Masa Depan Cerah di Tangan Para Pemuda

Saya habis membaca maklumat kebangsaan Imam Ali Khamenei kepada seluruh bangsa Iran, khususnya kepada para pemuda. Maklumat ini diberi judul, “Langkah Kedua Revolusi”. Maklumat ini dikeluarkan dalam rangka memperingati 40 tahun revolusi islam Iran.

Membaca secara saksama maklumat lugas, penuh harapan, serta objektif tentang revolusi, membuat saya semakin mengagumi sosok yang sejak beberapa tahun lalu saya panggil “Imam”, pemimpin.

Sebagai anak muda, saya mengagumi beberapa tokoh. Dari tokoh fiksi, sejarah, hingga yang masih hidup. Dari Sherlock Holmes, Dominic Toretto, Danzel Washington dalam semua film yang pernah saya tonton, Keanu Reaves dalam kehidupan pribadinya dan dalam film John Wick, hingga Bung Karno, Che Guavara, Paulo Coelho, sampai Ibu Retno Marsudi. Tapi di atas mereka semua, nama Imam Ali Khamenei-lah yang memiliki tempat khusus di hati dan doa.

Tentu banyak sekali hal yang bisa dibicarakan dari sosok agung ini atau dari maklumatnya. Namun, dari semuanya, saya sangat terpukau dengan keyakinan dan harapan -yang dalam bahasa beliau, kepercayaan yang jujur dan bersumber dari realita- yang beliau percayakan ke pundak para pemuda.

Optimisme beliau dan rasa percaya terhadap masa depan nan cerah yang akan dipersembahkan oleh para pemuda senantiasa beliau utarakan di berbagai kesempatan. Beliau percaya, dan sekali lagi, kepercayaan ini bersumber dari fakta eksternal, bahwa masa depan bangsa Iran khususnya, dan seluruh bangsa manusia, umumnya, adalah terang benderang.

Beliau berkata, “…Tetapi, yang paling utama dari segalanya adalah harapan dan pandangan positif terhadap masa depan. Tanpa kunci pembuka segala masalah ini, tak akan ada langkah yang bisa diambil.”

Maklumat ini memang berisi pesan beliau kepada bangsa Iran, khususnya para pemuda dalam meneruskan semangat dan cita-cita mulia revolusi. Meski demikian, tentu ada hal-hal universal yang bisa diambil oleh kita, para pemuda non-Iran yang juga memiliki peran dalam membangun peradaban dunia yang adil, ramah-insan, dan islami.

Semua harapan tinggi ini, menurut beliau, tak akan tercapai jika kita, para pemuda, tak percaya diri dan senantiasa mendengarkan orang-orang yang tak ingin kita maju.

Apa yang beliau letakkan (kepercayaan dan tongkat estafet revolusi) ke pundak para pemuda Iran tentu bukan hanya sekedar visi yang mengawang-awang. Karena beliau percaya, pemuda Iran yang sekarang, meski tak pernah berperang dan berjuang dalam mempertahankan eksistensi negaranya dan tak pernah melihat langsung Imam Ruhullah Khomeini, tak kalah bahkan lebih baik dari pemuda di masa awal-awal revolusi.

Saya sangat senang membaca buku-buku dan catatan harian para pemuda Iran yang syahid dalam membela negara. Mereka adalah pseudo-malaikat. Saya pernah mendengar langsung dari pelaku sejarah, di masa perang Iran-Irak, banyak sekali pemuda (dari umur 12-25 tahun) yang gugur syahid. Tidak sedikit dari para syahid muda itu yang menggali kuburan mereka sendiri, lalu bermunajat, menangis, tahajjud, membaca al-qur’an dan bertawassul kepada jejiwa suci di dalam kuburan itu, setiap malam. Ada yang dengan senang hati menidurkan dirinya di atas kawat berduri, agar teman-temannya bisa menembusi pertahanan musuh. Ada yang mengambil tanda-tangan dari setiap temannya sebelum ia pergi ke garis depan, seraya meminta janji, mereka akan masuk surga bersama. Ada yang dalam wasiatnya memohon kepada para wanita Iran agar senantiasa meniru Fathimah Binti Muhammad dalam menjaga kehormatannya.

Ketika Imam Ali Khamenei mengatakan pemuda Iran di masa ini tak kalah atau bahkan lebih baik dari pemuda Iran di masa lalu, tentu saya akan meyakininya. Pemuda Iran sekarang bertempur di medan yang lebih berat dari pemuda Iran dulu. Peperangan yang terjadi sekarang jauh lebih berat dan melenakan dibanding perang militer di masa dulu. Dan mereka, para pemuda Iran sekarang, kokoh laksana pemuda Iran dulu ketika mempertahankan kota Khurramsyahr. Pemuda Iran sekarang segigih pasukan air pemuda Iran dulu yang bisa berdiam diri di dalam air selama berhari-hari. Umur revolusi yang telah mencapai 40 tahun dan kemajuan pesat negera Iran adalah buktinya.

Sebagai pemuda Indonesia yang sangat mencintai Ibu Pertiwi, saya merasa iri dengan mereka. Saya iri kepada mereka karena mereka dipimpin pribadi agung semisal Imam Ali Khamenei dalam membela dan menjaga wathan mereka. Semoga Allah senantiasa menjaga pemuda Indonesia. Semoga Allah senantiasa membisiki kami, melalui ustad dan kyai kami, arah dan jalan yang mesti kami tempuh dalam memperjuangkan cita-cita para pahlawan kami di bumi pertiwi ini.

Penulis: Alamsyah

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.