Spirit Yaumul Quds al-Alami Dalam Perspektif al-Quran

“Saya meminta seluruh umat Islam dunia untuk menjadikan hari Jumat terakhir bulan Ramadhan – yang termasuk malam-malam Lailatul Qadar dan juga dapat menjadi penentu nasib bangsa Palestina – sebagai Hari Quds dan mengumumkan solidaritas internasional umat Islam dalam mendukung hak-hak legal bangsa Palestina. Saya berdoa semoga kaum Muslimin mencapai kemenangan atas orang kafir.”  (Imam Khomeini)

Demikianlah salah satu kutipan orasi bersejarah Imam Khomeini dalam menyikapi maraknya penindasan serta penjajahan yang dilancarkan rezim Zionis terhadap bangsa Palestina di tanah suci al-Quds. Tanah suci itu direbut dan diduduki secara ilegal oleh Zionis yang didatangkan dari Eropa untuk menyerobot tanah-tanah Palestina. 

Kini hari Jumat di setiap akhir bulan Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Islam diseluruh dunia untuk bersatu padu menyuarakan dukungan penuh kepada rakyat Palestina agar tetap dapat berdiri kokoh melawan segala bentuk penindasan.

Semangat yang dikobarkan oleh Imam Khomeini itu berangkat dari keimanan dan rasa solidaritas kemanusiaan serta persaudaraan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa. Sebuah hari kemerdekaan dan pembebasan untuk kaum tertindas dari cenkeraman kaum penindas demi terciptanya perdamaian serta keadilan yang merata bagi semesta.

Imam Khomeini ingin menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kedamaian, solidaritas serta keadilan, karena sejatinya Islam meyakini bahwa bumi akan diwariskan kepada seorang pemimpin yang adil yang membawa umat manusia kepada kesejahteraan yang nyata. Maka, demonstrasi Pembebasan al-Quds adalah sebuah upaya membangun fondasi perdamaian, keadilan serta perlawanan nyata terhadap mustakbirin yang dengan semena-mena menyakiti kaum mustadafin.

Semangat yang berkobar dalam longmarch di Yaumul Quds semata-mata adalah sebuah uapaya pembelaan terhadap bangsa Palestina untuk merealisasikan pesan suci Islam yang sejak dulu menjadi misi para utusan Allah, menegakkan keadilan.

Mengingat pentingnya hal ini, kita mencoba menelaah pesan-pesan al-Quran dalam mendukung serta menyemangati kaum muslimin untuk berdiri tegak dalam mewujudkan hajat tahunan Yaumul Quds Sedunia.

Nampak jelas, bahwa motivasi utama para pendatang Israel adalah merampas tanah milik bangsa Palestina. Cara seperti ini tentu merupakan cara ilegal yang dari sudut pandang moral dan sosial tercela dan Islam mengutuk bentuk apapun tindakan seperti itu. Akibatnya kerusakan kerusakan di bumi Palestina harus ditelan pahit oleh bangsanya sendiri akibat ulah tindakan tersebut. Oleh karena itu al-Quran dengan lugas menyampaikan pesan penting kepada umat manusia agar jangan melakukan perusakan di muka bumi.

“…Dan janganlah berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qasas: 77).

Karena sesungguhnya berbuat kerusakan di muka bumi hanya akan mengantarkan manusia kepada kerugian sebagaimana yang dikutip jelas dalam ayat al-Quran.

“(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Baqarah : 27).

Dan jika kita menghidupkan fitrah serta akal kita mestinya segala tindakan yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian sudah mesti dihindari bahkan berbagai upaya pencegahan harus dilakukan.

Yahudi-Zionis memang sejak zaman dahulu adalah biang segala kerusakan di bumi sebagaimana al-Quran banyak menceritakan tentang ulah mereka. Dalam menghadapinya Allah berkali-kali mengutus para rasul untuk membendung segala upaya kerusakan yang telah dilakukan mereka. Saat ini kerusakan itu kembali diupayakan oleh mereka dengan melancarkan serangan serta pendudukan kepada bangsa Palestina.

Maka sebagai lawannya, kaum muslimin harus bangkit menjadi agen perdamaian serta keadilan dan menghidupkan kembali perjuangan para utusan Allah hingga kita bisa dengan yakin bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada kita, sebagaimana memberikannya kepada para utusan-Nya karena sedang berada  di garis perjuangan mereka.

Tidak ada ruang bagi musuh Islam serta kemanusiaan untuk tetap eksis menampakkan kesombongannya dengan bertindak semena-mena kepada sesama manusia. Semua kembali kepada umat Islam bagaimana harus membangkitkan spirit perlawanan dengan cara apapun.

Seruan Imam Khomeini memberikan pesan jelas kepada kita bahwa partisipasi umat Islam dalam menumbuhkan semangat membela bangsa tertindas Palestina menjadi tujuan utama aksi solidaritas ini. Setidaknya berkumpulnya umat Islam dunia akan memberikan rasa gentar serta membangkitkan amarah musuh yaitu Zionis bahwa sejatinya Islam anti tunduk kepada sebuah kehinaan. Sungguh Allah swt tak akan menyia-nyiakan upaya seperti ini sebagaimana al-Quran  menyatakannya dengan jelas.

“…. Dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia nyiakan pahala orang orang yang berbuat bajik. Dan tidaklah mereka memberikan infak, baik yang kecil maupun yang besar dan tidak (pula) melintasi suatu lembah (berjihad), kecuali akan dituliskan bagi mereka (sebagai amal kebajikan) untuk diberi balasan oleh Allah (dengan) sebaik baiknya apa yang telah mereka kerjakan”(QS. at-Taubah : 120-121).

Konteks ayat ini memang menceritakan masa-masa perang Nabi Saw degan para kafir di zamannya, namun pesan al-Quran  itu universal dan siapapun dapat mengilhami pesan-pesan tersebut.

Sedikit kita menelaah kutipan ayat tersebut agar kita terapkan dengan konteks momen Yaumul Quds. Kutipan ayat ini menyatakan bahwa siapapun memberikan andil dalam sebuah perlawanan terhadap musuh baik itu berada di medan perang, ataupun berkumpul disuatu tempat menyuarakan serta mendukung aksi aksi perlawanan berupa dukungan moril dan materil, seruan boikot dan lain sebagainya yang pada akhirnya membangkitkan amarah musuh bahkan membuatnya gentar maka sejatinya Allah telah menulis ganjaran aksi tersebut di catatan amlannya sebagai balasan dari segala lelah serta kesulitan yang dialami dijalan perjuangan tersebut.

“….untuk diberi balasan oleh Allah (dengan) sebaik baiknya atas apa yang mereka kerjakan.”

Kita dapati dalam ayat tersebut bahwa Allah mensifati apa yang mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya amal. Sebuah pesan tersirat dari kutipan ayat tersebut, bahwa apa yang dilakukan oleh para mujahidin yaitu siapaun yang ikut andil dalam perjuangan melawan musuh dan dalam bentuk apapun adalah sebaik baiknya amal disisi Allah sepanjang hidup mereka dan tentu Allah akan mengganjar sesuai amalnya.

Setiap langkah, teriakkan serta jiwa yang ikut serta dalam memeriahkan aksi perlawanan dalam demontstrasi al-Quds sungguh tidak akan hilang begitu saja. Dia akan abadi sebagai amal kebajikan tanpa ditambah ataupun dikurangi.

Dan sesungguhnya Allah Swt akan memberikan kebaikan sebagai balasannya (mengingat bahwa aksi ini merupakan sebaik-baiknya amal) dari lautan rahmat-Nya yang tak terbatas dengan selayak-layaknya. Semoga kita dapat senantiasa menghidupkan ruh perjuangan ini untuk kebaikan kita dan masa depan umat manusia. Salam al-Quds!!!

Penulis: Hunaifa ben Qari

Share :
Headline, Intelektual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.