Ustadz A. Arfan: “Imam Husain as Membangun Kepekaan Masyarakat”

Kamis, 20/09/18, adalah acara puncak peringatan Asyura yang digelar di sekretariat Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran. Acara yang dimulai pada pukul 16:00 lepas dhuhur itu dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci al-Quran yang dibacakan oleh ustadz Qamaruddin.  Usai pembacaan ayat suci al-Quran, Zaki Fathoni, sebagai pembawa acara meminta kepada ustadz Abdurrahman Arfan
menempati tempat ceramah untuk memulai ceramah Asyura.

Tepat pukul 16:20, ustadz Abdurahman Arfan memulai ceramah. Mengusung tema: “Pesan dan Hikmah Peristiwa Asyura”, ustadz Arfan mengawali ceramah dengan mengucapkan salam dan bela sungkawa kepada para aimmah, kepada para syuhada Karbala, kepada Sayidah Fathimah az-Zahra, Imam Hasan al-Mujtaba, dan segenap dzurriah Imam Husain as, khususnya imam zaman (Imam Mahdi as).

Ustadz Arfan juga berdoa kepada Allah Swt, semoga kita menjadi pecinta Abi Abdillah al-Husain.

Mengutip ayat al-Quran, surat al-Fajr ayat, 27-28, ‘Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah'(wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya),’ ustadz Arfan mengatakan, acara Asyura yang digelar sejak dari malam pertama sampai akhir, atas dasar kecintaan kepada rasulullah, Fatimah Zahra as dan imam Husain. Dikatakannya, peristiwa Asyura adalah peristiwa yang sangat agung.

“Ingin membuktikan cinta kepada Abu Abdillah, dan tentu untuk menentang musuh-musuhnya.

Peristiwa Asyura sungguh agung, sehingga kita tidak mungkin menjelaskan keagungannya, dengan segala hikmah dan pelajaran didalamnya. Semua keagungan itu terwujud dari sosok Abi Abdillah al-Husian”, katanya.

Menurut ustadz Arfan, keagungan Abi Abdillah al-Husain, sejak ada dalam perut Sayidah Fatimah Zahra as.

“Dialah panutan dan tempat kembali. Semua kesempurnaan ada pada diri Abi Abdillah al-Husian.. ‘al-Husian misbahul huda wa safinatun najah’, maka semua harus bersama al-Husain.

Pribadi yang mendapat bimbingan langsung dari Amirul Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib). Pribadi yang selalu ditangisi oleh Sayidah Zahra as saat masih dalam perut. Saat hamil mengandung Imam Husain, Sayidah Fathimah selalu mendengar apa yang dikatakan Imam didalam perutnya. Imam berkata kepada ibunya, ‘ana qharib, ana adsyan'”, terangnya.

Memahami dengan baik latar belakang mengapa Abi Abdilah ke Karbala membawa serta anak-anak dan keluarganya, menurut ustadz Arfan adalah sebuah pelajaran yang terbaik, dan menjelaskan bahwa, semakin ingin mengetahui latar belakang dan hikmah dibalik gerakan Abi Abdillah al-Husian, maka akan membentuk pemahaman kita secara sempurna mengenai Islam.

“Selama itu tidak terwujud, maka kita belum mendapatkan sesuatu yang terbaik. Pemahaman kita tentang Islam belum maksimal. Itu adalah sesuatu dan bekal pemahaman kita tentang Islam, karena gerakan Imam Husain as adalah kepanjangan dari apa yang dibawa oleh Rasulullah”, terangnya.

Menurut ustadz Arfan, pentingya memahami dengan baik gerakan Aba Abdillah al-Husain akan membawa kita mengetahui taklif dan tanggungjawab.

“Ini berkaitan erat dengan taklif, karena itu, pemahaman terhadap gerakan imam Husain, menjadi sangat penting. Memahami hikmah dan pesan Abi Abdillah, untuk mengetahui taklif kita”, terangnya. Dengan pemahaman yang benar, kita tidak lagi dipertanyakan oleh Allah, sebaliknya, jika kita acuh terhadap itu semua, maka kita akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak, lanjutnya.

Ada dua faktor utama mengenai latarbelakang gerakan Imam Husain as yang menurut ustadz Adran diantaranya, kondisi umat pada waktu itu tidak lagi menjunjung nilai-nilai agama dan nilai universal, dan menumbuhkan kembali jiwa kepekaan, dan nilai universal masyarakat.

“Perilaku Yazid berpengaruh kepada umat Islam. Umat Islam pada waktu itu lalai dan tidak bersikap, bahkan sekedar menyampaikan kebenaran saja merasa ketakutan. Agama hanya menjadi nilai yang tidak ada substansinya. Maka Imam Husain as datang, sehingga terjadilah peristiwa Asyura, supaya umat Islam tidak lalai,” tandasnya.

“Menumbuhkan kembali jiwa kepekaan, dan nilai-nilai universal adalah alasan kenapa imam bangkit, untuk membangunkan kesadaran dan kepekaan masyarakat. Mengapa? Karena ‘annas aadat ilaihim jahilu’, (manusia akan kembali kepada jahiliyah),

ketika melihat apa yang dilakukan Yazid, masyarakat akan kembali kepada ‘murtad’. Murtad, yakni tidak mengakui wilayah imam Husain as dan menolak konsep imammah yang dibawa rasulullah. Disinilah muncul akar jahiliah kembali, yang akan merusak sistem komunitas Islam”, tegasnya.

Menurut ustadz Abdurahman Arfan, jika kondisi masyarakat seperti yang dijelaskan itu terjadi, maka Islam akan tinggal nama. “Imam datang ingin masyarakat sadar, setidaknya untuk umatnya kelak. Imam bergerak dari Madinah menuju ke Mekah, dan bertemu dengan tokoh-tokoh agama yang hidup semasa Rasulullah. Tetapi, ketika Imam bergerak menuju ke Karbala, mereka mencegah imam”, katanya.

Mengutip dialog antara Imam Husain as dan Farazdaq, ustadz Arfan mengatakan bahwa dalam dialog tersebut membuktikan lalainya masyarakat terhadap Imam Husain as.

Diceritakan saat itu Farazdaq bertemu dengan Imam Husain as dan mengatakan, ‘aku bertemu dengan Imam Husain dekat Mekah, Imam Husain as, bertanya kondisi warga Kufah. Aku berkata, ‘Wahai tuanku! Hati-hati mereka bersamamu, namun pedang mereka akan membunuhmu. Imam Husain as menjawab, “Apa yang engkau katakan, benar. Takdir ada di tangan Allah. Jika qadha dan ketentuan Allah sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita akan bersyukur atas nikmat tersebut, dan kami akan meminta pertolongan-Nya untuk menunaikan rasa syukur tersebut. Adapun jika ketentuan Allah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, mereka yang niatnya benar dan benar-benar bertakwa tidak akan jauh dari keridhoan Allah dan tidak pula akan rugi,”.

“Jika badan diciptakan untuk mati, maka mati terbunuh di jalan Allah dengan pedang akan lebih baik. Dunia adalah hal kecil, kematian hal biasa.  Perniagaan kita di dunia, akan hilang”, tegas ustadz Arfan

“‘Inna liqalil Husain hararah’, bahwa revolusi Aba Abdillah ada disepanjang zaman, maka apa yang disampaikan Imam, tetap ada pada pundak kita. Kita mengambil banyak pelajaran, diantaranya adalah keinginan menumbuhkan kesadaran umat yang lalai. Sayid Muhammad Baqir mengatakan, jahiliah ada di sepanjang zaman dengan segenap perkembangannya. Dan setiap yang keluar dari sistem agama, maka itu adalah jahiliah”, pungkas ustadz Arfan.

Ceramah selesai pada pukul 17; 11, dilanjutkan pembacaan maqtal dibawakan oleh Muhammad Mahdi, dilanjutkan maktam dan diakhiri dengan pembcaan doa ziarah bersama yang dipimpin oleh ustadz Hendar Yusuf. [HPI/Ass]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.