Lailatul Qadr; “Pesta Penentuan” Awal Tahun Bagi Semesta

Tanggal 23 Ramadhan adalah “pesta penentuan” awal tahun baru bagi kehidupan setiap manusia, bagi setiap pemeluk agama, dan bahkan bagi mereka yang tidak beriman, ateis maupun agnostik. Lailatul Qadr adalah “penentuan” awal tahun perjalanan semesta alam. Jelas, 23 Ramadhan bukan pesta awal tahun baru kalender, namun, malam 23 Ramadhan adalah puncak pesta penentuan Qadr semesta alam dari malam-malam Lailatul Qadr.

Ini berarti, Lailatul Qadr adalah malam penggugah kesadaran sosial manusia untuk menghidupkan kembali berbagai aktivitas terpuji, mendirikan sholat, menyelami ayat-ayat suci al-Quran dan berdialog dengan Allah Swt untuk kebaikan keluarga, teman, masyarakat dan alam. Atau sebaliknya, malam-malam Lailatul Qadr justru menjadi awal pesta penentuan untuk tetap tenggelam dalam kesadaran genangan nista.

Namun, Malam Lailatul Qadr bukanlah penentuan baku yang tidak bisa berubah, karena Allah Yang Maha Besar, Maha Penyayang memiliki Kekuatan Tak Terbatas yang mampu membuat perubahan keputusan disaat kita bertobat kapan saja dan bertekad memperbarui secara tulus dan memohon ampun kepada-Nya. Demikian pula sebaliknya, mereka yang terus hanyut dalam genangan dosa akan menerima kesengsaraan ilahi tahunan sebagai bentuk ujian tingkat keimanan dan rasa syukur.

Mungkin para skeptis akan bertanya: “Apa manfaat menghidupan malam-malam Lailatul Qadr dari sisi kehidupan pribadi dan sosial?”

Jawabannya jelas, berkat masyarakatnya menghidupkan malam-malam Lailatul Qadr, empat puluh tahun revolusi Islam dengan capaian kemajuan spektakuler di hampir semua bidang, terlepas dari semua plot dan sanksi, adalah bukti kuat Rahmat Allah Swt yang terus menaungi Republik Islam. Kecerdasan penelitian ilmiah, kemampuan pertahanan, dan pertumbuhan pengaruh budaya-politiknya, benar-benar membuat musuh gagal total dan secara keliru berpikir semua plot dan sanksi dapat membuat Iran tertunduk dan bersujud.

Kekuatan penentu lain dari “Lailatul Qadr” adalah kelompok kecil Hizbullah Lebanon yang memaksa penjajah Zionis mundur terhina dari Lebanon Selatan dan Jalur Gaza disaat Zionis pada tahun 1967 mampu menundukkan kekuatan gabungan pasukan empat negara Arab dalam tempo enam hari.

Kekuatan penentu “lailatul Qadr” juga menanamkan kepercayaan tinggi kepada gerakan Ansarallah yang mampu mengandaskan upaya Wahabi meluluhkan Yaman, mengilhami Suriah dan Irak yang mengusir geng-geng takfiri dukungan Saudi Arabia dari kedua negara.

“Inna anzalnahu fi lailatil qadr, wa ma adrakka ma lailatul qadr. Lailatul Qadri khoirun min alfi syahrin”.

Dari sisi pribadi, ayat tersebut Allah Swt berbicara mengenai turunnya al-Quran pada malam Lailatul Qadr, bukan Lailatul Qadr diturunkan oleh Allah Swt, sehingga kita menanti-nantikan kedatangannya, apalagi sampai membayangkan, Lailatul Qadr adalah rezeki yang diturunkan dari langit berupa materi dan duniawi semata. Kapan saja kita merasakan dan menemukan al-Quran dalam jiwa kita, dalam ruh kehidupan sosial kita, pasti yang mengantarkannya adalah “tanazzalul malaikatu war-ruhu fiha“, para malaikat dan ruh yang menaburkan qadr-Nya Allah Swt kepada kita, “hatta mathlail fajr“.

Sekalipun Lailatul Qadr itu kita maknai sebagai turunnya rezeki dunia berupa materi, yang baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga, keajaiban bagi bangsa dan negara, atau kekayaan harta benda, maka itu semua terkandung di dalam informasi nilai al-Quran yang diturunkan pada Malam Lailatul Qadr.

Lalu, adakah malam seribu bulan yang sebanding dengan nilai al-Quran?

Andai saja kekayaan dunia itu begitu pentingnya bagi kehidupan manusia, maka masukilah al-Quran, selami dan seraplah, hiruplah ilmunya, terapkan nilai-nilai al-Quran dalam kehidupan sosial untuk mencerdaskan dunia agar tergali kekayaannya yang tak terbatas.

Tidak ada rahmat dan berkah Allah Swt yang tidak senilai Lailatul Qadr. Kita yang masih bisa bersujud, mulut kita yang masih berucap syukur, kaki kita yang masih bisa berjalan, keseharian kita yang tak sampai kelaparan. Semuanya, apa saja, alam yang menghampar, matahari yang setia terbit, rembulan yang memayungi, tenggorokan kita yang masih bisa menelan makanan dan mereguk minuman, semua itu patut disyukuri sebagai Lailatul Qadr.

Mari kita bersujud kepada-Nya, mari kita mendekap al-Quran-Nya, yang jauh lebih mahal dan mulia dibandingkan seluruh kekayaan dan isi dunia. []

Penulis: Ben Turkan

Share :

227total visits,3visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.