Hujjatul Islam, M.H. Zein: “Demokrasi Hanya Instrumen Umum, Tak Memiliki Patokan Rinci”

Hujjatul Islam, Muhammad Habry Zein dalam diskusi kebangsaan di Tehran dengan tema, “Masa Depan Demokrasi Indonesia dan Tantangan Zaman” mengatakan, demokrasi itu mengandung makna bahwa kekuasaan ditangan rakyat, dan ini menurutnya menjadi istrumen dalam menata negara menuju harapan rakyat.

Namun demikian, menurut Habry Zein yang mewakili Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran itu lebih lanjut mengatakan, dalam kekuasaan rakyat itu ada batasan-batasannya. “Batasan batasan mengenai kekuasaan rakyat tergantung dari tafsiran evolutif dan dinamis dari masing masing kelompok masyarakat, karena demokrasi hanya sebuah instrument umum saja tanpa memiliki patokan rinci, dan bukan pula statis”, katanya pada Jumat, 28/09/18, di kampus University of Islamic Sects, Tehran.

Dalam pandangannya, demokrasi tidak bersinonim dengan musyawarah, tetapi minimal musyawarah adalah kelaziman dari demokrasi yang tak bisa terpisahkan, dan itu terus melekat pada demokrasi, karena, lanjutnya “tidak ada demokrasi tanpa musyawarah”.

Terkait dengan urusan sistem negara dan masyarakat, menurut Habry Zein, masyarakat bisa melihat bahwa musyawarah itu baik untuk pemilihan terhadap pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam kepengurusan negara, bahkan dalam permasalahan didalam internal masyarakat itu sendiri yang dianggap sebagai sebuah kelaziman, dan itu adalah demokrasi.

Terkait dengan masalah “mayoritas” atau suara terbanyak, menurutnya pendapat itu bukan menjadi parameter kebenaran, tapi sebagai konsep praktis pelaksanaan demokrasi.

Mengutip ayat al-Quran Asy-Syura:38, habry Zein mengatakan, ayat al-Quran itu walaupun berisi masalah musyawarah, tetapi mengandung makna penerimaan pendapat mayoritas sekaligus. “Didalam musyawarah dengan berkumpulnya para ahli tentunya menuju pandangan mayoritas sebagai pandangan utama ketika berhadapan pada dua opsi pilihan, mayoritas dan minoritas dan penerimaan mayoritas menurutnya adalah rasionalitas”, tegasnya.

Menurut Habri Zein, batasan demokrasi adalah batasan terkait kekuasaan rakyat, dan hal ini kembali kepada tafsiran pada masing-masing nilai yang diterapkan. “Sebagian melihat tak ada batasan secara mutlak dalam tiga aspek, yaitu eksekutif, legistatif dan yudikatif. Baik dengan adanya parameter pemilihan yang akan duduk pada lembaga-lembaga negara tersebut, atau pada pelaksanaan dan penentuan didalamnya, seperti penentuan hukum dan penentuan pelaksanaan peradilan, ataupun batasan-batasan lain yang sesuai dengan nilai yang disepakati seperti batasan pandangan komunis, atau pandangan agama”, tegasnya.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, Habri Zein berpendapat bahwa Pancasila merupakan nilai-nilai positif yang bisa diterapkan pada instrumen demokrasi, dengan segenap batasan-batasannya, yang menurut Habri Zein, itulah Demokrasi Pancasila.

“Dari pengertian tersebut, kita bisa pahami bahwa nilai-nilai Pancasila menjadi karakter utama yang membentuk prinsip demokrasi Indonesia. Dengan kata lain, prinsip demokrasi Indonesia berporos pada lima pilar utama, yaitu Pancasila,” tegas Habry Zein.

Seluruh pilar-pilar Demokrasi Pancasila beserta ciri-cirinya tidak bertentangan, atau bersebrangan dengan al-Quran, bahkan al-Quran menegaskan akan pilar-pilar tersebut, “Pilar pertama sebagai konsep yang sangat jelas didalam al-Quran dan menafikan pandangan tidak bertuhan”, tegasnya.

Terkait dengan tantangan demokrasi di Indonesia, Habry Zein mengutarakan dua tantangan, yaitu pandangan ekstrem, dan tidak memahami kaitan antara agama dan Pancasila.

“Kesadaran hukum di dalam masyarakat terhadap Pancasila, UUD 1945, dan peraturan perundang-undangan lainnya masih belum merata dan menyeluruh”, kata Habri Zein. Hal ini menurutnya dapat dilihat dengan masih adanya tindakan-tindakan masyarakat atau anggota masyarakat atau orang-orang tertentu, baik di dalam infrastruktur ataupun suprastruktur yang menyalahgunakan wewenang ataupun main hakim sendiri”

Tindakan-tindakan yang bersifat main hakim sendiri dan merugikan pihak lain sebenarnya merupakan salah satu hambatan untuk terwujudhya suatu mekanisme demokrasi yang sehat, jelas Zein.

Di dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, secara psikologis dan karakteristik, masih terdapat sikap-sikap feodalisme, paternalistik, dan otoriter. Hal ini menurutnya disebabkan Indonesia pada masa silam dan sisa-sisanya sampai sekarang, yaitu terdapatnya kerajaan-kerajaan. “Di dalam sistem monarki, sikap feodalisme itu ditanamkan sejak kecil yang merupakan tradisi monarki. Sikap paternalistik masih terdapat dalam masyarakat adat sebagai peninggalan masa silam yang menjadi watak masa sekarang”, katanya.

Sebagai solusi, Habri Zein mengatakan pentingnya pendidikan untuk menunjang sistem politik demokrasi yang diwarnai persamaan, persaudaraan, dan kemerdekaan, serta terlindunginya hak-hak asasi manusia secara menyeluruh.

“Diperlukan dukungan pendidikan yang merata dan seluruh warga negara mengingat pendidikan sangat menunjang terhadap kemampuan untuk mengembangkan pemikiran, pengendalian perasaan dan kehendak, sehingga melahirkan analisis-analisis atau tindakan-tindakan yang bersifat rasional”, pungkasnya.

Bertempat di aula lantai empat kampus University of Islamic Sects, Tehran, acara dialog kebangsaan dengan tema “Masa Depan Demokrasi Indonesia dan Tantangan Zaman” dimulai pada pukul 14;45 waktu setempat. Acara yang digelar oleh Indonesia Discussion Forum kerjasama dengan Kedutaan Besar Indonesia untuk Tehran itu dibuka oleh Dubes RI untuk Iran dan Turkmenistan, Octavino Alimudin.

Selain Dubes, hadir dalam acara sebagai pembicara, Prof, Syafaatun Almirzanah Ph.D, Lutheran School of Theology at Chicago, Priadji Soelaiman, Diplomat Politik KBRI untuk Tehran, Hujjatul Islam Muhammad Habry Zein, CCIT, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran, Ismail Amien, IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) Iran, Kiki Mikael Ph.D, Candisate Shahid Bahesty University, Tehran, Purqon Hidayat, Kordinator Gusdurian Tehran, dan Muhammad Ma’ruf, Ph.D Candidate Musthofa International University, Tehran. [HPI]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.