Long March Arbain Husaini Bukan Sekedar Tradisi

Sejarah menurut beberapa pendapat adalah pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian berupa penemuan-penemuan, koleksi-koleksi, organisasi-organisasi, dan sajian-sajian informasi mengenai peristiwa-peristiwa. Sejarah juga sering disebut sebagai kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia dimasa lalu dan dimasa kini. Dari sejarah, orang menjadi faham bahwa setiap zaman selalu memiliki tantangan dan persoalannya sendiri-sendiri.

Secara esensial, tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh hampir setiap “episode” sejarah adalah runtuhnya pandangan hidup yang berdampak terciptanya serentetan persoalan untuk generasi berikutnya. Itu mungkin salah satu alasan falsafah mengapa Tuhan senantiasa mengutus “penjaga nilai” di setiap zaman untuk mengawal perjalanan umat manusia, supaya tetap lempeng dan tidak mbelok.

Sisi lain, sebagian besar orang berkeyakinan bahwa sejarah itu berulang-ulang dan sudah nglothok di kepala setiap manusia. Sementara kemampuan analog manusia dalam menganalogikan dan menerjemahkan apa yang ia pahami dan yakini tentang nilai dan muatan sejarah itu menjadi kadang sedemikian mandeg dan kaku. Padahal, sejarah menjadi teramat sangat penting sebagai bekal perjalanan manusia. Sangat berguna sebagai pelajaran hidup untuk memahami jati diri sekaligus sebagai ramuan aktivitas diri.

Peristiwa Arbain Imam Husain as bukanlah belaka peristiwa sejarah dan tradisi tanpa nilai. Tetapi, ia adalah magnet penggerak aktivitas manusia terhadap nilai-nilai kebenaran. Dalam kitab Tahqiqe Darbare-ye Awwal Arbain Sayyid al-Syuhada, Sayyid Qadhi al-Thabathabai menulis, sejarah long march menuju Karbala pada hari Arbain sudah menjadi tradisi muslim Syiah sejak zaman kehadiran Imam maksum as. Mereka sudah melakukan tradisi long march ini pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang saat itu melarang manusia untuk melakukannya.

Tanpa mengecilkan banyaknya hadis-hadis yang menyebutkan besarnya keutamaan ziarah Arbain, umat muslim dunia, bukan saja muslim Syiah, setiap tahunnya menuju Irak untuk melakukan long march dengan berjalan kaki menuju Karbala. Untuk tahun ini, jutaan orang dari berbagai negara ikut dalam tradisi ini, sehingga tercatat sebagai perjalanan kaki dan pertemuan manusia yang paling padat dan terbesar di dunia.

Menyimak pertemuan serta membaca beberapa ulasan berbagai media, kita memiliki beberapa catatan penting mengenai long march Arbain ini.

Pertama, kita melihat bahwa pertemuan jutaan manusia dari berbagai dunia di Karbala itu membutuhkan manajemen. Ini berarti pertemuan yang kemudian dilanjutkan dengan long march itu terbentuk melalui proses interaksi yang njlimet.

Kedua, kita melihat, ini adalah awal dari bagian proses pembangunan potensi dan kapasitas individu bahkan kolektif agar mampu secara aktif berpartisipasi dalam lingkungannya kelak sekembalinya dari perjalanan.

Ketiga, ini juga adalah bagian dari upaya terstruktur untuk melihat kenyataan penggalangan potensi untuk bersama-sama melangkah menuju perbaikan dalam konteks tatanan sosial yang jauh lebih luas. Pertemuan besar ini bisa dianggap sebagai langkah awal untuk mengembangkan tatanan sosial yang lebih peka dan tanggap terhadap setiap tantangan kondisi yang dialami secara lebih menyeluruh.

Keempat, proses manejemen dan pengelolaan berbagai potensi, faktor dan unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sudah terbentuk di Karbala, sehingga pada akhirnya kondisi ini bisa menjadi modal perbaikan kehidupan sosial masyarakat.

Kelima, long march yang dihadiri jutaan umat manusaia itu adalah bentuk dari aktivitas baiat baru kepada Imam Husain as dan para tawanan  keluarga Nabi Saw, untuk terus melanjutkan perlawanan setiap bentuk kedhaliman dan ketidak adilan dimana saja.

Lima catatan kecil ini adalah harapan besar bahwa long march Arbain itu kelak akan melahirkan sikap dan pandangan baru mengenai hidup dan kehidupan. Bukan sekadar bagaimana mendapatkan runutan sejarah long march karavan Imam Husain as beserta tawanannya di Karbala.

Meskipun dalam long march itu kita memukul-mukul dada, merintih-rintih, menangis, dan memekik-mekik yang mempunyai nilai utama dihadapan Allah Swt, tetapi konsentrasi keperihan dan kepedihan itu kini harus dikembangkan dan difokuskan lebih jauh lagi dalam bentuk tindakan nyata sehingga derita Imam Husain as belasan abad lalu itu benar-benar mengalir dalam segenap aktivitas.

Dengan demikian, analog manusia dalam menganalogikan dan menerjemahkan apa yang dipahami dan diyakini tentang sejarah Arbain Husaini menjadi lebih cermat dalam mengenal figur “penjaga nilai” utusan Tuhan. Selain itu juga untuk memotong serentetan persoalan-persoalan sejarah yang akan dihadapi generasi berikutnya agar tidak menjadi keledai lestari yang selalu terjerembab pada lubang yang sama.[HPI]

Mahdi al-Athas, Sekretaris Umum (Sekum) Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.