Seminar Pendidikan Internasional di Iran: Antara Harapan dan Pengabdian

Agama dan sains dari berbagai aspek kehidupan manusia, bahkan alam secara keseluruhan, tidak dapat dipisahkan. Keduanya dari sisi objek sama-sama berangkat dari Tuhan, sehingga melihat keduanya harus melihat bagaimana kita melihat al-Quran,” demikian pernyataan Muhammad Iqbal Lubis kandidat Doktor Ilmu Tafsir al-Quran dalam Seminar Pendidikan kerjasama antar KBRI Tehran dan Universitas Internasional al-Mustafa Iran, pada Kamis, 02/05/19, di Qom.

Menurut Iqbal, pemisahan sains dan agama adalah produk dari citra sains dan agama yang salah. Karenanya, epistemologi intelektual dan pengetahuan ilmiah (empiris) tidak berada di luar yurisprudensi epistemologi agama dan tidak pernah kontras dengan agama. “Intelektualitas dan sains sepenuhnya bersifat religius dan tidak ada yang namanya sains sekuler yang terpisah dari agama”.

Karena itu penting melihat kembali ilmu agama sebagai sebuah sistem epistemik mengenai alam, dan studi fondasi filosofis sains serta prinsip-prinsip teologi yang merupakan langkah pertama menuju pembentukan sains religius.

Namun demikian, Iqbal juga tidak memungkiri adanya perbedaan pandangan dan kontradiksi antara istilah ilmu agama dalam komunitas ilmiah yang masuk dalam sistem pendidikan kita, termasuk di Indonesia.

Seminar bertema, “Melacak Relasi antara Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Pendidikan Kewarganegaraan: Pengalaman Indonesia dan Iran” yang diprakarsai oleh Ikatan Pelajar Indonesia itu dibuka oleh Bapak Octavino Alimudin, Dubes RI untuk Iran merangkap Turkmenistan sebagai keynote speaker.

Dalam sebuah pernyataan, Dubes mengatakan, pendidikan agama di Indonesia sudah diajarkan sebelum masuk Sekolah Dasar. Hal itu menuurtnya diaplikasikan dengan banyaknya sekolah-sekolah diniyah yang mengajarkan keagamaan, terutama Islam.

Hadir dalam seminar guru besar universitas UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Kasjim Salenda, MA yang tampil sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Syarifuddin Ondeng, MA dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Dr. H. Basihannor, MA sebagai nara sumber.

Hadir pula wakil Rektor Universitas Internasional al-Mustafa Hujjatul Islam, Majid Khaliqpur sebagai keynote speaker dan Deputi Hubungan Internasional Seminari IslamHujjatul Islam wal muslimin, Sayid Mufid Husaini Kuhsari sebagai pembicara utama dan perwakilan pelajar Indonesia di Iran, Muhammad Iqbal Lubis kandidat Doktor Ilmu Tafsir al-Quran.

Seminar yang dihadiri oleh pengajar dan ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di sekitar Qom ini adalah salah satu kegiatan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan oleh Indonesia serta bertepatan dengan Hari Guru di Iran.

Hari yang diperingati kedua negara tersebut dianggap sebagai momen tepat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman kedua negara di bidang pendidikan.

Dalam sebuah diskusi tidak resmi yang diadakan oleh beberapa anggota Himpunan Pelajar Indonesia menyimpulkan bahwa, sistem pendidikan kita sebenarnya muara, bangunan dan pondasinya sudah jelas, komplit dan terukur.

Pondasi kehidupan bangsa Indonesia berlandaskan pada falsafah yang terbentuk dari Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. 1. Ing Ngarso Sung Tulodo, 2. Ing Madya Mangun Karsa, dan 3. Tut Wuri Handayani.

Ketiga Trilogi ini harus dimaknai sebagai nilai yang harus dimiliki seorang pemimpin bangsa bahkan semua orang untuk menjadi panutan, teladan dan “pembimbing” sekaligus, tidak boleh dipisahkan. Bangunan moral dalam trilogi ini sangat dibutuhkan semua untuk menumbuh kembangkan motivasi dan semangat, tidak putus asa dan patah semangat.

Kemudian implementasi nilai luhur tentang kehidupan kita yang berangkat dari ketiga trilogi diatas adalah membumikan konsep Trirahayu. Memayu hayuning sarira, Memayu hayuning bangsa dan Memayu hanuning bawana. Artinya, apapun yang diperbuat oleh seseorang hendaknya bermanfat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya dan bermanfaat bagi manusia secara keseluruhan.

Sebagai penjagaannya, Ki Hajar Dewantara juga membuat konsep Tripantang. Yakni, tiga pantangan bagi siapa saja, pantangan terhadap penumpukan harta, pantangan terhadap praja (kedudukan, penyelenggaraan pemerintah), dan wanita.

Dari konsep-konsep diatas, Ki Hajar Dewantara jauh-jauh hari sudah merumuskan kerangka dasar pendidikan dan tata kelolanya dengan nafas dan semangat, religius, nasional, sekaligus kultural. Kerangka tersebut bisa kita baca dari jejak tulisannya yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka – I. Pendidikan dan Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka – II. Kebudayaan.

Sebagai rekomendasi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita adalah untuk kembali mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara, memproyeksikan dalam konteks dan mentransformasikannya untuk menyusun langkah-langkah dan program-program pendidikan dimasa depan.

Sekarang ini anak-anak didik yang duduk di bangku sekolah masih memiliki potensi besar, Kemendikbud dengan segenap program dan proyeksinya harus mengaktualisasikan potensi anak didik sehingga mampu mengaktualisasikan potensinya menjadi prestasi semangat pengadian, tentu saja melalui guru-guru yang mengajar di sekolah sebagai abdi.

Seluruh konsep-konsep pendidikan seperti apapun selama tidak bermuara pada pengabdian, maka tidak akan bermakna. Karena memang, tidak ada secuil pun waktu dalam hidup ini tanpa pengabdian.

Di dalam al-Quran sudah jelas, Allah berfirman, wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liyabuduun. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Sangat terang dan mudah dipahami dari ayat tersebut bahwa hidup kita sebagai manusia tugas utamanya adalah mengabdi kepada Allah Swt. Aktualisasi potensi diri manusia seumur hidup, sepanjang hayat, semestinya selalu berpedoman pada konsep pengabdian kepada Allah Swt melalui pendidikan. [HPI/Tiw]

Share :
Events, Headline

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.