Catatan Pekan Persatuan Islam dari Qom

Foto poster diambil di sekitar area Makam Suci Sayyidah Fathimah Masumah sa. di kota suci Qom, Iran

“Apabila persatuan umat Islam dapat terwujud dalam makna yang sebenarnya, maka sebagian besar problematika umat Islam akan terselesaikan… .” – Sayyed Ali Khamene’i, 25/9/2018

Hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw atau yang dikenal oleh masyarakat Islam Indonesia sebagai “Mauludan” tentu adalah hari bahagia dan merupakan momen penting bagi manusia, khususnya umat Islam di dunia. Meski ada perbedaan riwayat mengenai kapan hari kelahiran Nabi Saw antara muslim Sunni dan muslim Syiah, tapi itu bukan penghalang untuk bisa merayakannya bersama-sama. Muslim Sunni berkeyakinan bahwa tanggal 12 Rabiul Awwal adalah hari kelahiran Nabi Saw, sementara muslim Syiah meyakini tanggal 17 Rabiul Awwal.

Bagi masyarakat Indonesia, perayaan Mauludan tidak hanya sekedar perayaan belaka, tetapi lebih sebagai upaya meneladani perjalanan sirah Nabi menyangkut relasi antara agama dan perilaku sosial-budaya yang belakangan tampak rumit dan diperparah oleh merebaknya penyempitan-penyempitan makna. Bukan hanya cerita seputar kelahiran Nabi Muhammad Saw belaka, tetapi sebagai usaha menggali berbagai rentetan peristiwa dengan dimensi kehidupan, termasuk didalamnya politik dan persatuan antara agama-agama yang semuanya pernah dijalani oleh Nabi Saw.

Bagi masyarakat Iran, perbedaan mengeni hari kelahiran Nabi Saw, tidak berarti mengharuskan pembagian hari untuk masing-masing mazhab Islam (Sunni dan Syiah). Imam Ali Khamenei menggabungkan dua perpedaan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw itu menjadi satu tanpa menghilangkan identitas masing-masing mazhab. Imam Ali Khamenei juga mentasbihkannya sebagai “Pekan Persatuan Islam”. Sejak itu setiap tahun yang dimulai tanggal 12 Rabiul Awaal sampai 17 Rabiul Awwal seluruh umat Islam merayakan kelahiran Nabi Saw sepanjang satu pekan penuh.

“Kedua mazhab Islam bersaudara, dan merasakan sebagai saudara dengan identitasnya masing-masing, Sunni tidak menjadi Syiah ataupun sebaliknya. Maksud dari persatuan tidak demikian, tapi persatuan sebagai rasa bersaudara”, kata Imam Ali Khamenei.

Mengapa pekan Persatuan Islam? Secara definisi salah satu poin menyangkut permasalahan dunia Islam, Imam Ali Khamenei mengatakan bahwa, “Ada lebih dari satu miliar manusia di dunia yang memiliki akidah yang sama mengenai Allah Swt, Nabi Muhammad Saw, Shalat, Haji, Al-Quran, Kabah dan berbagai masalah lain, tapi terdapat beda pendapat terkait beberapa masalah. Apakah rasional, bila hanya melihat sejumlah perbedaan, lalu berperang, sementara musuh yang tidak percaya akan Allah Swt, Nabi Muhammad Saw, agama dan segalanya melaksanakan rencananya?”, demikian kutipan pidato Imam Ali Khamenei berkaitan dengan “Pekan Persatuan Islam”, beberapa tahun lalu.

Persatuan Islam adalah kata kunci yang merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang secara jelas sebagai salah satu pilar penentu keberhasilan misi Nabi Muhammad Saw dimuka bumi sebagai umatan wahidatan. Persatuan adalah konsep yang menurut ajaran Islam diyakini bersifat mutlak benar dan tidak berubah-ubah. Mutlak dan tidak berubah-ubah ini terus menerus akan berpengaruh terhadap sikap dan tingkah laku penganutnya. Oleh karena itu, umat Muslim, baik Sunni maupun Syiah tidak akan mudah menerima berbagai perubahan dan kecenderungan untuk dibenturkan.

Secara luas, ada tiga bentuk persatuan, pertama, persatuan di antara sesama manusia secara menyeluruh, dalam hal ini tidak melihat adanya perbedaan dari aspek apapun, yang dilihat hanyalah dimensi kemanusiaan. Kedua, persatuan di antara mereka yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini yang dilihat adalah pada dimensi kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa apapun agamanya. Dan ketiga, persatuan sesama umat Islam. Dalam hal ini, persatuan sesama muslim tidak melihat adanya perbedaan etnis, jenis kelamin, bahasa, dan lain-lain.

Untuk itu, posisi bentuk-bentuk persatuan itu sukses dijalani oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Ketika pertama kali, Nabi Muhammad Saw di Mekkah berhadapan dengan pola masyarakat badui Quraisy yang keras dan brutal. Sejarah menyebutnya sebagai masyarakat jahiliyah yang artinya, bisa jadi masyarakat Mekkah pada saat itu bukan benar-benar jahil dalam artian harfiah jahil secara kognitif.

Islam yang lahir di Mekkah kemudian yang mendobrak status quo dengan berbagai budaya suku Quraisy sehingga sifatnya membangun persatuan ke dalam secara ideologis, yang sering kita sebut dengan dawah secara sembunyi-sembunyi. Ketika kemudian terjadi peristiwa Hijrah ke Yastrib atau Madinah, pola ideologis dan sembunyi-sembunyi itu mulai diubah namun tidak ditinggalkan. Nabi Muhammad Saw berkonsentrasi pada pembangunan masyarakat dengan segala pernik kehidupan yang keseharian menyangkut Islam maupun non-Islam.

Dengan kondisi umat Islam yang dihadapinya saat ini, Pekan Persatuan Islam adalah momentum bagi umat Islam baik muslim Sunni maupun Syiah. Eksistensi Islam sebagai identitas terancam sirna digerus oleh serangan-serangan musuh dari dalam dan luar. Mulai dari serangan fisik, ekonomi, politik, pemikiran hingga sosio-budaya. Dan dan umat Islam takkan mampu menghadapi ancaman ini selama terus berpecah dan tidak bersatu.

Saat saat seperti ini, umat Islam harus kembali kepada Syirah Nabi Saw sebagai kunci kekuatan ummat. Karena perpecahan adalah titik kelemahan ummat dengan mengabaikan Syirah Nabi Saw.

Persatuan Islam bukanlah menyatukan keyakinan dan pemikiran. Bukan membuat mazhab baru diatas mazhab Sunni dan Syiah. Tapi kekompakan, solidaritas dan persaudaraan seluruh kaum muslim dibawah satu panji kolektif bernama Islam rahmatan lil alamin. Dimana setiap perbedaan didalamnya tidak akan keluar dari pokok-pokok dasar keislaman seperti, Iman pada Tuhan yang Esa, Kerasulan Nabi Saw, Quran sebagai kitab suci, Kabah sebagai kiblat, penunaiakan kewajiban haji, sholat dan puasa, serta berbagai budaya seperti perkawinan dan penguburan.

Persatuan Islam adalah berbarisnya seluruh muslimin lintas mazhab, dalam satu barisan yang sama atas dasar ushul-ushul agama sehingga kawan sesama muslim dapat berdiri melawan musuh bersama dan berkembang serta mencapai segala cita cita luhur Islam sebagai agama purna dan pamungkas di akhir zaman.

Persatuan adalah kita menahan diri dari bentuk perselisihan dan perpecahan dalam tubuh Islam yang akan menguntungkan musuh utama Islam. Karena itu persatuan Islam adalah keberlanjutan eksistensi dan kemajuan Islam itu sendiri. Sebaliknya, perpecahan selalu menjadi sebab dari alasan kekerdilan umat Islam di dunia. Musuh semakin berani dan merasa aman ketika menindas saudara muslim sementara kita saling berpecah satu sama lain dan tidak ada keinginan untuk bersatu dan bangkit melawan para penindas.

Muslimin sudah semestinya tersadar bahwa, tanpa bisa dipungkiri ada oknum dalam tubuh Sunni maupun Syiah yang berusaha merusak tali persatuan ini. Sayyid Ali Khamenei menyebut mereka dengan Sunni Amerika dan Syiah Inggris. Dengan indah Sayyid Ali Khamenei menganalogikan keduanya seperti dua mata gunting di hadapan tali persatuan Islam. Tak ada tujuan murni bagi gunting selain memotong.

Momen Maulid Nabi Saw merupakan gagasan untuk mewujudkan Wahdah Islamiyah. Dan Iran menunjukkan konsistensinya dalam hal ini dengan mengadakan konferensi Persatuan Islam sedunia selama 32 tahun terakhir. Mereka mengundang perwakilan dari ulama Syiah dan Sunni di seluruh penjuru dunia dan menyatukannya di meja konferensi untuk kemudian berbicara mengenai persatuan Islam.

Setiap tahun konferensi tersebut membawa perbaikan dan pengembangan pada Husnu Tafahum antara dua mazhab besar, Sunni dan Syiah di dunia. Perlahan tapi pasti, persatuan yang sedang diusahakan oleh seluruh pembesar kedua mazhab di dunia akan mampu wujudkan persatuan Islam hakiki di dunia dan mengantarkan Islam ke puncak kejayaan sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.

Datangnya Rasulullah Saw menyirnakan segala kegelapan jahiliyah. Tangan suci Rasulullah akan menyatukan para budak dan raja dalam satu meja makan berbagi sebuah kurma. Tangan sucinya pula menyatukan dua bangsa yang berperang beratus-ratus tahun dan menjadikannya penolong setianya di Madinah. Oleh karena itu, mari kita biarkan tangan beliau pula yang menyatukan kita dalam Islam demi sempurnanya cahaya ilahi. Walaupun orang-orang kafir membencinya. [HPI]

Muh Baqir, Santri di Hauzah Ilmiah Republik Islam Iran

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.