Dubes Octavino Alimudin: “Perlu Optimalisasi Sistem Pemerintahan”

Jumat, 28/09/18, bertempat di aula lantai empat kampus University of Islamic Sects, Tehran, acara dialog kebangsaan dengan tema “Masa Depan Demokrasi Indonesia dan Tantangan Zaman” dimulai pada pukul 14;45 waktu setempat. Acara yang digelar oleh Indonesia Discussion Forum kerjasama dengan Kedutaan Besar Indonesia untuk Tehran itu dibuka oleh Dubes RI untuk Iran dan Turkmenistan, Octavino Alimudin.

Selain Dubes, hadir dalam acara sebagai pembicara, Prof, Syafaatun Almirzanah Ph.D, Lutheran School of Theology at Chicago, Priadji Soelaiman, Diplomat Politik KBRI untuk Tehran, Hujjatul Islam Muhammad Habry Zein, CCIT, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran, Ismail Amien, IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) Iran, Kiki Mikael Ph.D, Candisate Shahid Bahesty University, Tehran, Purqon Hidayat, Kordinator Gusdurian Tehran, dan Muhammad Ma’ruf, Ph.D Candidate Musthofa International University, Tehran..

 

Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dalam ruangan sebelum Dubes secara resmi membuka acara. Saat lagu kebangsan itu dikumandangkan, nampak hadirin berdiri penuh khidmat dan bersama-sama mengumandangkan lagu Kebangsaan. Usai lagu Indonesia Raya, wakil University of Islamic Scts, Tehran, Prof. Hojjatollah Ibrahimian memberikan sambutan.

Ratusan hadirin yang memadati rungan nampak antusias menyimak jalannya setiap sesi acara. Terlihat kursi-kursi yang disediakan panitia berjejer hingga baris ketujuh terdepan disesaki oleh hadirin. Acara dialog itu tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Indonesia di kota Tehran, juga para mahasiswa dan pelajar dari Mashhad, Gorgan, Esfahan dan kota suci Qom.

Sayang sekali, sejauh mata memandang, acara besar itu tidak nampak foto Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo dan Wapres,  Jusuf Kalla menghiasa ruangan acara. Padahal, acara diskusi itu sebenarnya sedang membicarakan nasib dan masa depan Indonesia.

Dalam sambutannya, Dubes menyebutkan ciri-ciri demokrasi yang sehat. Demokrasi yang sehat mempunyai beberapa ciri diantaranya, kebangsaan berserikat dan mengeluarkan pendapat, pelaksanaan pemilu serta adanya jaminan penegakan hukum. Menurutnya, di dalam UUD 45, kebebasan berserikat ada di sila ke-4.

Terkait masalah tantangan demokrasi saat ini, dubes menyebut masalah persatuan. “Kita bisa menyatukan pemerintah dan rakyat, karena pemerintah dibentuk rakyat, dan harus punya tujuan yang sama. Yang paling utama di dalam demokrasi adalah hak asasi manusia”, katanya. Indonesia adalah salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, jelasnya dan menyinggung faktor-faktor pendukung demokrasi yang sudah tersedia.

“Generasi muda, media dan tekhnologi informasi. Selain faktor itu, perlu kearifan dalam berfikir dan bertindak sesuai kerangka hukum”, jelasnya.

Tak kalah penting dari itu semua, menurut Dubes adalah optimalisasi sistem pemerintahan untuk mencapai tujuan utama negara, mendahulukan persatuan dan kesatuan. “Semua pihak harus menghindari perpecahan angsa demi kemajuan bersama”, tandasnya.

Hingga berita ini diturunkan, acara masih berlanjut. [HPI]

Laporan Zaky Fathoni dan Ali Ridho dari gedung acara

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.