Film Damascus Time (Be Vaghte Sham) Membongkar Propaganda ISIS di Suriah

Judul Film: Damascus Time (Be Vaghte Sham)
Durasi: 1 jam 48 menit
Produser: Mohammad Khazai
Sutradara: Ebrahim Hatamikia
Penulis skenario: Ebrahim Hatamikia
Penghargaan: Pemenang Crystal Simorgh untuk sutradara, efek suara, dan soundtrack film terbaik di Festival Film Fajr ke-36 di Tehran pada bulan Februari 2018.

Para pemain:
Babak Hamidian sebagai Ali (pilot)
Hadi Hejazifar sebagai Yunus (Bapak Ali)
Pierre Dagher sebagai Petugas Suriah
Layth al-Mufti sebagai Abu Khaled
Khaled al-Sayed sebagai Sheikh Mamdooh Sa’dieh
Ramy Atallah sebagai Talhah
Cynthia Karam sebagai Umi Salamah
Joseph Saklameh sebagai Abu Omar Checheni
Nada Abou Farhat sebagai Mariyeh
Carmen Bsaibes sebagai Hebah

Cerita ringkas:
Seorang pilot Iran (Yunus) dan putranya (Ali) ditangkap oleh pasukan ISIS di Suriah ketika mereka berada di negara itu saat mengirim kargo bantuan kemanusiaan dan mengevakuasi warga Suriah yang terjebak di wilayah dilanda perang.

Keadaan darurat muncul ketika Palmyra (Tadmur) di Suriah timur jatuh ke tangan kelompok ISIS. Ali dan ayahnya, Yunus, berusaha menyelamatkan warga dengan menerbangkan pesawat kargo Ilyushin untuk menghindari pembantaian ISIS di wilayah Palmyra. Sisi lain di Iran, istri Ali menelponnya dan mengambarkan kalau anaknya akan segera lahir. Keadaan semakin tegang ketika ibu mertua Ali dengan berbagai alasan mengkritik Ali karena meninggalkan istrinya. Ali berjanji bahwa ini akan menjadi perjalanan terakhirnya.

Perang batin berkecamuk hebat dalam diri Ali. Ali hanya punya dua opsi pilihan, memenangkan keinginan untuk mendampingi istrinya melahirkan di Iran, atau mengemban tugas sebagai pilot, sebagai prajurit dan sekaligus sebagai patriot dengan keahliannya untuk menyelamatkan banyak nyawa, atas nama kemanusiaan.

Bedah Film
Kamis malam, 27/9/2018, pukul 21:30 waktu setempat, bertempat di ruang lantai dua sekretariat HPI, divisi Kajian Ilmiah (Kail) menggelar acara nobar dan bedah film berjudul Damaskus Time atau Be Vaghte Sham dalam bahasa Persia. Sebuah film baru yang telah memenangkan tiga penghargaan bergensi di ajang Fajr International Film Festival (FIFF) ke-36 di Tehran pada bulan Februari 2018.

Sudah menjadi tradisi dan rutinitas, Kail saban malam Kamis selalu mengadakan acara diskusi berbagai macam tema dan subjek, termasuk bedah buku atau bedah film. Malam Kamis ini, Kail memilih tema diskusi dengan membedah film berjudul diatas. Sebuah film yang disambut hangat oleh masyarakat dan dikagumi oleh banyak pejabat Iran. Bahkan komandan pasukan Quds (IRGC), Qasem Solaimani memuji film tersebut sebagai mahakarya dari Ebrahim Hatamikia. Sebuah pujian dari seorang pelaku sejarah di medan perang melawan ISIS di Suriah dan Irak.

Usai Nobar . . . . Sambil menggeser sedikit badannya yang ramping ke kiri lantaran tempat duduknya “diserobot” Muh Bagir, Ali Ridho al-Kendali ketua divisi Kail HPI dalam mukadimah mengatakan, film Damascus Time mengandung banyak informasi dan pesan yang selama bertahun-tahun luput dari bidikan media mainstream.

“Sutradara film Damascus Time, ingin menunjukan kepada dunia, terutama Barat, bahwa Islam menolak segala jenis kekerasan yang selama ini di megavonkan oleh Barat lewat film-filmnya. Kita tahu, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai perdamaian dan kemanusiaan.

Dalam film ini, tokoh sentralnya adalah dua sosok warga sipil Iran yang juga Muslim taat yang berperan sebagai pilot dan co-pilot. Keduanya rela mengorbankan diri demi menyelamatkan ratusan nyawa manusia yang menjadi tawanan kelompok ISIS di salah satu kota di Suriah”, katanya bersemangat.

“Kedua pilot yang juga ayah dan anak itu, sebenarnya hendak mengubah mindset orang-orang yang salah berpikir. Banyak orang-orang Muslim yang taat, yang berlawanan dengan tampilan kekerasan itu sendiri, persis terlihat pada sikap jumud dan bengis yang melekat pada kelompok ISIS”, kata Ali Ridho yang kemudian mempersilahkan para hadirin yang berjumlah puluhan orang duduk melingkar itu “ngetokke” unek-unek berupa ide dan pandangan masing-masing.

Suasana sedikit hening, namun tetap khusuk. Mungkin lantaran mereka yang hadir sedang memikirkan dalam-dalam apa yang disampaikan oleh ketua Kail itu.

“ISIS itu adalah sebuah rekayasa,” kata kang Anwar pelan memecah keheningan.

Dengan mimik tetap santai dan serius, kang Anwar putra Sunda yang biasa bersuara lirih ini sedikit meninggikan volume suara,” Rekayasa ini bisa dipahami dalam film tersebut ketika beberapa anggota ISIS mengumbar ayat-ayat suci al-Quran dan hadist-hadist, yang kemudian dijastifikasi dalam bentuk tindakan-tindakan destruktif mengatasnamakan Islam. Dan strategi ini sangat efektif”, katanya sambil nyruput teh hangat dalam-dalam. Nampaknya kang Anwar benar-benar menikmati seduhan teh dari tangan barokahnya pakdhe Tadho.

Di sebelah kiri kang Anwar, Muh Baqir yang sejak awal standby serius mengikuti acara mengamini kang Anwar.

Sementara bang Maul yang mengambil posisi duduk disebelah kiri Ridho, mulai menganalisis. Sambil menyedot sebatang rokok Bahman kucek yang setia menyelip di jari-jari tangan kanannya, ia mengatakan, “Kita dapat saksikan bersama bahwa agaknya, sutradara berupaya menyampaikan pesan persatuan diantara bangsa Persia dan bangsa Arab. Dalam hal ini, Iran, Irak dan Suriah.

“Film ini menjadi counter propaganda atas segala provokasi dan seruan perpecahan yang selama ini didengungkan oleh media barat pada publik Persia dan Arab demi terciptanya permusuhan serta ketegangan diantara mereka”, jelas bang Maul mantap.

“Beberapa anggota ISIS pada dasarnya orang Barat yang berdandan ala “jihadis” dengan tujuan propaganda dengan jubah Islam. Beberapa dari mereka menunjukkan apa yang mungkin dilihat sutradara sebagai versi perilaku Islami yang rusak”, timpal Muh Baqir dengan logat Bangil-an sambil memainan pensil ditangan kanannya.

Baik Muh Baqir maupun bang Maul, keduanya serempak sepakat bahwa film itu sebagai upaya counter propaganda Barat yang selama ini Iran digambarkan sebagai negara yang memproduksi terorisme seperti ISIS. Kenyataannya pemerintah Iran dan ISIS justru bermusuhan. Hal yang menurut Muh Baqir dan Bang Maul, mungkin film itu sebagai bom kejut bagi banyak orang di Barat yang jatuh di bawah mantra perang psikologis yang menjadikan Iranophobia sebagai tambahan Islamophobia.

Semakin malam suasana di rungan diskusi kian khusuk. Meski sebagian kawan-kawan yang baru datang hilir mudik sedikit memecah konsentrasi, tapi itu malah menambah sumringah suasana. Kalau dulu Juergen Habermas pernah prihatin atas hilangnya ruang publik bertukar informasi dan menginteraksikan ide dan opininya dengan santai, maka di ruangan lantai dua HPI ini, Habermas tersenyum lebar dari liang kuburnya.

Diskusi tetap jalan dan kian mengerucut. Seolah tak mau kalah dengan bang Maul, mang Iman yang duduk disebelah kiri bang Maul juga mencoba menganalisa dengan tajam. Sambil menyeka mukanya yang agak letih dengan kedua tangannya, mang Iman, mengatakan, “Sayangnya, propaganda ISIS itu berpengaruh besar di tengah masyarakat kita. Bahkan respon dan counter dari masyarakat terhadap ISIS malah dianggap sebagai lawan. Ini karena kelompok ISIS itu cenderung merekrut masyarakat yang secara mental semacam orang putus asa. Dan itu ditunjukkan dalam film, dengan karakter Umi Salamah. Sayangnya, entah bagaimana proses rekrutmen yang dilakukan oleh ISIS sehingga dapat menjaring orang seperti Umi Salamah,” katanya.

Di sebelah kanan pojok mang Iman, agak jauh dari lingkaran diskusi, mbah Rasyid yang khusuk sejak awal angkat suara. “Ya, tak dapat dipungkiri bahwa ayat-ayat suci al-Quran yang memiliki lapisan-lapisan batin tentu tak dapat diakses oleh sembarang orang. Pemahaman dangkal tentangnya, dapat menuntun seseorang untuk bertindak radikal membuta”, timpal mbah Rasyid.

“Tetapi…..”, seolah tak terpengaruh oleh serbuan genangan asap rokok yang menyerbunya, mbah Rasyid melanjutkan, “Tetapi, ketika ayat-ayat suci tersebut disalahpahami dan disalahartikan, apalagi sampai dijadikan pembenaran atas apapun yang dilakukan, maka ini akan menghasilkan bencana kemanusiaan seperti keberadaan ISIS yang bengis ini”, tegasnya.

Pakdhe Hendri yang menikmati kepulan asap rokok dan tak pernah beringsut dari tempat duduknya sejak awal diskusi dimulai, mencoba mengalisa dari perspektif al-Quran. Dengan menggunakan bahasa jawa ngaplak pakdhe Hendri mengatakan, “Aku iki jan-jane ora iso nganalisa film, tapi ra popo tak cobane. ISIS dalam film tersebut oleh sutradara digambarkan dengan orang-orang yang selalu mendengungkan ayat-ayat al-Quran dalam setiap perbuatannya. Tak bisa dipungkiri, pada dasarnya, ini merupakan sesuatu yang baik tapi tujuannya yang jelek”, pungkasnya.

Sementara bang Oleng, yang duduk berhadap-hadapan dengan mbah Rasyid menimpali dengan logat Sulawesi-an medok dan mengajukan sebuah pertanyaan tajam, “Hloh, ISIS itu memandang manusia bukan manusia, iya toh….. kalau mau mendirikan “negara”, kenapa harus di Timur Tengah?”, tanya bang Oleng yang fasih dibidang pidana dan hukum ini sambil menyulut sebatang rokok.

Belum tuntas menyelesaikan segelas teh hangat bikinan Pakdhe Tadho, yek Mahdi yang sedari tadi sibuk mengencangkan kain sarungnya, mencoba mengurai film dari perspektif lain. “Dialog antara pilot (Bapak Ali) dengan Sheikh Mamdooh Sa’dieh menunjukkan ISIS punya atasan. Dan scene akhir, adalah pesan dari Iran dan ucapan terimakasih kepada para mudafei (penjaga) haram (makam para imam), karena tanpa mereka, semuanya sudah hancur. Termasuk kita disini dan, siapa saja dimana saja”, pungkas yek Mahdi sambil membetulkan gulungan sarungnya yang memudar.

Sekitar pukul 00.30 tengah malam, cak Tiw mencoba sedikit menambahkan, “Kalau selama ini Barat berusaha membangun opini positif untuk citra dirinya di medan perang Suriah, terutama dalam berita dan analisisnya, sekarang Barat mendapat perlawanan baru di medan budaya dan perfilman. Film Damascus Time, memberikan perspektif baru dari sudut Iran tentang realitas pertempuran melawan ISIS di Suriah. Selain itu, ini adalah upaya besar yang dilakukan Iran dalam melawan dominasi Hollywood, terutama dalam geopolitik global melalui film,” pungkasnya sambil membetulkan kaca matanya yang melorot ke pangkal hidung.

Sebelum acara benar-benar resmi ditutup, cak Tiw menggali pesan khusus yang mau disampaikan kepada masyarakat dunia dalam film itu.

Soal pembebasan ketakutan diri Ali saat menghadapi ancaman kematian dari ISIS, dan bagaimana proses perjalanannya sehingga menghasilkan keberanian dan perlawanan. Film itu memberi pesan kepada semua orang, ketakutan terhadap segala jenis kebengisan yang dilakukan ISIS, bisa dilawan dan dikalahkan, dimana saja.

“Dan itu ditunjukkan dalam dialog  antara Ali dan bapaknya disaat pisau tajam algojo ISIS berada di tengkuk keduanya,  siap melepas kepalanya dari badan”, kata cak Tiw serius.

Diskusi meski santai penuh tawa dan guyon, selalu menarik benang merahnya. Mungkin secara subjektif kita bisa melihat diskusi-diskusi semacam ini diperlukan dan digalakkan oleh siapa saja, sebagai sebuah metode pembelajaran praktis “demokrasi”. Diskusi Kail semacam ini bisa menjadi sebuah tawaran alternatif lain untuk bersama-sama men-jlentreh-kan ide dan gagasan berbagai masalah dan berbagai hal.

Diskusi model ini membuka pintu lebar-lebar, dengan senyum sumringah menyambut siapa saja dan apapun di dalamnya. Para hadirin mempunyai lapangan luas, duduk dan ndeprok di mana saja tanpa sekat, bahkan tembok dan pelataran HPI juga terbuka menyambut semua yang ingin hadir.

Kesimpulan:
1. Karakter yang diperagakan oleh tokoh Ali sebagai pilot adalah gambaran umum para pejuang mudafae haram dalam melawan ISIS;
2. Karakter ibu mertua Ali adalah karakter yang menjelaskan kebanyakan warga Iran;
3. Ayat-ayat suci al-Quran dan hadist dijadikan sebagai alat propaganda bagi kepentingan ISIS dalam merekrut seseorang;
4. Persatuan diantara bangsa Persia dan bangsa Arab terjalin cukup dinamnis dan saling menguntungkan;
5. Sisi kebengisan yang ditunjukkan oleh anggota ISIS, ada diantara mereka sisi humanis-nya, tapi mereka yang mempunyai sisi humanis, akhirnya akan tewas dibunuh oleh anggota mereka sendiri;
6. Sutradara mencoba mengulik mega skandal cinta antara ISIS dengan Barat dan Arab. Adegan-adegan dan dialog-dialog dalam film menunjukkan hal tersebut. Barat dan Arab men-support ISIS dengan berbagai peralatan, termasuk mobil-mobil mewah ISIS dengan berbagai merk salah satunya adalah Toyota, drone-drone super canggih, alat-alat tempur canggih dan berbagai alat-alat komunikasi lain.
7. Banyaknya warga asing yang mendominasi tubuh ISIS dan mereka menguasai berbagai divisi penting dan kebijakan.
8. Karakter rekrutan ISIS adalah mereka yang secara mentalitas bermasalah dan mengalami problem kehidupan.
9. Sutradara juga mencoba membongkar propaganda ISIS secara cermat, dengan menunjukkan tehnik pemalsuan data, gambar dan video yang diproduksi ISIS untuk menciptakan teror global.
10. Musuh utama ISIS selain muslimin yang dianggap berbeda dengannya adalah negara Iran dan bukan Israel. [HPI/MUH]


Suasana sebelum nobar

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.