent.) untuk mengembalikan kekuatan mereka yang telah dibenamkan oleh revolusi Islam. Upaya reinkarnasi Jahiliyah inilah yang kemudian menjadi akar setiap musibah umat yang terjadi setelahnya, bahkan menjadi sebuah preseden yang terus berlangsung sepanjang sejarah.

Kami tidak hendak mengatakan, bahwa preseden itu adalah sebuah tradisi yang tidak dapat diubah, sehingga menjadi sebuah kaidah paten, bahwa “Setiap revolusi akan memakan anak-anaknya”. Coba lihat bagaimana Khalifah Utsman bin Affan itu menjadi alat untuk menyingkirkan mereka yang memang memiliki peran poros dalam revolusi Islam.

Dengan bantuan kroni-kroni Bani Umayyah, ia lalu meruntuhkan bangunan yang telah dibangun dengan pedang, jihad, kesabaran dan pengorbanan. Fitnah inilah yang kemudian memupuk mentalitas kemurtadan dan menyegarkan kembali semangat musuh-musuh revolusi yang telah lumpuh. Dalam keadaan demikian, Ali bin Abi Thalib jatuh sebagai korban pertama fitnah.

Kebijakan-kebijkan politik, sosial dan pemikiran Khalifah Ali bin Abi Thalib merupakan awal pergolakan baru, yakni pergolakan kaum mukminin dalam rangka memulihkan kembali nilai-nilai revolusi dan slogan-slogan besar yang telah diajukan oleh Islam, melawan Jahiliyah baru yang telah berkobar dengan semangat kemunafikan, kedengkian dan kebencian yang mulai kembali menyesakkan dada mereka.

Untuk itu, beliau menyatakan perang secara terbuka pada satu waktu dan tertutup pada waktu lain. Kalau pertempuran di masa Rasul terjadi antara barisan Syirik dan barisan Tauhid, peperangan di era pemerintahan Imam Ali berlangsung antara generasi penerus revolusi besar Rasul yang hakiki dan kelompok penentangnya yang berlindung di balik busana Tauhid.  

Jelas bahwa kita tidak bisa menganalogikan  peperangan yang terjadi antara Muhammad Saw dan Abu Sufyan sama dengan peperangan yang terjadi antara Ali dan Muawiyah. Yang pertama itu adalah peperangan antarmusuh, sedangkan yang belakangan ini adalah peperangan antara teman dan pseudo-teman, yang tentunya menyimpan bahaya yang lebih besar.

Maka itu, perang bentuk kedua ini lebih  merupakan perang dalam. Tidak sedikit peperangan dengan musuh luar yang dimenangkannya. Meski begitu, tidak sekali Imam Ali menerima kekalahan dari musuh dalam. Di sinilah saatnya kita menangkap sebuah hikmah, bahwa peperangan melawan kemunafikan itu jauh lebih besar dari pada perang melawan kemusyrikan.

Peperangan yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad Saw merupakan salah satu fenomena kemenangan Islam atas kemusyrikan yang jelas di medan yang kasat mata. Namun peperangan yang dihadapi oleh Imam Ali merupakan kekalahan yang terjadi di medan abu-abu. Imam Ali telah berhadapan dengan Jahiliyah baru yang bersembunyi di balik jubah suci Islam.

Beliau berhadapan dengan kesyirikan yang  meramahkan dirinya dengan wajah Tauhid. Beliau  harus menghadapi para ‘penyembah berhala (nafsu)’ yang mengangkat al-Quran di atas ujung tombak. Beliau memerangi mereka dalam waktu yang sangat panjang dan begitu pahit. Kemudian, belum lagi sempat menghela napas panjang, beliau harus berhadapan dengan kaum ekstrim Khawarij yang merupakan bagian siasat busuk musuhnya (baca: Muawiyah).  

Hal-hal di atas ini cukup melemahkan kekuatan beliau di hadapan perlawanan Jahiliyah baru. Akhirnya, kekuatan revolusi sang ayah itu hilang dan dilanjutkan oleh sang anak, Imam Hasan as. []

Penulis: Ali Syariati

(Diterjemah dari al-Syahadah; Ali Syariati, Darul Amir lil Tsaqofah, Beirut, 2002)

Share :
Headline, Intelektual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.