Buku Sar Buland: Membaca Biografi dan Kenangan Syahid Muhsin Hujaji

Judul buku: Sar Buland
Penulis: Muhammad Ali Ja’fari
Penerbit: Syahid Khadzimi
Tebal: 354 Halaman
Bahasa: Persia
Harga: 23000 Tuman

“Untuk kepergiannya yang kali kedua aku tak yakin kalau ia bakal kembali. Malam itu aku bermimpi, kalau ia akan pergi ke Suriah dan bakal mati syahid di sana. Dengan ini, aku selalu meyakinkan diriku, bahwa ia pasti akan kembali lagi. Keesokan harinya Muhsin datang ke rumah, lalu aku menceritakan apa yang aku mimpikan semalam. Di saat itu juga, ia menengadahkan kedua tangannya dan berucap, “Segala puji hanya milik Allah. Ibu, doakan aku, untuk kedua kalinya aku akan pergi ke Suriah, doakan, semoga akibat baik akan berpihak padaku.” (Penggalan dari buku Sar Buland. Hal: 23).

“Kira-kira pukul sembilan pagi saudara perempuanku menelponku. Dari seberang telepon, yang kudengar darinya hanya sebuah tangisan. Kami memang punya seorang nenek yang sudah tua. Awalanya aku berpikir, ia meninggal dunia. Lalu aku bertanya padanya, “Apa yang terjadi?”. Ia tak menjawab. Ia tetap menangis.

“Kemarilah, hatiku telah hancur!,” teriaknya sambil menangis sejadi-jadinya.

Dengan emosi yang membuncah aku menimpali, “Memangnya apa yang sedang terjadi?” Nafasnya terengah-engah, dan berkata, “Sekelompok ISIS telah menculik Muhsin!” Mendengar itu, kakiku sektika lemas, aku terjatuh ke tanah. Aku lunglai.” (Penggalan dari buku Sar Buland. Hal: 17).

*

Jujur, baru kali pertama saya membaca buku yang khusus membahas tentang perjalanan seseorang yang tengah berjuang menuju cawan kesyahidan ini. Kalau saya perhatikan, nyaris hampir di seluruh penjuru dunia, tak sedikit orang yang menghindar dari kekematian. Dengan kata lain, Allah diharapkan memberi kesempatan kepada mereka untuk memberi kelonggaran, batas waktu yang cukup panjang untuk meniti kehidupan dunia.

Setidaknya, itu disebabkan dua perkara, pertama ia ingin hidup lebih lema di dunia demi memperbaiki sederet kesalahannya, sehingga ia ingin leluasa mendekatkan diri kepada Allah, puncaknya, ia ingin menebus dosanya. Kedua, hanya sekedar ingin menyelami gemerlap dunia yang disuguhkan, yang tentu saja begitu menggiyurkan. Puncaknya, ingin bersenang-senang di dalamnya.

Nah, buku yang di awal sedikit saya singgung, seakan bertentangan dengan mereka. Di saat banyak yang berlomba-lomba hidup lebih lama di dunia, buku itu justru menawarkan sisi lain, yang mungkin, cukup jarang, jangankan terpikirkan, terlintas di benak manusia saja nyaris tak pernah. Mungkin, hanya segelintir orang saja yang memikirkan itu.

Selama pengembaraan saya di dunia perbukuan di Indonesia, saya hampir tak pernah menemukan buku sejenis. Dan saya yakin, buku ini hanya ada di Iran, yang tak sedikit dari rakyatnya punya keinginan kuat untuk mati syahid, layaknya para Imam Ahlulbait, yang sudah mendarah daging, bahkan sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Ya, buku yang saya maksud itu berjudul ‘Sar Buland’ yang berarti “Terhormat”. Buku yang saya beli ini, adalah cetakan keempat. Padahal buku ini (sewaktu saya beli) baru berumur tiga bulan pasca-cetak, tetapi sudah memasuki cetakan keempat. Artinya, buku ini disambut luar biasa oleh pecinta buku di Iran. Tak ayal, buku-buku sejenis memang punya tempat di hati orang Iran.

Di Iran sendiri, ada tema buku yang tak akan kita temui di Indonesia. Tema itu, biasa dikenal, dengan bahasa Farsi, ‘Devo’e mukaddas’ yang berarti pembela suci. Buku ini biasanya membahas tentang orang-orang yang berjuang membela kebenaran, yang berujung pada kesyahidan. Di mana istilah ini (Devo’e Mukaddas) kali pertama mencuat di saat perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun itu.

Dinamai pembelaan suci, itu bertujuan untuk menyerang kembali pasukan Irak yang saat itu dikomandoi oleh Saddam Husein, dan merekalah yang sebenarnya penyulut api peperangan itu. Dan di situ Iran mencoba untuk bersikap defensif. Tak sedikit rakyat Iran yang membela negaranya dengan bergabung dalam peperangan tersebut dengan peran yang beragam.

Semakin ke sini, istilah itu kemudian mengalami pelebaran makna. Bahwa orang-orang yang pergi bertempur demi menjaga makam-makam para Imam Ahlulbait, terutama yang terletak di kawasan rawan teroris, seperti di Irak, Suriah dan sebaginya, mereka dijuluki sebagai Devo’e Mukaddas. Tak hanya itu, orang-orang yang bertumpur melawan kezaliman teroris juga berada di bawah istilah itu.

Kembali ke buku Sar Buland, bahwa buku, buku ini ditulis seorang bernama Muhammad Ali Ja’fari, seorang penulis yang berkecimpung dalam dunia penulisan kisah-kisah Devo’e Mukaddas. Di dalam buku itu, ia mengkisahkan kehidupan seorang syahid dari awal lahir ke dunia hingga ia menemui kematian yang mulia, mati syahid, berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda. Ada banyak narasumber yang bercerita tentangnya di buku itu, namun masih dalam kemasan bahasa yang nyastra, semacam novel.

Iya, titik fokus dalam buku itu tertuju pada sosok syahid bernama Muhsin Hujaji, yang terlahir di tengah keluarga sederhana di desa Najaf Obod, Isfahan, Iran. Ia hidup di tangah keluarga religius. Ia juga dikenal sebagai sosok yang pandai, dekat dengan al-Quran dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Sejak dari muda, ia telah berkumpul di sebuah komunitas yang sibuk dalam bidang keilmuan dan budaya. Boleh dibilang, dari sanalah keinginan untuk mati syahid mulai terpupuk.

Cita-citanya untuk mati sayhid telah terpupuk di saat ia masih muda. Tentu, cita-citanya bertolak belakang dengan kebanyakan anak seumurannya, yang mungkin, di masa-masa itu kebanyakan mereka sedang sibuk memikirkan masa depan dan karirnya.

Di dalam buku itu juga diceritakan, bahwa ia adalah ahli listrik. Ia pernah bekerja di kantor yang bergerak di bidang listrik. Artinya, kalau dilihat dari sisi dunia, tak ada yang perlu dikhwatirkan soal kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sebelum mencium aroma wangi keayahidan, ia telah menikah dengan seorang perempuan bernama Zahra, dan dan juga dikaruniai seorang putra bernama Ali. Ali masih kecil ketika kepala ayahnya dipenggal ISIS, lalu ia sampai pada puncak kesyahidan yang telah lama ia nanti.

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari buku tersebut, salah satunya adalah, di saat orang-orang bersaing mencari kedudukan dan materi dunia, Syahid Muhsin Hujaji justru, secara tidak langsung hendak melawan mereka dengan jalan syahadah. Mungkin, ia juga hendak berpesan kepada kita, bahwa manisnya syahadah melebihi dari kenikmatan-kenikmatan dunia yang sesaat itu. Dengan syahadah, ia sedang melawan kehinaan dari kehidupan dunia.

Di samping itu, satu hal yang mungkin jarang dimiliki kebanyakan seoroang parempuan manakala sang suami hendak pergi perang. Kebanyakan istri mungkin akan melarangnya, bahkan akan khwatir bukan kepalang kalau-kalau sang suami tak lagi kembali ke rumah. Tapi, tidak dengam istri Syahhid Muhsin Hujaji, ia tampak tulus, kuat, tehar dan rela atas kesyahidan yang merenggut nyawa suaminya. Baginya, ia pergi bukan untuk menghilang, tetapi ia pergi untuk selalu dikenang dan bahkan hidup di sisi Allah Ta’ala.

Sebelum mengakhiri, saya akan menutup tulisan ini dengan sedikit menyinggung kover buku tersebut. Jujur, cover buku itu sangat mewakili dari isi bukunya. Kelihatannya sederhana, tapi kesederhanaan inilah yang menjadi nilai plus buku ini. Ciamik. Dan saya akui, kebanyakan cover-cover buku di Iran selangkah lebih maju ketimbang di Indonesia. Itulah yang kadang bikin hati saya terpikat untuk beli buku-buku Iran. []

Ali Ridho: Ketua Divisi Kajian Ilmiah (KAIL) Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran.

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.