HPI Bukan Masa Silam, HPI adalah Masa Depan

Musyawarah Anggota ke-18.

Sebentar lagi, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran akan menggelar hajatan nasional Musyarawarah Anggota ke-19 (MA-19). Karena berupa hajatan nasional untuk memilih nakhoda organisasi, tentu saja kita memaknainya sebagai puncak dari “pesta demokrasi”. Dan begitulah yang berlangsung dalam setiap pagelaran pesta semacam ini hampir setiap tahun digelar. Tidak ada perang identitas, tidak ada perang simbol, tidak ada perang ideologi, tidak ada perang perbedaan iman, tidak ada perang ketidaksamaan etnik, apalagi perang Baratayudha dan Armageddon.

Ya, sejauh ini iklimnya sejuk dan menyejukkan.

Sisi lain bagi HPI, Musyawarah Anggota secara organisatoris, dipandang sebagai bentuk perayaan kelulusan generasi terbaiknya yang siap dipimpin sekaligus memimpin. Generasi “jebolan” HPI itu diharapkan mampu belajar mencari sesuatu yang mereka pelajari kenapa harus dicari. Sesuatu yang lebih mendasar, yang lebih mengakar, yang lebih rasional, yang lebih komplit dimensi-dimensinya dan yang lebih mencakrawala juntrungan logikanya.

Lalu, adakah keunikan dari Musyawarah Anggota (MA) nanti? Ya tentu saja ada. Sebagai anggota HPI yang senantiasa optimistis dengan masa depan, di rapat akbar nanti, kita tidak hanya akan memilih Ketua Umum, tetapi juga bagaimana sikap HPI dalam menghadapi tantangan masa depan yang dihadapi oleh anggotanya sendiri dan masyarakat.

Hloh, emangnya HPI itu organisasi apa kok mempunyai tantangan segala macam? Ya, tentu saja HPI sebagai organisasi, mempunyai tantangan masa depan. Jika HPI tidak mempunyai harapan masa depan, maka ia akan terseret arus putus asa yang melemparkannya ke masa lalu, berkutat di angka minus yang tidak terbatas. Mundur terus ke masa lalu, tanpa memiliki kesadaran terhadap proyeksi masa depan. HPI akan menjadi organisasi purba yang akan meratapi masa lalu secara terus menerus.

Disinilah letak uniknya Musyawarah Anggota nanti, bahwa HPI akan memetakan kembali apa yang sudah ditanamnya, disemainya, disiramnya dan beberapa kali sudah dipanen hasilnya. Melihat konteks zaman now yang lebih berkecukupan dan serba terfasilitasi oleh berbagai hal kemudahan, apakah itu justru semakin meningkatkan hasil tanam atau sebaliknya. Maka perlu semacam merunut kembalai capaian-capaian masa lalu, dengan masa sekarang ini untuk evaluasi dan penetapan program kerja.

Bagaimanapun juga HPI sebagai organisasi pelajar tentu punya cita-cita dan harapan-harapan yang secara manusiawi, diharapkan dan mengharapkan sekaligus. Lalu apa harapan dan cita-citanya itu? Untuk soal ini kelak akan dibedah bersama-sama di berbagai sesi pembahasan AD dan ART, Rekomendasi dan beberapa sesi-sesi lainnya. Maka kelak, pesta Musyawarah Anggota ini benar-benar akan menjadi iedul akbar.

Menambah sisi keunikannya, saya mempunyai usulan tema besar yang saya sodorkan kepada panitia penyelenggara pesta nanti bahwa, “HPI Bukan Masa Silam, HPI adalah Masa Depan”. Nggak apa-apa toh, wong sekedar usulan.

Dus, dibalik itu semua, harapan saya sebagai salah satu anggota yang baik dari HPI adalah untuk tidak pernah bosan membaca sejarah masa silam. Sejarah masa silam itu, menjadi teramat penting untuk titian perjalanan hidup. Masa silam itu sangat-sangat berguna sebagai pelajaran hidup sekaligus perenungan instropeksi, agar tidak menjadi keledai lestari yang selalu jatuh pada lubang yang itu-itu saja.

Sebuah pengharapan terakhir di Musyawarah Anggota kelak, penajaman kembali terhadap visi dan misi HPI yang mungkin oleh sebagian orang dirasa sudah menyentuh garis cakrawala.

Sebuah harapan bahasa hati, sebuah ungkapan penantian natural, saat menyadari sebagian saudaranya tetap terlelap ditidurkan nasibnya oleh “barokah” game, medsos dan smartphone. []

 

Bin Turkan, pengamat dadakan untuk perhelatan Musyawarah Anggota HPI

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.