Menilik Makna Kebebasan Wanita dari Riwayat Hidup Sayyidah Fathimah az-Zahra

Sayyidah Fathimah az-Zahra sa. adalah putri Nabi Muhammad saw. Dalam sejarah perkembangan Islam, beliau memiliki peran yang sangat penting. Beliau adalah penghubung kenabian ayahnya, Nabi Saw. dan keimaman yang dimulai dari suaminya, Imam Ali as. Julukan beliau, pemimpin wanita seluruh alam bukanlah hal yang pantas dianggap kecil, apalagi diabaikan begitu saja. Sudah sepatutnya para muslimah khususnya dan seluruh wanita di dunia pada umumnya menjadikan beliau sebagai panutan. Yaitu dengan mengenal pribadi dan menelaah sejarah kehidupannya disertai dengan penerapan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rentang kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra sa. tergolong singkat. Beliau dilahirkan tanggal 20 Jumadil Akhir di tahun kelima setelah pengutusan nabi sebagai Rasul (bi’sat) dan wafat pada hari ketiga Jumadil Akhir di tahun 11H. Artinya, umur beliau di dunia ini kurang lebih delapan belas tahun. Meski begitu, pelajaran yang diberikan beliau kepada umat secara umum dan kepada para wanita secara khusus seakan tak pernah habis untuk dibahas. Salah satu yang menjadi perhatian penulis, adalah sisi kehidupanya dan kaitannya dengan kebebasan wanita.

Mengapa kebebasan wanita? Salah satu tema yang masih dan selalu hangat dibicarakan berkaitan dengan studi perempuan adalah tema kebebasan perempuan. Sebelum itu, kata kebebasan sendiri adalah salah satu dari tema-tema yang menjadi perhatian ahli budaya dan politik. Setiap individu selalu mendambakan kebebasan, karena secara fitrah, tidak ada orang yang ingin berada di bawah kekangan orang lain. Kata kebebasan memiliki daya tarik yang luar biasa. Sehingga banyak orang yang menggunakannya sebagai “senjata” demi melancarkan tujuan-tujuan tertentu.

Kebebasan –sama seperti berbagai objek ilmu sosial lain– tidak memiliki definisi yang seragam dan disepakati di seluruh dunia. Kata ini sangat bergantung pada pembahasan dan konteks apa yang sedang dibicarakan, dan atas dasar pandangan apa kata kebebasan dipromosikan. Maka dari itu, sudah menjadi konsekuensi logis bahwa memahami makna kata menjadi begitu penting dan vital. Tanpa memahami makna yang sebenarnya, pintu masuk berbagai jenis sesat pikir (falacy) dan gagal paham senantiasa tebuka lebar. Memahami makna kebebasan pun tak terkecuali darinya.

Ayatullah M.Taqi Misbah Yazdi mengatakan, bahwa makna kebebasan yang sering dipahami orang di semua tempat dan waktu adalah sebuah konsep yang berlawanan dengan “perbudakan”. Dalam berbagai kesempatan, membayangkan dua hal yang berlawanan akan membantu memahami konsep yang kita tuju. Seperti dalam pepatah Arab yang mengatakan, “Tu’rafu al-asyyaa’ bi adhdaadihaa” (sesuatu dikenal dengan perantara lawannya). Maka kembali ke tema kita, bahwa ketika kita membayangkan sebuah perbudakan, pemenjaraan, atau pembatasan kehendak, maka kita bisa menyimpulkan tidak adanya kebebasan di sana. 

Dari pengertian umum ini, berbagai makna turunan pun bermunculan. Untuk menjelaskan makna kebebasan dalam Islam, kita perlu berangkat dari persamaan yang dimilikinya dengan pandangan lain. Setiap orang pasti setuju, demi menjaga ketertiban dan keamanan, perlu adanya aturan umum yang secara tidak langsung membatasi kebebasan seseorang. Contohnya, warga negara tidak boleh menodongkan senjata ke arah orang lain dan membunuhnya.

Artinya, kebebasan menggunakan senjata dibatasi. Setelah konsep bahwa kebebasan yang berbahaya bagi orang lain harus dibatasi, kita akan menanyakan, apakah kebebasan yang dibatasi tersebut hanya cukup dengan hal yang berkaitan dengan keamanan dan keuntungan materi semata, atau perlu juga untuk kemaslahatan rohani, maknawi dan akhirat?

Nah, bagaimana kaitannya dengan kebebasan perempuan? Apakah kebebasan perempuan juga sesuatu yang membahayakan bagi masyarakat?

Perempuan dalam masyarakat selalu memiliki peran yang penting. Islam tidak pernah memandang perempuan sebagai sebuah benda atau memiliki tingkat yang lebih rendah dari laki-laki. Islam menekankan kesadaran, penjagaan dan kebebasan perempuan dengan berbagai syarat-syaratnya. Kewajiban menutup aurat, taat kepada suami, dan hukum-hukum lain yang diberikan oleh Islam khusus kepada perempuan, bukan menandakan bahwa Islam anti-kebebasan perempuan. Hukum-hukum itu menjamin keamanan perempuan dan keharmonisan masyarakat. Sedangkan dalam memilih pekerjaan dan menentukan nasibnya, perempuan dan laki-laki memiliki kebebasan yang sama.

Hal ini diajarkan oleh Sayyidah Fathimah az-Zahra sa dalam setiap langkah hidupnya. Dalam hal keilmuan, beliau aktif mengajar dan memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Dalam hal politik, beliau tak menggulung tangan ketika kepemimpinan Imam Ali as. diacuhkan setelah wafatnya Nabi saw. Dalam hal mendidik anak dan mengurus keluarga, beliau tak pernah kurang dalam memberikan kasih sayang dan pendidikan dasar yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anaknya, dan masih banyak lagi pelajaran dan teladan yang ada di kehidupan suci Sang Putri Nabi saw.

Apakah kebebasan yang diajarkan oleh beliau adalah kebebasan mutlak yang anarkis dan materialistik? Tentu saja tidak. Kebebasan yang diajarkan oleh beliau adalah kebebasan yang diajarkan oleh Islam.

Kita dapat menyaksikan sendiri, negara-negara yang membebaskan perempuannya secara mutlak telah berubah menjadi tempat yang bobrok secara moral dan keamanan. Kebebasan perempuan dalam Islam, tentunya bukan kebebasan mutlak. Kebebasan yang diajarkan Islam adalah kebebasan yang memandang lebih jauh, bukan hanya kebahagiaan dan ketentraman di dunia melainkan juga kebahagiaan di akhirat. Kebebasan perempuan dalam Islam, adalah kebebasan yang menjadi sumber terwujudnya masyarakat yang merdeka dari belenggu-belenggu setan. Karena sebagaimana dalam oerkataanya, Imam Khamenei menuturkan, bahwa, kemajuan atau kemunduran suatu masyarakat bergantung pada keadaan perempuannya.

Penulis: Zaenab Karbela. Mahasiswi S1 Jurusan Pendidikan Islam di Universitas Bintul Huda

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.