Ali bin Abi Thalib dan Terkuburnya Keadilan

Tanggal 21 Ramadhan kemarin adalah hari peringatan 1400 kesyahidan Imam Ali bin Abi Thalib as sekaligus tonggak sejarah terkuburnya model pemerintahan berkeadilan sosial berdasarkan nilai ilahiah di dunia. Tanggal 21 Ramadhan, adalah hari syahidnya Imam Ali as yang merupakan simbol pemimpin keadilan sekaligus barometer pembeda antara nilai keimanan dan kemunafikan. Sementara Ibnu Muljam, sang pembunuh adalah simbol perpecahan dan pengingat umat manusia akan bahaya ekstremisme berkedok agama.

Kepribadian Imam Ali as yang tak tertandingi adalah cermin dari semua atribut nilai-nilai Ilahiah. Dia tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan aksi kekerasan atau tindakan diskriminatif, meskipun fakta menunjukkan, kekuatan fisik dan ruh yang dimilikinya tidak ada yang meragukannya. Karena sifat-sifat agung ini, kemudian menjadi salah satu alasan mengapa begitu banyak kaum Yahudi, musyrik Arab, ateis, Kristen, Zoroaster, dan lainnya, secara sukarela memeluk kebenaran Islam ketika berdialog dan bertatap muka dengan Imam Ali as.

Ibnu al-Hadid di dalam Syarah Nahjul Balaghah mengatakan, “Kemampuan fisik Imam Ali bin Abi Thalib, perlambang ksatria. Dialah penakluk benteng Khaibar, disaat sekelompok orang gagal mengangkatnya”. Imam Ali bin Abi Thalib yang mampu menurunkan berhala raksasa Hubal dari atas Kabah dan melemparkannya ke bawah.

Khutbah-khutbahnya sempurna, fasih dan balaghah senantiasa hidup dan memberi spirit kehidupan untuk manusia di setiap zaman. Khutbah-khutbahnya adalah cermin intisari nilai kebijaksanaan ruh sang Imam. Tak heran jika banyak pengikut Isa al-Masih, seperti Abdul Masih al-Antaki, Henry Corbin, Thomas Carlael, dan George Jordac, terpana dengan muatan nilai kemanusiaan saat menelaah setiap untaian-untaian khutbah Imam Ali as.

Demi persatuan, Imam Ali as tidak pernah menaruh dendam terhadap Ibnu Muljam yang telah menebaskan pedang di kepala sucinya. Semasa hidup, Imam Ali as senantiasa membantu para pemimpin sebelumya setiap kali diminta nasihatnya dalam banyak hal penting, termasuk cara mengelola roda pemerintahan.

Suratnya kepada Malik al-Asytar (عهد الإمام علي عليه السلام إلى مالك الأشتر), gubernurnya di Mesir yang saat itu mayoritas penduduknya beragama Kristen adalah bukti keadilan Imam Ali as. Isi surat itu berbicara bagaimana seorang pemimpin dan pejabat pemerintahan bersikap dan memperlakukan setiap warganya, baik dengan muslim maupun non-muslim. Tugas utama pemerintahan dan kewajiban negara adalah memakmurkan, memajukan masyarakat dan memperlakukan penduduk dengan penuh keadilan tanpa membeda-bedakan etnis, suku dan agama.

Saatnya kita bertanya, berapa banyak para penguasa negara-negara Muslim yang mau mengikuti instruksi dari “Manusia Luar Biasa” ini dalam mengatur tanah yang mereka kuasai?!

Jika saja masih ada rasa keadilan di antara para penguasa negara-negara Muslim saat ini; maka Suriah dan Irak tidak akan pernah dilantakkan oleh geng-geng Takfiri berkedok Islam. Maka Yaman akan terhindar dari badai terorisme negara keluarga Bani Saud. Maka orang-orang Bahrain tidak akan pernah dirampas hak kelahirannya. Maka pencaplokan Palestina oleh Zionis tidak akan pernah menjadi pertanyaan kronis. Maka sekitar sepuluh juta orang di Nigeria tidak akan pernah didiskriminasi hanya karena mengikuti ajaran Nabi dan Ahlul Baitnya. Maka, Afghanistan tidak akan pernah menyerah pada belas kasih Amerika Serikat. Dan, Muslim Rohingya tidak akan pernah mengalami genosida.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Wahai Dzat Yang Maga Agung! Wahai Tuhan Ali bin Abi Thalib, demi Ali bin Abi Thalib, berikan rasa lezat keadilan kepada umat manusia![]

Penulis: Ben Turkan

Share :
Headline, Intelektual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.