Ustadz Ammar Hakim: “Seluruh Dimensi Kehidupan Sosial Manusia, Ada di Karbala”

Ini adalah malam ketujuh acara Asyura yang diadakan oleh Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran. Seperti malam-malam sebelumnya, pembacaan ayat suci al-Quran menjadi pembuka acara yang dibaca oleh ustadz Rasyid yang dilanjutkan dengan ceramah Ustadz Ammar Hakim. Pembawa acara yang dipandu oleh Ahmad Bahasyim, mempersilahkan ustadz Ammar Hakim tepat ada pukul 20: 15 untuk memulai ceramah dengan tema, “Falsafah Gerakan al-Husain”

Ustadz Ammar memulai ceramah dengan melontarkan beberapa pertanyaan; “Ada apa gerangan dengan al-Husain as? Siapakah al-Husain? Dan siapakah dia, sehingga seluruh alam tiba-tiba menjadi gila atas dirinya”, kata Ammar memulai ceramah pada Ahad malam, 16/09/18.

Menukil sebuah hadist, Rasulullah menggambarkan bahwa Imam Husain adalah bagian dari dirinya dan rasul bagian dari al-Husain, yang menurunya, ini adalah sesuatu yang perlu penjelasan.

“Husain minni wa ana min Husain. Kalimat Husain minni sesuatu yang jelas”, katanya, karena imam Husain adalah cucu Nabi. Wa ana min Husain, para ulama mengatakan, bahwa yang memunculkan Islam adalah Nabi, sementara yang menjaga kelestarianhya adalah al-Husain”, katanya.

Dijelakannya, sekiranya tidak ada Imam Husain as yang syahid di Karbala, maka Islam tidak akan abadi, Islam hanya akan tinggal namanya.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, setelah kepala Imam Husain as diarak keliling Kufah, seseorang bernama Ibrahim bin Thalhah bin Ubaidillah mengejek Imam Ali Zainal Abidin dan mengatakan, “Wahai Ali putra Husain, siapakah yang menang?”, Si penanya itu menutupi kepalanya, sementara Imam Ali dengan kedua tangan terbelenggu rantai dengan tenang menjawab, “Jika engkau ingin mengetahui siapa yang menang, tunggulah waktu shalat tiba, jika engkau masih mendengar suara adzan, maka iqamahlah”, kata Imam Ali as-Sajad as.

Menurut ustadz Ammar, maknanya adalah selama masih terdengar suara adzan, maka Islam-lah yang menang. Dan Yazid kalah dan sejak awal sudah kalah.

Menukil puisi Yazid yang mengejek keluarga rasul yang berbunyi;
لَعِبَتْ هاشِمُ بِالْمُلْکِ فَلاَ خَبَرٌ جاءَ وَ لاَ وَحْىٌ نَزَلْ

“Bani Hasyim telah bermain-main dengan kekuasaan, tidak ada kabar datang dan juga tidak ada wahyu yang turun”, Yazid telah mengingkari Islam, maka jika yang berkuasa adalah orang sepertinya, maka yang terjadi adalah kebinasaan Islam. Maka imam Husain as keluar untuk mengabadikan Islam dan mencapai tujuan tersebut”, tandasnya.

Ustadz Ammar juga menyinggung nilai agung diadakannya acara-acara Asyura Husaini, yang menurutnya untuk mengembangkan nilai-nilai spritualitas dan keimanan dan terus menumbuhkembangkan nilai tersebut.

Dikatakannya tubuh manusia dengan segenap dimensinya seperti pohon yang untuk berkembang membutuhkan air. Kalimatun thayyibatun, kasyajaratin ashkuhaa tsaabitun, wa faruha fissama. Kalimat tayyibah adalah la ilaha iIlallah. Ini adalah pohon yang baik dan suci. Menukil sebuah hadist bahwa kalimat lailahaillallah adalah bentengku, barang siapa yang masuk kedalam bentengku, maka akan selamat dari azabku…. tentu dengan syaratnya, kata Ammar dan dilanjutkannya, Imam Husain adalah syarat dari benteng tersebut, jelasnya.

Karena itu, menurutnya, salah satu falsafah memperingati acara Asyura Husaini adalah untuk menumbuhkan diri manusia dengan segenap dimensinya.

“Kesyahidan Imam Husain adalah bara yang membara dalam jiwa segenap muslimin, dan tidak akan pernah padam selamanya”, jelasnya, dan menjelaskan Imam Husain mengatakan, أنَا قَتیلُ العَبَرَةِ لایذکُرُنی مُؤمنٌ الا استَعبَرَ

“Aku syahid ber-airmata. Imam Husain, orang yang terbunuh bergelimang air mata,  tidak ada yang mengingatnya, kecuali para mukmin yang meneteskan air mata”, jelasnya.

Karbala adalah jalan yang diberikan oleh Imam kepada manusia. Semua dimensi kehidupan sosial manusia ada didalamnya, disana ada jihad, disana ada persaudaraan, disana ada kesetiaan dan disana pula ada penghambaan serta nilai-nilai penting lain bagi kehidupan manusia.

“Karena itu peristiwa karbala menjadi bara yang tidak akan pernah padam, dan karena itulah mengapa Sayidah Zaenab mengatakan, saya tidak melihatnya (peristiwa Karbala), kecuali keindahan”, pungkasnya.

Ceramah berakhir pada pukul 20:54 waktu setempat, dan dilanjutkan dengan pembacaan maqtal oleh Filhan Hidayat, dilanjutkan dengan maktam oleh Yopi cs, dan diakhiri dengan pembacaan doa ziarah bersama yang dipimpin oleh Muhammad Hanafi. [HPI/Ass]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.