Kudeta Venezuela dan 40 Tahun Revolusi Islam 

Perkembangan dramatis kudeta gagal di Venezuela mengungkap rencana jahat Amerika Serikat (AS) yang kerap kali memaksakan perubahan pada setiap rezim yang tidak sejalan dengan kebijakan Washington. Juan Guaido, pemimpin oposisi dukungan AS yang kalah dalam pemilihan, terang-terangan mendeklarasikan diri sebagai pemimpin interim di tengah ketidakamanan negara itu.

Kudeta bermula ketika Venezuela menggelar pemilihan umum pada 20 Mei 2018, saat Nicolas Maduro tengah berusaha membebaskan Venezuela dari lilitan krisis ekonomi akibat embargo AS.

Di tengah ketidakpastian itu, AS secara ilegal memaksa pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai Presiden Venezuela, tindakan yang jelas bertentangan dengan hukum internasional dan hanya akan melipatgandakan penderitaan rakyat Venezuela serta kebencian terhadap AS.

Menariknya, plot perubahan rezim Washington di Venezuela itu bertepatan dengan peringatan kemenangan 40 tahun kemenangan Revolusi Islam di Iran. Menilik sejarah Iran, benih-benih perubahan revolusioner di Iran sudah ditanam oleh AS dan Inggris sejak Agustus 1953, kala perdana menteri Dr Mohammed Mossadeq terguling dalam intervensi langsung AS dan Inggris melalui sebuah plot rumit. CIA dan MI6 akhirnya memberikan tampuk kepemimpinan penuh kepada Mohammad Reza Pahlavi,- Shah Iran.

Di bawah perlindungan AS, Shah diktator. Selama seperempat abad kepemimpinannya, ia menindas dan membantai rakyat serta mengabdi pada ketidakadilan.

Di tengah kecemasan negara-negara pendukung Shah, Israel, Arab Saudi dan negara-negara kuat Teluk, Eropa, Asia dan Afrika, gerakan Revolusi Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini mampu memobilisasi kekuatan di seluruh wilayah Iran dan dunia.

Dengan semangat luar biasa dan pengorbanan besar, perjuangan Imam Khomeini akhirnya mencapai puncak dengan kemenangan Revolusi Islam pada Februari 1979. Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran angkat kaki dengan terhina dari Iran. Sebuah revolusi yang mengubah negara dari sebuah monarki absolut di Iran menjadi Republik Islam, revolusi terbesar ketiga dalam sejarah peradaban manusia setelah Perancis dan Bolshevik di Rusia.

Empat dekade kemudian, ketika mengangkangi Gedung Putih, Trump meneruskan kebijakan para pendahulunya seperti Jimmy Carter, Ronald Reagan, Duo Bush, Bill Clinton dan tentu saja Barack Obama. Trump kembali mengencangkan karet tekanan untuk sebuah perubahan sistem di Tehran.

Tapi tak satupun rezim-rezim AS itu sukses mengganti sistem Revolusi Islam di Iran, meski perang proksi gencar dilakukan dengan berbagai cara, termasuk lewat diktator Irak Saddam Hussein; kaki tangan Barat yang dipersenjatai dengan senjata termasuk senjata kimia.

Berkali-kali gagal menginstal ulang rezim klien di Iran, poros Amerika-Israel belum lelah menghentikan skema jahatnya. Empat dekade terakhir ini kita menyaksikan berbagai bentuk operasi teror, termasuk pembunuhan terhadap ilmuwan dan ulama Iran, serangan teroris di Sistan dan Baluchestan, infiltrasi, sanksi ketat dan dipersenjatainya kelompok-kelompok kontra-revolusioner.

Terakhir, dukungan keuangan tanpa batas Arab Saudi dan beberapa negara monarki Arab juga gagal menggulingkan Republik Islam Iran melalui gerakan ISIS dan kelompok-kelompok teror berjubah Islam. Di tengah badai ini, Iran kukuh mempertahankan prinsip-prinsip Islam.

Setelah Shah Mohammad Reza Pahlavi melarikan diri meninggalkan “Tahta Merak”-nya, Imam Khomeini kembali dari pengasingan untuk memimpin transisi Iran dari kediktatoran menuju negara independen, berdaulat dan berdiri diatas kaki sendiri. Sejak itu Islamofobia mengamuk.

Dengan iringan lembut gerakan tangan dirigen Zionis Israel berjubah Islam dan kebebasan, dunia disesaki berbagai opini dan propaganda paling keji dan paling hina. Media-media beralih fungsi sebagai pemicu kegilaan anti-Iran dengan berbagai bentuk laporan dan pemberitaan palsu mengenai Islam Iran. Dunia diancam akan ditakdirkan hidup dalam “sejarah abad pertengahan!”.

Tetapi, Iran hari ini mampu berdiri di jantung pertahanan Venezuela dengan menentang upaya Trump yang memaksakan perubahan rezim di sana.

Kekuatan luar biasa Iran juga terbukti mampu menahan segenap sanksi yang melumpuhkan, dan tetap menentang tekanan Amerika dengan menunjukkan solidaritas dengan Palestina, bukan hanya dalam kata-kata tapi juga dalam tindakan. Kontras dengan kekasaran rezim Arab terhadap Palestina tapi pada saat yanga sama, rezim-rezim Arab itu menjatuhkan diri dalam pelukan imperialis dan Zionis.

Republik Islam Iran terus berdiri kokoh, penuh martabat dan percaya diri sejak 40 tahun. Rakyatnya bangga dengan raihan prestasi, bahkan jika prestasi itu harus dicapai dengan pengorbanan besar.

Ya, kebebasan dan martabat selalu menuntut harga. Mereka yang bersedia membayar seberapapun mahalnya adalah yang berhak mengklaim kebebasan, di hadapan Tuhan dan semesta. []

Penulis: Bin Turkan


Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.