Ustadz A. Latif: “Perbaikan, Kata Kunci Gerakan Imam Husain as”

Mengangkat tema “Landasan Gerakan Imam Husain as”, Ustadz Abdul Latif mengatakan bahwa landasan perjalanan Imam Husain as dari Mekah menuju Karbala adalah untuk perbaikan umat kakeknya.

Menurutnya, hadist Nabi Saw mengenai peninggalan dua pusaka (Tsaqalain) kitabullah dan itrah Nabi merupakan satu kesatuan, keduanya saling terikat dan saling menafsirkan.

“Satu dengan lainnya saling menafsirkan, setiap perkataan Imam, harus dirujuk ke al-Quran, begitu juga sebaliknya. Imam sebagai manifestasi sifat Allah Swt, maka setiap sesuatu yang keluar darinya berasal dari al-Quran”, kata Ustadz Latif dalam ceramah Asyura di HPI pada Senin malam, 17/09/18.

Menukil sebuah hadist Imam Husain as yang mengatakan bahwa, “Sesungguhnya aku (Imam) keluar untuk memperbaiki umat kakekku”, merupakan kata kunci gerakan perjalan Imam Husain as sampai menemui kesyahidan, jelasnya.

“Kata islah (perbaikan), sebagai bentuk tanggungjawab dalam mempelajari ilmu-ilmu Allah SWT untuk kita. Perbaikan atau islah adalah gerakan perbaikan yang banyak disinggung di dalam al-Quran mengenai penjelasan falsafah diutusnya para nabi, tentang dasar diturunkannya agama. Islah memberikan arti kehidupan bagi kita”, katanya.

Meski kata “islah” dipakai dalam banyak hal lain, dan literatur-literatur diluar konteks ke-islaman, namun kata itu merujuk pada nilai-nilai perbaikan didalam tubuh masyarakat.

“Imam Ali as, mengatakan kesempurnaan seseorang adalah ketika mengadakan perbaikan didalam masyarakat. Islah secara leksikal adalah keseimbangan dalam satu kesatuan. Jika masyarakat tidak seimbang, maka itulah yang disebut sebagai fasad. Dan inilah yang melatari gerakan imam Husain as,” tandasnya.

Perkataan Imam Husain yang mengatakan ‘misli la yubayiu mislahu’, orang seperti saya tidak akan berbaiat kepada orang sepertinya (Yazid), adalah bahwa Imam Husain percaya, jika Yazid memerintah masyarakat, umat kakeknya, akan hancur dan ajaran Islam akan hilang.

“Karena itulah Imam ingin menegakkan keadilan didalam masyarakat. Ingin memperbaiki masyarakat untuk mencapai tujuan penciptaan manusia. Karena itu Imam Husain mengatakan, almautu aula min rukubil aari, wal aari aula min duhululin nar, (Kematian lebih baik dari hidup menanggung kehinaan. Namun kehinaan lebih baik dari masuk neraka)” tandasnya.

Menurut ustadz Latif, kata aari, “kehinaan” dibait pertama, adalah kehinaan disisi Allah Swt, sementara “kehinaan” dalam bait kedua adalah disisi manusia.

“Karena imam Husain mengetahui kehinaan apa yang akan terjadi setelah perang. Tapi tekad menegakkan keadilan, yang menjadikan diri Imam Husain as tidak menghentikan perjuangan ditengah jalan. Para rombongan lebih memilih hina disisi manusia, dari pada hina disisi Allah Swt”, tegasnya.

“Dan itulah apa yang diinginkan oleh Allah SWT sehingga syahadah lebih manis dari manisnya madu. Imam Husain as ingin mewujudkan masyarakat Qurani dan ideal, dan masyarakat yang ideal dan Qurani inilah yang menjadi landasan gerakan Imam Husain di Karbala”, terangnya.

Dalam pamungkas ceramahnya, ustadz Abdul Latif menjelaskan ciri-ciri masyarakat ideal dan Qurani yang dinginkan oleh Imam Husain as, diantaranya, beriman kepada Allah SWT, melakukan perbaikan pada diri masyarakat, menjujung tinggi nilai keadilan, mengamalkan aturan Allah Swt, bermoral mulia dan ber-amar maruf nahi munkar.

“Inilah masyarakat yang diinginkan oleh imam Husain as yang menjadi landasan gerakan imam di Karbala”, pungkasnya.

Ceramah selesai pada pukul 21:05 waktu setempat yang dimulai pada pukul 20:15. Acara dilanjutkan dengan pembacaan maqtal yang dibacakan oleh Faqihuddin, kemudian pembacaan maktam, dan diakhiri dengan pembacaan doa ziarah bersama yang dipimpin oleh ustadz Yusuf Suprayitna. [HPI/Ass]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.