Persoalannya Ada Pada Hoaks, Sekaligus Pada Manusia

Beberapa tahun terakhir, kita tak jarang mendengar kata hoaks, baik dari mulut ke mulut maupun lewat media massa, tapi setahun belakangan ini kata itu begitu nyaring gaungnya. Terlepas apakah hoaks itu dibuat untuk unsur-unsur kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Tapi faktanya banyak berita sengaja dimanipulasi dilepaskan dari konteksnya, data sengaja dipelintir ditampillkan infografisnya kemudian dikemas secara dis-informatif lalu diterima secara mis-informatif.

Faktanya juga, kita disuguhi bahwa hoaks begitu lemah gemulai seolah sebagai bentuk kewajaran.

Teranyar adalah lini masa medsos sepekan ini dihebohkan berita hoaks Ratna Sarumpaet yang mengaku telah dianiaya oleh sekelompok orang. Dalam postingan media sosial, nampak wajahnya lebam-lebam babak belur. Kemudian diperparah oleh kecenderungan mis-informasi oleh penerima informasi yang kemudian menjadi viral. Tak lama kemudian, Ratna mengaku bahwa ia telah berbohong dengan berbagai alasan. Mukanya yang tampak babak belur itu ternyata efek dari hasil oplas, atau operasi plastik. Bukan faktor dihajar oleh sekelompok orang.

Tulisan ini, tidak menyorot pada hoaks Ratna itu. Tetapi mencoba menyoroti hoaks secara umum menyangkut kehidupan dan aktivitas kita sehari-hari. Maka, pertanyannya adalah, siapa sumber berita hoaks itu? Dan bagaimana antisipasi supaya terhindar dari arus informasi hoaks?

Dalam kaca mata Islam, hoaks dianggap sebagai dosa besar, sebab ia masih “satu paket” dengan berbohong. Dalam konteks ini, Islam dengan tegas menyeru kepada umat manusia agar berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi atau berita di tengah masyarakat.

Sayidina Ali pernah wanti-wanti kepada kita supaya senantiasa memperhatikan apa yang diucapkan, dan jangan memerhatikan siapa yang mengucapkan. Dalam konteks level komunikasi ini, Sayidina Ali ingin mengatakan bahwa ada kalanya perlu memperhatikan siapa yang berbicara. Atau, cermati apa yang disampaikan serta perhatikan siapa yang menyampaikan. Pada konteks yang lain pula, jangan diperhatikan siapa yang berbicara, dan lupakan apa yang disampaikan. Hoaks berada pada level terendah ini.

Sayidina Ali as dalam sebuah hadist lain juga menasehati kita, “Janganlah berkata sesuatu yang kamu tidak tahu, kepada orang lain, bahkan, janganlah berkata segala sesuatu yang kamu ketahui sekalipun.”

Dalam konteks ini, Sayidina Ali ingin mengajari kita untuk waspada dalam menyampaikan berita dan berbagai hal. Mungkin saja, apa yang kita ketahui itu tak pantas atau tak tepat untuk diketahui oleh orang lain, atau semua orang. Apalagi sesuatu itu tak kita ketahui dengan baik dan benar. Selain itu, Sayidina Ali juga menyentil kita supaya kita tetap waskito ketika men-share sebuah konten berita yang belum jelas validitasnya, baik melalui Watsapp, Facebook maupun media sosial lainnya.

Abu Ali Fadhl ibn Hasan Tabresi atay Sheykh Tabarsi dalam kitabnya yang masyhur, Majma’ al-Bayan fi-Tafsir al-Qur’an saat menafsirkan Surat an-Nur ayat 19*, mengatakan bahwa para penyebar berita bohong pantas mendapat hukuman, baik berupa pengasingan, atau dalam konteks tertentu bisa dihukum gantung.

Artinya, penyebar hoaks adalah mereka yang layak mendapat hukuman setimpal, sebab ia adalah bibit kerusakan persatuan dan persaudaraan umat manusia. Karenanya, tak sedikit, bila kita amati, antara satu dengan yang lain, saling curiga dan bermusuhan, persis apa yang terjadi saat ini.

Lalu apa kaitan itu semua dengan upaya antisipasi hoaks? Tentu hoaks atau tidak hoaks, kembali kepada manusia sebagai pelaku komunikasi. Selama akal tetap sehat dan hati tetap jernih, yang satu dengan yang lain diikat sikap jujur dan waspada, maka, pelakunya tidak akan memproduksi hoaks, sekaligus tidak termakan hoaks sekalipun itu remeh. []

Ali Ridho, ketua Divisi Kajian Ilmiah (KAIL) Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran.

* “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”, (QS. an-Nur: 19)

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.