Pesan Persatuan dari Ulama Sunni Iran

Sunni di Iran, dan Pesan Persatuan

Mungkin Anda pernah membaca berita miring bahwa pengikut mazhab Ahlussunnah di Iran sangat terzalimi. Mereka tak dibiarkan memiliki masjid, sekolah agama, dan hal-hal yang berhubungan dengan mazhab mereka lainnya. Jika Anda percaya buta dengan berita miring seperti itu, maka sebaiknya tidak usah dilanjutkan membaca tulisan ini. Karena tulisan ini akan menunjukkan fakta yang sebaliknya.

Seperti yang kita tahu, Iran adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya memeluk mazhab syi’ah imamiyah. Namun itu bukan berarti bahwa masyarakat minoritas hidup susah di bawah kaki orang-orang syiah. Muslim sunni, Yahudi, Kristen, dan Zoroaster, semuanya hidup damai di bawah pemerintahan Republik Islam Iran. Kenyataan ini tak membutuhkan bukti apapun. Silahkan saja Anda berkunjung ke Iran untuk membuktikan kenyataan ini. Justru mereka yang menyebarkan berita-berita miring tentang Iran lah yang mesti membuktikan ‘jualan’ mereka itu.

Tulisan ini tak akan membahas lebih jauh lagi berita-berita konyol itu. Sebaliknya, tulisan ini akan mengulas ceramah Imam Jum’at Sunnni kota Qeshm, Khatibi, pada acara peringatan maulid Nabi saw, yang diadakan di Mushalla Imam Ali, Qeshm, pada hari Kamis (8/1/2015). Acara ini dihadiri oleh ulama-ulama sunni maupun syiah. Kehadiran ulama-ulama sunni dalam acara ini saja merupakan bukti nyata persatuan islam. Menurut Khatibi, muslim sunni hidup damai dengan saudara mereka muslim syiah. Mereka, meskipun minoritas di negeri para Mullah ini, tak pernah merasa dikucilkan. Menurut beliau, muslim sunni di sini punya masjid, madrasah diniyyah, dan memiliki hak bebas untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan mazhabi. Sekali lagi, ini adalah kenyataan tak terbantahkan jika Anda berkunjung ke pulau kecil dekat selat Persia ini.

Dalam kesempatan kali itu, beliau menyeru seluruh umat islam untuk memegang tali yang satu, tali Allah. Sebagaimana yang telah difirmankan dalam al-Qur’an bahwa muslimin mesti bersatu dan jangan berpecah belah. Beliau memberi contoh bahwa pada zaman Nabi saw, suku Auz dan Khazraj pernah berselisih karena hasutan Yahudi. Namun berkat Nabi saw, perselisihan ini dapat dipadamkan dan diubah menjadi persatuan. Oleh karena itu, beliau menghimbau umat islam untuk mewaspadai gerakan musuh. Bahwa musuh senantiasa mengobarkan permusuhan di antara pengikut-pengikut mazhab dalam islam. Padahal seluruh muslim memiliki Tuhan yang satu, begitu pula dengan Nabi, Qur’an, dan kiblat.

Dalam daripada itu, beliau juga mengisyaratkan satu poin penting. Beliau berkata, “untuk menciptakan persatuan, kita harus bekerja seakan-akan Nabi saw ada di sini.” Rasulullah saw adalah simbol persatuan umat islam. Keberadaan Nabi saw mencegah perpecahan.

Di akhir sambutan, beliau juga menekankan ‘bashirat’ (baca:kesadaran). Sebagaimana yang selalu ditekankan oleh Sayyid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

Adapun acara ini sendiri merupakan perwujudan nyata hafteh-e wahdat (Pekan Persatuan) yang ditetapkan oleh Imam Khomeini. Pekan Persatuan ini dimulai dari tanggal 12 Rabiul Awwal (hari kelahiran Nabi saw menurut sunni) hingga 17 Rabiul Awwal (Maulid Nabi menurut syi’ah).

 

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.