Meneladani Jejak Kehidupan Imam Khomeini

Berbicara tentang Imam Khomeini tak ada habisnya. Sebab, tak sedikit pelajaran yang bisa kita serap darinya. Ia bagaikan samudera luas nan dalam, yang kaya akan makhluk lautnya, yang bisa kita susuri dan petik hikmah yang terpendam di dasar dirinya.

Ada hal-hal yang masih tertutupi, yang tak banyak orang tahu tentang dirinya. Mungkin, yang kita tahu tentangnya hanya “produk matangnya” saja: ulama besar sekaligus Bapak Revolusi Islam, yang kemudian namanya melejit ke seluruh jagat raya.

Ada hal-hal penting darinya, yang perlu di-share di tengah masyarakat umum. Bukan dari yang tampak, tapi hal penting yang penulis maksud itu adalah hal-hal yang tak tersorot publik. Hal-hal penting itu adalah tentang sisi lain dari kehidupannya, yang melatari namanya yang besar itu.

Nama lengkapnya adalah Sayid Ruhullah Mustafawi Musawi Khomeini (KTP: Sayid Ruhulla Mustafawi), lahir di kota Khomein, Provinsi Markazi, 24 September 1902, dan meninggal di Tehran pada 3 Juni 1989 pada umur 86 tahun. Ia kemudian dikenal dengan nama Imam Khomeini, seorang Marja taklid Syiah yang berpengaruh pada abad kontemporer. Ia menyatakan perlawanannya secara terbuka untuk menentang kedhaliman Syah Pahlevi pada tahun 1963.

Ayahandanya, Sayid Musthafa Musawi satu zaman dengan Ayatullah Mirza Syirazi, seorang terpelajar dari Najaf. Ayahandanya yang merupakan tempat rujukan dalam persoalan keagamaan, 5 bulan setelah kelahiran Imam Khomeini menemui kesyahidannya dalam berjuang melawan penguasa setempat yang zalim.

Sampai umur 15 tahun, ia diasuh oleh ibundanya, Hajarah Agha dan bibi tercintanya, Shahibah Khanum.

Pada tahun 1929 ia menikah dengan Banu Khadijah Tsaqafi Khomeini dan dikaruniai dua orang putra, Musthafa Khomeini dan Ahmad Khomeini serta tiga orang putri, Zahra, Faridah dan Sadiqeh.

Kehidupan dan Pendidikan

Pada tahun 1919, beliau pergi ke Hauzah Ilmiyah di Arak. Setelah hijrah, Imam Khomeini dan sejumlah muridnya mengikuti sang guru, Haji Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi pindah ke kota suci Qom.

Di Hauzah Ilmiyah Qom, selain belajar secara sempurna Kitab Muthawwal, ia menyelesaikan pelajaran sutuh (level tinggi pelajaran di Hauzah Ilmiah) dan Bahts al-Kharij (pelajaran tingkat tinggi Fikih) dan Ushul serta disiplin-disiplin ilmu lainnya. Ia juga mempelajari Arudh (parameter pembuatan syair) dan Qawafi (ilmu yang mengkaji tentang rima syair), Matematika, Astronomi dan Filsafat. Dibidang bidang Irfan Teoritis dan Praktis ia habiskan waktunya selama 6 tahun dari Ayatullah Agha Mirza Muhammad Ali Syah Abadi.

Guru utama Imam Khomeini dalam bidang Ilmu Fikih dan Ushul adalah pendiri Hauzah Ilmiyah Qom, Haji Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi.

Setelah meninggalnya Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi, Imam Khomeini dan beberapa mujtahid bertindak sebagai pemimpin Hauzah Ilmiah Qom. Pada masa itu, Imam Khomeini dikenal sebagai bagian dari staf pengajar dan seorang mujtahid yang memiliki kewenangan untuk melontarkan pandangannya dalam hal Fikih, Ushul, Filsafat, Irfan dan Akhlak. Di antara guru-gurunya adalah sebagai berikut:

  • Syaikh Abdul Karim Yazdi, pendiri Hauzah Ilmiyah Qom
  • Muhammad Ridha Masjid Syahi Isfahani, pengarang Wiqayah al-Adzhan
  • Mirza Muhammad Ali Syah Abadi
  • Sayid Abul Hasan Rafi’i Qazwini
  • Mirza Jawad Maliki Tabrizi
  • Sayid Ali Yatsribi Kasyani
  • Sayid Muhammad Taqi Khansari
  • Mirza Ali Akbar Hikami Yazdi
  • Mirza Muhammad Ali Tehrani.

Kehidupan dan Sosial

Imam Khomeini adalah orang besar, tapi hidupnya tak seperti raja, rumahnya juga tak seperti istana. Ia hidup bagai rakyat biasa, di sebuah rumah kecil yang diapit beberapa gang untuk menujunya. Kehidupannya yang bersahaja itu, secara tersirat menjadi sebuah nasihat bagi siapa saja yang hendak meneladaninya.

Saking banyaknya kisah hidupnya yang penuh hikmah itu, kita hanya mampu mencatat beberapa kisah hidupnya yang dirasa perlu dan penting untuk kita diteladani bersama, meski sejatinya semua jejak hidupnya layak untuk kita baca dan teladani.

Dua Puluh Menit Menunggu Muridnya yang Tak Kunjung Datang

Soal keilmuannya, tak bisa kita ragukan lagi. Berkat ilmu yang dipelajarinya, ia menjadi orang besar, bahkan menggetarkan orang-orang yang hendak menjegal langkahnya saat melawan rezim Syah. Selain dikenal ulama besar, ia juga dikenal sebagai guru yang disiplin.

Pernah suatu hari, ia datang ke sebuah masjid tempat ia mengajar. Ia selalu memulai pelajaran jam sepuluh pagi. Nah, suatu ketika ada sebagian muridnya tidak hadir, dikarenakan hari itu hari ‘kejepeit’ sebuah hari di antara dua libur.

Selama dua puluh menit sang imam menunggu muridnya yang belum datang itu, barang kali mereka datang. Hingga akhirnya, para murid itu datang dan mulailah mereka belajar. Dari situlah, Sang Imam merobek kebiasaan lama itu: libur di antara dua hari libur.

Sebagai informasi, sampai saat ini, pondok pesantren di Iran (Hauzah Ilmiah) ketika menghadapi hari kejepit itu, pantang rasanya untuk libur. Mereka tetap masuk ke kalas-kelas untuk menyerap ilmu dari para guru.

Perhatian pada Hak-hak Orang Lain

Semasa diasingkan di Irak, Imam Khomeini sering menjadi Imam shalat harian. Ketika menjadi Imam shalat, tak sedikit para jamaah yang ingin menjadi makmumnya. Tak heran, tiap kali ia menjadi imam, para jemaah pasti meluber sampai ke luar halaman masjid. Mereka yang berada di luar masjid pun rela menjadikan surbannya sebagai alas yang digelar di atas tanah untuk shalat agar bisa menjadi makmum sang Imam.

Menariknya adalah, setelah imam menyelesaikan shalat berserta wiridannya, ia keluar dari masjid untuk kembali ke rumah atau kembali mengajar. Nah, di saat keluar dari masjid itu, sebisa mungkin ia tak menginjakkan kakinya di atas sorban para jemaah yang dibentangkan di halaman masjid; juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak menginjak sendal milik para jemaah yang ada di sana.

Itu semua Imam lakukan, karena bagaimanapun mereka punya hak, apa yang dimilikinya tak boleh diinjak-injak. Bila diinjak, maka akan merampas hak mereka sebagai pemilik sorban dan sendal itu.

Hadiah untuk Sang Imam

Sebagai orang besar dan dihormati banyak orang, Imam Khomeini sering mendapatkan hadiah dari orang-orang yang mencintainya sebagai ulama yang telah membuka jalan kebenaran buat mereka. Tak tanggung-tanggung, hadiah yang diberikan ke Imam pun sungguh besar, baik berupa uang, emas dan lain-lain.

Namun, hadiah-hadiah itu tak ia simpan sendiri. Bahkan setiap hadiah yang ia terima, ia berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Kalau membicarakan soal harta yang dimilikanya, tentu sangat banyak. Tapi, semua itu ia kembalikan ke kepada yang berhak. Puncaknya, Imam sudah ‘selesai’ dengan perkara harta. Harta bukan tujuan hidupnya.

Rumah Kontrakan

Sekelas Imam Khomeni tentu sangat mampu membeli rumah. Jangankan rumah, istana pun mampu ia beli. Tapi, sang imam memilih jalan kesahajaan dalam meniti hidup. Banyak yang tak tahu, sosok besar Imam Khomeini sering mengontrak rumah sabagai tempat tinggalnya. Itulah Imam, orang besar di dunia yang tinggal di sebuah rumah kecil juga kontrakan. Sederhana sekaligus zuhud.

Sosok Pemaaf

Meski dihormati dan disegani oleh masyarakat Iran bahkan dunia, tak sedikit orang-orang yang berbuat buruk pada Imam, entah hanya lewat gosip maupun teror yang intinya ingin mengucilkan sang Imam. Meski begitu, orang-orang yang sebelumnya membencinya itu, setelah mereka sadar, mereka meminta maaf kepada sang Imam.

Sebagai orang yang punya makrifat tinggi dan dekat dengan Allah, Imam pun, tanpa syarat, memaafkan kesalahan mereka yang telah bersalah kepada Imam.

Haul Imam Khomeini

Imam Khomeini meninggal dunia pada 3 Juni 1989 sore hari akibat kanker di Rumah Sakit Jantung Rajai Tehran. Pada 5 Juni acara perpisahan dengan jenazah Sang Imam dilaksanakan di Mushallah Buzurgh Tehran, dan dikuburkan di Pekuburan Behesyti Zahra.

Di Iran, hari wafat Imam Khomeini dikenang sebagai Libur Nasional dan berbagai acara digelar untuk mengenang hari wafatnya.

Tak berbeda dengan tradisi memperingati wafatnya orang-orang besar seperti tradisi di kalangan Ahlu Sunah Waljamaah, Haul Imam Khomeini kali ini juga diperingati oleh muslimin di seluruh dunia, termasuk Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran yang akan digelar Selasa petang pada 4 Juni 2019 di Sekretariat HPI Iran.

Imam Khomeini adalah sosok yang teguh mempertahankan pendiriannya. Imam Khomeini adalah sosok pemimpin sejati yang hingga wafatnya menjalani hidup sederhana dan tidak ada gemerlap harta yang diwariskan ke anak cucunya. Ila ruhi Imam Khomeini, al-fatihah! []

Penulis: Ali Ridho

Share :

267total visits,3visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.