30 Menit Mencicipi Kematian

Seminggu yang lalu, penulis mengunjungi sebuah gedung studio yang di dalamnya ada beberapa pertunjukkan tentang perjalanan manusia, dari awal lahir hingga menjumpai ajal. Pertunjukan itu diputar lewat beberapa layar lebar, yang diputar di tempat yang terpisah-pisah, namun masih dalam satu studio.

Di dalamnya, cahaya tampak temaram. Hanya ada beberapa lampu kecil warna-warni. Semata-mata keberadaan lampu-lampu kecil itu dimaksudkan untuk menemani langkah kaki para pengunjung untuk memutari studio itu. Selain gelap, ada suara-suara yang menyeramkan macam di film-film horor.

Di dalamnya, kita benar-benar dirasai tentang gambaran setelah manusia meregang nyawa. Terutama tentang perjalanan seseorang setelah melewati fase kematian.

Lewat pertunjukan film pendek yang memutar perjalanan manusia itu, tentu bikin hati makin berdebar. Penulis yakin, siapapun yang ada di dalamnya, pasti punya perasaan yang sama: ingin menjadi pribadi yang taat dan selalu mengerjakan perintah-perintah-Nya.

Bagaimana tidak, film-film itu menunjukkan tentang sebab dan akibat dari perbuatan baik dan buruknya manusia. Artinya, siapa yang selalu mengerjakan amal-amal baik, tentu akan diganjar dengan surga, sedang ia yang selalu melanggar perintah-Nya, neraka bakal menunggunya kelak.

Menurut penulis, tempat yang paling menyeramkan, dan bikin hati tak hanya berdebar, bahkan nyaris pecah, adalah ketika penulis dan pengunjung lainnya memasuki sebuah lubang, yang sengaja dibikin setamsil liang lahat. Sebelum memasuki lubang itu, awalnya sempat takut dan deg-deggan, tapi penulis tetap memasukinya berbekal rasa takut itu.

Begitu masuk di dalamnya, tak ada satu pun penerang ruangan, layaknya di ruangan sebelumnya. Di tempat itu benar-benar gelap gulita. Selain itu, tempat itu juga sangat sempit, tapi, penulis bersyukur, pihak pengelola sengaja mengalirkan udara di tempat semacam terowongan yang sempit itu, sehingga penulis dan para pengunjung yang lain bisa leluasa menghirup napas. Hingga akhirnya, kami keluar dari sana dan sampai di tempat yang lain.

Meski begitu, bagi penulis, tempat itu yang paling menyeramkan. Secara tersirat, tempat itu dibuat untuk menyadarkan, bahwa begitulah kira-kira kegelapan dan semptinya liang lahat. Jika saja, tempat itu, yang hanya replika alam kubur, yang dibuat manusia begitu menyeramkan, apalagi nanti, ketika kita benar-benar dihadapkan dengan kematian yang nyata dan kita ditandu, lalu direbahkan di dalam kubur, dan diuruk tanah sungguhan, tentu kita tak bisa membayangkan itu.

Tak terasa, saat itu, selama tiga puluh menit penulis diajak memutari di dalam studio itu, untuk sedikit mencicipi kematian dan perjalanan panjang alam baka. Lewat tulisan sederhana ini, penulis hanya pengin berbagi kisah pengalaman dan renungan, juga refleksi buat kita semua, bahwa setiap yang bernyawa bakal mati.

Namun, pada kenyataanya, kadang sebagian manusia terlalu sibuk dengan urusan dunianya, yang menggilasnya tiap hari, sampai ia lupa bahwa sejatinya, setiap yang masih diberi napas di dunia ini, sedang mengatre, menunggu giliran untuk kembali ke Si empunya jagat raya ini.

Tak ada yang tahu nasib kita kelak. Semua nasib baik atau buruk kelak, itu bergantung langkah kita di dunia ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, dan semoga, kita juga tergolong orang-orang yang terpilih untuk mendapat syafaat orang-orang terkasih di sisi Allah Swt. Amin.

Penulis: Ali Ridho

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.