Sebuah Bingkisan Ilahi di Hari Fitri

Allahu akbar…. Allahu akbar…. Allahu akbar….
La ilaha illallahu wallahu akbar…. Allahu akbar wa lillahil hamd….

Bulan sabit di penghujung bulan suci Ramadan menampakkan diri, pertanda bulan suci telah pamit meninggalkan kita. Tak terasa Ramadan yang menemani kita selama satu bulan penuh dalam nuansa maknawi begitu luar biasa, telah pamit. Sajian ibadah yang terhidang begitu indah dan nikmat untuk dijalani bagi para hamba yang rindu bermunajat dengan Tuhannya.

Siang dan malamnya adalah momen berharga untuk menjalin komunikasi mesra dengan sang Khalik dalam bingkai rukuk, sujud serta kedua tangan yang terangkat sambil melantunkan doa-doa indah dan penuh makna, berharap lautan rahmat serta ampunanNya menyelimuti setiap langkah, napas dan seluruh aktifitas.

Kehadiran malam suci nan penuh berkah lailatul qadr sungguh meluluhkan jejiwa para pesuluk. Malam dengan julukannya sebagai malam penentuan yang lebih baik keutamaannya dari seribu bulan. Selama satu bulan penuh, kita berlatih mengontrol ambisi serta hawa nafsu. Berusaha mencegah segala yang diharamkan agar kita sadar bahwa sejatinya puasa itu merupakan perisai diri hingga untuk meraih ketakwaan.

Semua perjuangan yang dikerahkan dalam perang melawan diri serta menyantap segala jamuan maknwai yang telah Allah Swt suguhkan, terintisari keuatamaannya dalam satu hari yang Allah jadikan sebagai Hari Raya.

Ya, dia adalah hari raya Idul Fitri. Hari disaat seluruh umat Islam bergembira ria menyambut kehadirannya. Idul Fitri sejatinya adalah hari kemenangan atas segala perjuangan yang berhasil dilalui oleh setiap muslim dalam menjalankan ibadah selama satu bulan penuh dibulan suci Ramadan. Pada hari itu, Allah Swt menganugrahkan rahmat serta ampunan-Nya kepada seluruh hamba yang telah beribadah serta memohon ampuna-Nya. Beberapa hadits menyatakan bahwa hari Idul Fitri merupakan hari pembagian hadiah.

Hadiah itu Allah Swt karuniakan kepada seluruh hamba-Nya berupa rahmat, ampunan, keberkahan serta keutamaan lainnya.

Secara leksikal, Idul Fitri dapat kita pahami bahwa kata ied ( عيد ) bermakna kembali, sebuah kata yang berakar kata عاد يعود عيدا . Maka hari raya Idul Fitri berarti sebuah perayaan kembalinya kita kepada kesucian dari berbagai dosa setelah selama sebulan penuh kita merintih, meratap serta memohon ampunan kepada Allah Swt melalui sajian-sajian ibadah yang ditunaikan dibulan itu.

Setelah lulusnya kita dari pelatihan sekolah ruhani di bulan puasa, saatnya kita merayakan kelulusan tersebut dalam satu hari yang telah Allah Swt syariatkan sebagai hari raya. Harapannya, apa yang telah kita dapatkan dari pelajaran pelalajaran Ramadan dapat kita pertahankan dalam keseharian kita sebagai pembangunan individu-individu berkualitas hingga akhirnya dapat membangun sebuah komunitas social yang berkualitas.

Maka sudah seyogyanya kita mengekspresikan kebahagiaan atas segala capaian kemenangan yang telah diraih dan atas bingkisan ilahi yang telah dikaruniakan kepada kita.

Betapa indahnya ketika Nabi Saw menasehati hambanya untuk menghias hari ini dengan lantunan tahlil, takbir serta tahmid. Karena sesungguhnya lantunan-lantunan tersebut memang layak untuk di indahkan mengingat hari raya Idul Fitri sejatinya adalah buah dari perjalanan malakuti seorang mukmin selama satu bulan penuh dalam ketaatan kepada Allah Swt. Ketika seorang mukmin telah menyempurnakan perjalanan ruhnya melalui jihad melawan diri serta segala tantangan hawa nafsu, tentu seorang hamba telah meraih kemenangan, yaitu kesempurnaan jiwa. Maka semua ekspresi kemengangan itu akan tertuang dalam lantunan takbir, tahmid tahlil serta zikir zikir lainnya.

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib mensifati Idul Fitri untuk mereka yang berhak merayakannya, bagi mereka yang berhasil menempuh perjalanan ruhani secara sempurna melalui puasa serta ketaatan kepada Allah Swt.

Ya, Idul Fitri sepenuhnya ditentukan oleh kualitas ibadah puasa, karena kondisi fitri seseorang merupakan produk dari aktivitas puasa. Ibadah yang Allah Swt “pinta-Nya secara khusus dari hamba-hamba-Nya” ini memiliki makna yang tak terhingga, sesuai dengan dimensi nilai mana yang dikaitkan oleh pelakunya saat mengerjakan puasa. Dan jika puasa adalah pembinaan mental, melalui laku badaniyah , maka pengolahan intelektual dan spiritual adalah bentuk fitri manusia yang menjanjikan akses terhadap moralitas pribadi maupun moralitas sosial.

Imam Ali As berkata:
إنما هو عيد لمن قبل الله صيامه وشكر قيامه وكل يوم لا يعصى الله فيه فهو عيد
“Sesungguhnya ied (hari raya) itu hanya bagi orang yang Allah terima Puasa dan ibadahnya serta setiap hari yang didalamnya tidak bermaksiat kepada Allah adalah (sesungguhnya) hari raya”.

Tak ada salahnya kita mengenakan pakaian indah serta memakai wewangian pada hari raya ini. Karena, kebahagiaan di hari ini harus tercermin dalam segala aspek, materi serta maknawi.

Imam Jakfar as-Shadiq As berkata: ينبغي لمن خرج الى العيد ان يلبس احسن ثيابه ويتطيب بأحسن طيبه
Seyogyanya bagi seorang mukmin agar mengenakan pakaian terbaiknya di hari raya serta memakai wewangian terbaiknya pula”.

Lengkaplah sudah perayaan kebahagiaan ini dalam balutan hiasan lahir batin.

Untuk melengkapinya, tak lupa juga berkunjung kepada sanak famili serta tetangga, mengucapkan ucapan selamat kepada setiap muslim yang merupakan ritual silaturahim sekaligus untuk mengindahkan suasana hari raya. Sesungguhnya salah satu membangun kualtias sosial yang baik merupakan tujuan utama puasa. Maka ritual ini dapat mewujudkan indahmya hari raya idul fitri serta meraih bingkisan ilahi.

Nabi Saw bersabda: إذا كان أول يوم من شوال ناد مناد ايها المؤمنون أغدوا الى جوائزكم
Jika tiba hari pertama bulan syawal, ada yang menyeru “wahai orang-orang yang beriman pergi raihlah bingkisan bingkisan kalian”.

Untuk mendapatkankan hadiah, perlu hadirnya si-penerima. Maka jika tidak hadir, mungkin karena lalai serta tak fokus menjalani ibadah-ibadah di bulan puasa, maka bisa jadi ia tak mendapatkannya secara sempurna.

Untuk menggenapi hari kemenangan ini, kami ucapkan selamat bagi mereka yang telah menerima bingkisan Ilahi di hari yang fitri dan suci ini. Semoga berkah dan rahmat-Nya tetap menyelimuti dalam kehidupan kita. []

Penulis: Hunaifa ben Qari

Share :

583total visits,3visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.