Kemenangan, Ridho Ilahi dan Kita

Jika kita berbicara tentang kehidupan dunia, lalu  kita ibaratkan kehidupan dunia sebagai arena perlombaan, maka sangat wajar seandainya kita juga membicarakan kemenangan, karena setiap arena perlombaan pasti memiliki pemenang, entah perlombaan yang sederhana antarkampung misalnya, atau perlombaan tingkat dunia.

Kembali pada kemenangan tadi, biasanya kemenangan diartikan sebagai suatu yang diperoleh dengan perjuangan berat, atau bisa juga memahaminya lewat sinonimnya seperti keberhasilan atau kelulusan.

Jika kita sederhanakan lagi, kemenangan berasal dari kata “menang”, yang artinya: dapat mengalahkan musuh, lawan, saingan.  Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami sedikit tentang kemenangan.

Namun, makna kemenangan di atas agaknya masih terlalu universal, terlebih kita sebagai manusia yang meyakini keberadaan Tuhan yang Mahaesa, tentu tidak akan cukup jika hanya memahami arti kemenangan secara leksikal (bahasa) saja.

Kita sebagai hamba Tuhan, harus memahami lebih dalam apa makna kemenangan yang sebenarnya, atau dengan kata lain, kemenangan apa yang harus kita cari dan dapatkan, karena kemenangan ada begitu banyak jenisnya, terlebih seperti dewasa ini, di mana modernisasi sudah menjadi hal yang tidak terelakkan lagi, rawan sekali membuat manusia keliru untuk mencapai kemenangan yang sebenarnya ia butuhkan dan Tuhan inginkan.

Jika demikian, lantas kemenangan seperti apakah yang harus atau layak kita perjuangkan? Sebenarnya mudah saja mengetahuinya, para ulama dan cendekiawan pun sudah memberikan penjelasan sedemikian rupa, sehingga kita bisa dengan mudah memahaminya.
Saya pribadi berpendapat, kemenangan yang layak diperjuangkan adalah kemenangan yang bisa mengantarkan kita pada keridhoan Allah Swt dan bisa memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Mengapa demikian? Sebagai manusia yang meyakini adanya hari pembalasan atau kehidupan akhirat, sepertinya akan sedikit ceroboh jika hanya berusaha untuk mencapai kemenangan duniawi saja, karena hal-hal duniawi hanya bersifat sementara dan sangat cepat sekali berlalu. Tentu kemenangan seperti ini bukanlah kemenangan yang menjadi prioritas.

Namun demikian, bukan berarti kemenangan-kemenangan duniawi tidak layak diperjuangkan. Justru sebaliknya, kita dianjurkan meraih kemenangan-kemenangan duniawi dengan catatan hal itu menjadi perantara kita menuju kemenangan akherat. Karena dunia adalah sarana kita menuju akhirat, dan karena dunia adalah arena perlombaan, maka pemenang sejatinya adalah  setelah arena perlombaan ini selesai, yaitu di akhirat nanti.

Allah berfirman dalam surah At-Taubah, ayat: 89 yang artinya:
“Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar.”

Bisa saja seseorang berhasil meraih kemenangan duniawi, akan tetapi belum tentu kemenangan duniawi itu bisa mengantarkan dia pada kemenangan akhirat.

Sebagai contoh, seseorang berhasil meraih gelar juara di bidang olahraga tertentu, akan tetapi jika dilakukan dengan cara curang atau tidak fair, tentu saja hal ini tidak akan mengantarkannya pada kemenangan sejati, karena curang adalah salah satu bentuk dari khianat, dan khianat sendiri adalah dilarang dalam Islam dan termasuk dalam perbuatan maksiat, maka konsekuensinya adalah perbuatan maksiat termasuk hal yang bertentangan dengan sesuatu yang mendatangkan keridhoan Tuhan.

Beberapa waktu lalu, baru saja kita berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya jutaan pintu rahmat dan kemenangan Ilahi dibuka, dan pada akhirnya kita memasuki bulan syawal, yang umat Islam memasukinya dalam keadaan suci dan meraih kemenangan dari hasil ujian ramadhan.

Ramadhan sendiri memberi sangat banyak pelajaran kepada kita, Ramadhan mengajarkan kita arti kemenangan sejati, dan salah satu pelajaran terbesarnya adalah puasa, puasa memiliki manfaat begitu besar baik dari segi rohani maupun jasmani. Orang yang berhasil melewati ujiannya akan mendapatkan kemenangan berupa takwa, yang bisa mengantarkan seseorang pada keridhoan ilahi.

Semoga apa yang telah kita perjuangkan di bulan Ramadhan kemarin efeknya bisa bertahan sampai Ramadhan selanjutnya, dan begitu seterusnya sampai kita menjadi juara sejati, yaitu orang-orang yang diridhoi oleh-Nya dan masuk ke dalam surga-Nya.

Penulis: Gugun Gumelar

Share :
Headline, Lingkar Inspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.