Pesan Cinta dari Surau

Malam itu, di sebuah surau, di desa terpencil yang jauh dari ingar-bingar kota, terlihat sekelompok orang tengah melantunkan salawat kepada Nabi Muhammad sambil diringi alat musik hadra. Dengan raut muka sumringah, mereka terlihat khusyuk bersalawat bersama-sama. Suaranya menggema, menggetarkan dinding surau.

Di antara mereka, ada dua orang pemuda yang sama-sama mengenakan sarung, ditambah baju koko putih yang membalut tubuhnya dan songkok nasional warna hitam pekat yang tertancap di kepalanya.

Sebut saja, dua pemuda itu bernama Khadir dan Malik. Mereka adalah pemuda yang sering kali mengahbiskan waktunya di surau, di luar kesibukannya sebagai seorang pelajar SMA dan juga sibuk membantu orang tuanya di sawah.

Keduanya memang bukan saudara sebapak dan seibu, hanya teman biasa, tapi hubungan keduanya sangat karib, layaknya saudara kandung. Biasanya, mereka menghabiskan waktunya di surau untuk membaca al-quran, salat berjamaah, atau sekedar berdiskusi dengan seorang kyiai mengenai agama Islam.

Di malam itu, bersama dengan masyarakat lainnya, baik lelaki maupun perempuan, mereka berdua ikut hadir di acara maulid nabi, di sebuah surau satu-satunya yang ada di kampungnya, sebagai bentuk penghormatan mereka atas kelahiran manusia termulia, Nabi Muhammad.

Setelah acara maulid selesai, mereka menyantap nasi dan beragam makanan lainnya yang telah disediakan panitia. Mereka begitu menikmati, tak terkecuali Malik dan Khadir juga sama-sama menikmati santap malamnya sampai tandas. Bagi mereka, kesempatan bisa memperingati kelahiran Nabi Muhammad adalah anugerah yang luar biasa sepanjang hidupnya.

Sebab, bagaimanapun, mereka bisa memeluk Islam berkat dakwahnya. Maka, setidaknya, hadirnya mereka di majelis maulid itu, tak lain sebagai bentuk apresiasi kepada Sang Nabi, sungguhpun itu tak sebanding dengan apa yang telah dilakukan oleh sang nabi semasa hidupnya kala itu.

Satu demi satu para jamaah di surau itu pulang ke rumah masing-masing, tak terkecuali Malik dan Khadir yang masih terlibat dalam keseruan obrolan dengan seorang Kyiai, bernama Kyiai Adam.

“Menurut pak Kyiai, apa sih yang semestinya dilakukan orang-orang yang mengaku sebagai umat Rasulullah?” tanya Malik di sela-sela obrolan dengan Kyiai Adam.  Sebelum menanggapi pertanyaan Malik, ia sejenak menghirup napas, kemudiam ia buang pelan-pelan.

“Sebagai pengikut hendaknya meniru apa yang dilakukan yang diikuti….” Belum sempat menjawab dengan sempurna, sekonyong-konyong Malik memotongnya.

“Contohnya seperti apa, Pak Kyiai?”

“Ya Mbok sabar to, Lik. Lha wong belum selesai ngasi jawaban, kok malah dipotong. Sontoloyo!” Kyiai Adam dengan gayanya yang humoris itu, sedikit geram dengan tingkah Malik yang tak sabaran saat menunggu jawaban.

“Maaf Pak yai,” ujar Malik. Sementara, Khadir yang ada di sampingnya diam-diam ikut cengengesan, menyaksikan Malik yang kena semprot Kyiai Adam.

“Contohnya, Nabi Muhammad itu kan, selain terkenal alim, beliau juga dikenal sebagai satu-satunya hamba Allah yang punya akhklak yang luar biasa agung. Maka, meniru akhlaknya adalah pekerjaan yang mesti kita lakukan, Lik. Paham Kon?” tegasnya dengan logat Jawa yang tampak medok.

“Paham Pak kyiai,” Timpalnya agak sedikit mengangkat intonasi suara tinggi.

“Mudahnya begini, kalau memang nggak bisa meniru akhlak-akhlak nabi secara keseluruhan, minimal kita jangan pernah menciptakan kegaduhan di sekitar kita. Kita tebar cinta di sekitar kita. Kita hilangkan rasa benci di dalam lubuk hati kita kepada siapapun. Bukankah Nabi Muhammad dulu selalu menyebarkan kasih sayang di sekitarnya?” tegas Kyiai Adam dengan suara yang meletup-letup.

“Mantul, Pak Kyiai!” kata Malik sambil mengacungi kedua ibu jari tangannya di depan wajah Kyiai Adam.

“Mantul? Emangnya bola apa pakai mantul-mantul segala?” Kyiai Adam tampak mengernyitkan dahi, sepertinya agak sedikit kebingungan dengan uangkapan mantul, padahal itu adalah kata singkatan: mantap betul.

“Oalah, Pak Kyai ini tampaknya ketinggalan zaman. Mantul itu singkatan dari mantup betul, Pak Kyai,” celetuk Malik yang akhirnya disambut dengan gelak tawa tanpa henti.

“Dasar anak zaman sekarang, ono-ono wae!” seloroh Kyiai Adam diirngi gelengan kepalanya dengan mulut yang masih sibuk tertawa.

 

Ditulis oleh Ali Aridho Kendal, Ketua Divisi Kajian Ilmiah HPI Iran.

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.