Ustadz Ismail D. Naba: “Gerakan Imam Husain as, Bukan Merebut Kekuasaan”

Rabu malam (19/09/18), adalah malam kesepuluh. Acara terakhir Asyura yang diadakan di sekretariat Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran. Acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci al-Quran yang dibacakan oleh Ali Hadi, kemudian disusul acara inti, ceramah mutiara dan hikmah Asyura.

Tepat pada pukul 20:10 waktu setempat, Husain Hashemi al-Edrus, pembawa acara memberikan waktu dan tempat kepada ustadz Ismail Daeng Naba untuk menuju mimbar dan menyampaikan ceramah.

Dalam pengantarnya, ustadz Ismail mengajak hadirin untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat yang diberikan kepada kita sebagai manusia yang menang di dunia, tetap beribadah kepada Allah, dan menjadi hamba-Nya. ustadz Ismail juga mengajak kita untuk menuju kepada maqam abid (hamba), maqam tertinggi yang dicapai oleh rasulullah Saw, dan itulah bentuk kesempurnaan manusia sebagai ciptaan-Nya.

Mengangkat tema, “Asyura Dalam Perspektif Imam Ali Khamenei”, ustadz Ismail menyebut bahwa tawalli harus disandingkan dengan tabarri. Konsep ini tertulis dalam doa ziarah Asyura.

“‘Ini silmun liman salamakum, wa harbun liman harabakum’, dua kalimat ini adalah bentuk dari tawalli dan tabarri. Rasa cinta kepada Allah saja tidak cukup, tapi perlu bertabarri”, tegasnya.

Tawalli adalah sebuah konsep teologis yang berupa sikap cinta dan loyal kepada rasul dan imam untuk menerima wilayah kepemimpinan mereka. Sementara tabarri adalah konsep hukum wajib untuk berlepas diri dari musuh-musuh imam as. Banyak riwayat dan teks-teks Islam mengupas mengenai dua hal ini. Dalam penggalan doa ziarah Asyura yang disebutkan ustadz Ismail diatas adalah salah satunya, yang berupa manifesto kecintaan kepada Imam Husain as, sekaligus memusuhi musuh-musuhnya.

Menurut ustadz Ismail, imam Ali Khamenei memandang Asyura bukan sekedar sebuah fenomena belaka, tapi berbegai dimensi pelajaran yang harus diamalkan oleh seluruh umat manusia baik dirinya sebagai muslim maupun tidak.

“Bangkitnya imam Husain sejak di Madinah, Mekah dan kemudian di Karbala sampai menemui kesyahidan, mempunyai banyak pelajaran dengan berbagai bentuk dimensi kehidupan manusia, termasuk, politik, pemerintahan, manejemen dan lain-lainnya”, tegasnya.

Menukil dua pandangan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan imam Husain as, melakukan perlawanan hingga menemui cawan shahadah, ustadz Ismail menyebut bahwa imam Ali Khamenei mempunyai pandangan sendiri.

“Ada yang menyebut Imam Husain as, merebut kekuasaan untuk membentuk pemerintahan Alawi dan keadilan. Menurut imam Ali Khamenei, pandangan ini tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Jika ingin mendirikan pemerintahan yang adil, lalu ada kemungkinan tidak akan berhasil, maka secara logika, harus mundur, jika ada kemungkinan besar bisa dan berhasil, maka ini harus dilanjutkan”, terang ustadz Ismail.

Imam Ali Khamenei menyebut bahwa seluruh gerakan imam, tidak menunjukkan tanda-tanda untuk merebut kekuasaan demi mendirikan pemerintahan Alawi dan keadilan, tandas ustadz Ismail.

Pandangan yang kedua adalah untuk mencapai syahadah. Karena menurut pemilik pandangan ini, imam Husain as, tidak bisa melakukan apa-apa kecuali syahadah, maka imam melakukan syahadah.

“Jika demikian, imam Husain as tidak mempunyai tujuan pasti dan suci, dalam pandangan Islam, hal ini sama dengan tindakan bunuh diri. Menurut imam Ali Khamenei, keyakinan seperti ini mencampurkan antara tujuan dan hasil… dan itu bukan tujuan, tapi merupakan hasil,” tandas ustadz Ismail, dan melanjutkan bahwa, revolusi selalu tidak akan keluar dari dua hal, syahid atau merebut kekuasaan.

“Tujuan imam Husain as adalah menjalankan tugas dan kewajiban besar, sebelum masa-masa imam Husain, tidak ada yang pernah melakukannya. Hal itu karena tidak terpenuhinya syarat. Apa syaratnya itu?, tegasnya.

“Rasulallah Saw telah membentuk pemerintahan Islam sebagai pelajaran bagi muslimin, juga jihad sudah dicontohkan oleh rasulullah untuk pelajaran bagi seluruh muslimin. Termasuk didalamnya hukum-hukum sudah disediakan oleh rasul, kenapa imam Husain yang harus menjalankan ini? Karena syaratnya sudah terpenuhi”, terangnya.

Menurut ustadz Ismail, adanya masyarakat, adanya hukum, adanya pemerintah, mengharuskan semua ini harus dijaga supaya tidak keluar dari relnya.

“Dan fungsi imam Husain as adalah menjaganya”, jelas ustadz Ismal. “Syarat pertama adalah, Islam dalam bahaya dan masyarakat dalam kerusakan. Syarat kedua, situasi dan kondusi. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, maka tugas dan tanggungjawab ini sulit terlaksana. Dan kedua syarat ini ada pada imam Husain as”, lanjutnya.

Menurut ustadz Ismail, meski kondisi selalu disertai berbagai bahaya dan tantangan, tetapi gerakan itu harus tetap berjalan.  Dan seandainya kedua syarat tersebut ada pada imam sebelumnya, maka itu juga akan dilakukan. Dua hal inilah yang menjadi pembeda dengan kondisi-kondisi imam lain sebelum imam Husain as.

Mengenai tujuan imam, ustadz Ismail menyebut bahwa imam Husain ingin mengembalikan Islam pada relnya (jalan). “Hal itu diketahui dari ungkapan imam Husain as, yang mengatakan, “Sesungguhnya aku keluar hanyalah untuk menuntut perbaikan umat kakekku, aku hendak melakukan amar makruf nahi munkar.” Ini sama sekali bukan merebut kekuasaan, juga bukan syahadah,” terangya.

Dari sisi lain, ustadz Ismail menyebut ada berbagai dimensi gerakan dari Imam Husain di Karbala, diantaranya adalah gerakan intelektual dan logika, spritual dan emosional, pungkasnya.

Ceramah selesai pada pukul, 21: 15, kemudian acara pembacaan maqtal Abu Fadl Abbas yang dibacakan oleh ustadz Yopi, dilanjutkan pembacaan maktam oleh ustadz Dzilal dan kawan-kwan, dan diakhiri dengan pembacaan doa ziarah bersama yang dipimpin oleh Ammar Hakim. [HPI/Ass]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.