Masa Depan Demokrasi?!

Syahdan, Socrates pernah mengkiaskan kondisi kota Athena seperti sebuah kapal, dan penduduk kota seperti para tuan kapal beserta anak buahnya. Katanya, rakyat di dalam kota-kota Yunani, seperti tuan-tuan kapal laut, namun, mereka tidak punya keahlian yang cukup. Di sana, ada anak-anak buah kapal. Masing-masing tuan menganggap dirinyalah yang pantas menjadi kapten kapal. Kendati tak penah menjalani pendidikan perkapalan, anak-anak buah memaksa tuan-tuannya agar menyerahkan nasib para penumpang ke tangan mereka.

Manakala sekelompok dari mereka berhasil merebut kendali kapal, muncul kelompok lain yang mendepaknya keluar dari kapal, begitu seterusnya. Sampai akhirnya, hanya ada satu kelompok yang berhasil mengendalikan kapal, sambil meraup perbekalan kapal dan penumpang. Ketika itu, pelayaran berlangsung tak ubahnya pesta pora. Dan, semua kroni-kroni yang membantu makar tuan, disanjung bak pelaut terulung yang mampu mengendalikan kapal. Mereka tak pernah memahami bahwa melaut semacam pengetahuan yang memerlukan telaah luas tentang pergerakan bintang, perubahan cuaca, angin dan tentu saja alam.

Socrates mengakhiri kiasannya dengan sebuah pertanyaan, “Di dalam kapal yang berlayar dengan kendali kapten demikian itu, tidakkah kapten yang sesungguhnya dituding sebagai tukang ramal dan sampah?”

Kiasan Socrates itu adalah cerita soal bagaimana sebuah sistem yang mengandalkan suara terbanyak (demokrasi). Sebuah model yang kemudian dianggap sebagai pilihan purna di tengah masyarakat modern untuk sebuah penyelenggaraan politik dan pengaturan sebuah negara. Bobot utama politik sistem ini adalah kekuasaan. Perangkat utamanya menggunakan kekuatan modal, pengerahan massa, dan retorika nilai. Hilir persaingan politik ini adalah kemenangan dan kekuasaan, bukan kebenaran dan keadilan, maka banyak output sosial demokrasi yang justru sangat menyakitkan dan menyengsarakan rakyat yang justru terlibat didalamnya.

Kegelisahan Socrates akan nasib masyarakat Athena, sangat logis, sebab dengan itu, semua makhluk penghuni kehidupan berhak menjadi kapten kapal, dan anak-anak buah punya hak dan kebebasan memilih tuannya, sekaligus menjadi kapten.

Sejauh ini, demokrasi belum ada yang purna secara definitif. Demokrasi, acapkali digunakan sebagai nilai untuk sistem demokrasi liberal, yang merupakan varian demokrasi perwakilan yang termasuk unsur-unsur didalamnya; pluralisme politik, persamaan didepan hukum, hak untuk mengajukan petisi kepada pejabat terpilih, proses hukum, kebebasan sipil, HAM, dan hak elemen masyarakat sipil di luar pemerintahan.

Sebagai sebuah kerangka sistem, demokrasi sendiri tidak punya dosa, dia tetap bersih dan masih tetap perawan tak ternoda. Demokrasi bukan sebuah nilai  untuk sebuah pengaturan kehidupan. Ada sistem nilai yang harus dijadikan batu bata bangunannya, sebagai  syarat perlu, yaitu moral, dan hukum. Dan yang tak kalah penting diluar kompetensi dan integritas dari para pelaku adalah, tatkala spritualitas ditempatkan sebagai syarat prioritas.

Disini, peran spritualitas menjadi syarat wajib, bukan saja syarat perlu bagi para pelaku untuk menyortir seorang terdakwa, atau maling ayam, atau jebolan universitas tawuran yang dianggap sebagai ulama, atau yang mengulama-kan diri.

Keresahan Sokrates memuncak, tatkala aturan suara mayoritas dinyatakan hanya sebagai ciri dan nilai final demokrasi. Dengan nilai itu, memungkinkan bagi minoritas politik untuk ditindas oleh “tirani mayoritas” tanpa ada perlindungan hukum terhadap hak individu atau kelompok. Dari sudut ini pula, bagian vital dari kehidupan masyarat “ideal” dengan segenap keadilan, dan setara, tercerabut oleh tindakan demokrasi tirani mayoritas.

Sekalipun di beberapa negara, slogan kebebasan ekspresi politik, kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan bahkan di dunia maya dianggap penting untuk memastikan bahwa warga mendapat informasi yang baik dan memungkinkan warga untuk memilih sesuai dengan kepentingannya sendiri. Tetap saja, bentuk yang seperti ini belum mencukupi, sekalipun “tampaknya” sudah memenuhi syarat.

Kegelisahan Sokrates semakin menjadi-jadi ketika demokrasi hanya dilihat dari sisi hak pemilih dan dipilih, yang seolah-oleh itu adalah nyawa demokrasi. Pada saat yang sama mengabaikan moral pemilih dan yang dipilih yang merupakan bagian vital tak terpisah, termasuk hukum dalam masyarakat sebagai pengawal dan garda demokrasi sebagai sistem social contract.

Now, apakah sekarang ini kita sebagai warga sudah mampu menimbang “harapan” pemilih di banding dengan hak untuk memilih atau keikutsertaan dalam pemilihan? Apa lagi ketika penimbangan itu adalah bentuk kolektif “harapan” pemilih. Hal yang lebih mengkhawatirkan, pemilih hanya memberikan inspirasinya dengan menjatuhkan pilihan kepada orang yang lemah gemulai dalam berslogan dan beretorika yang seolah-oleh sudah mewakili “harapan” pemilih.

Demokrasi tidak hanya mengusung “rule of the people” tapi juga memberlakukan nilai-nilai spritualitas atau nilai kemanusiaan sosial. Hal yang akan menjadi pembeda ketika seseorang sebagai kapten kapal dengan menjaga moral dan integritas. Tanpa nilai spritualitas, bisa dipastikan, para kapten kapal malah akan menggunakan nama demokrasi untuk menggadaikan negara, atau malah menginvasi negara lain.

Des, kasus diatas sekarang sedang dan akan terjadi di Republik Indonesia atau bahkan dimana saja di dunia ini. Tak usah heran, dan tak usah gopoh ketika kemudian muncul makhluk yang bernama “demokrasi slogan” dengan berbagai variannya, sehingga mungkin sebagai warga yang baik, perlu sekali lagi mencari model yang terbaik untuk masa depan Republik Indonesia dan menyepakatinya bersama.

Kalau misalnya tiba-tiba kita ditanya, “Bisakah Anda sebutkan mana seseorang yang bisa menyelamatkan Indonesia dari kegagalan dengan sistem yang ada itu? Kalau Socrates dengan kapal dan kaptennya sedang mempertanyakan nasib sang penyelamat, kita sedang menanyakan siapakah realitas para penyelamat itu?!. [Faza]

Tulisan ini murni pandangan penulis dan bukan pandangan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran.

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.