Ustadz M. Hanafi: “Karbala Bukan Sekedar Fragmen Sejarah yang Berlalu”

Malam kelima acara Asyura. “Menghidupkan Ajaran Imam Husain as”, adalah tema ceramah yang dibawakan oleh ustadz Muhammad Hanafi yang diadakan di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran pada Jumat malam, 14/09/18.

Sebelum ustadz Hanafi meyampaikan ceramah, pembawa acara Ali Ridho Kendal membuka acara dengan pembacaan ayat suci al-Quran yang dibacakan oleh Chaesar Haddar.

“Keagungan bulan ini (Muharram) adalah sangat penting, karena bulan ini adalah hari-hari Husaini”, terang ustadz Hanafi dalam pembukaan ceramahnya. Menurutnya, bulan (Muharram) mempunya keistimewaan dan keutamaan, yang merupakan simbol perjuangan dan perjalanan sumber sejati setiap perjalanan.

“Imam Husain as adalah maha guru bagi jiwa-jiwa merdeka, tanpanya, maka Islam hanya akan tinggal namanya”, lanjutnya, dan menegaskan bahwa gerakan yang dilakukan Imam Husain as dari Madinah ke Mekah dan dari Mekah ke Karbala bukan gerakan kudeta atau kepentingan keluarga. “Karena itu menghidupkan gerakan al-Husain, harus kita jaga sepanjang masa”, jelasnya.

Ada beberapa cara untuk menghidupan gerakan Imam Husan as, salah satunya adalah mendirikan dan menghidupkan malam-malam duka al-Husain.

Menurutnya, kita harus ikhlas dalam menghidupkan ini. Bahkan menjadikan majelis ini seperti rumah Imam Husain as, dan memuliakan para hadirin. Bukan saja hadir dalam majelis ini untuk sekedar membangun kesadaran diri secara personal, juga ini adalah bentuk persiapan memahami kondisi sosial.

“Ini untuk persiapan diri memahami kondisi sosial masyarakat, dan perlahan mendapatkan syafaat dan keberkahan Imam Husain. Karena Imam Husain adalah cahaya sebagaimana tertulis dalam doa ziarah”, terangnya.

Mengutip penggalan doa ziarah waris, ustadz Hanafi menjelaskan bahwa Abu Abdillah adalah cahaya yang sama seperti cahaya Nabi Saw dan Ahlul Bait lainnya. “Aku bersaksi bahwa engkau adalah cahaya di sulbi-sulbi yang agung dan rahim-rahim yang suci”.

“Ashadu annaka kunta nuran fil-aslabi saamikhoh…. nur ini berdasarkan al-quran dan riwayat. Posisi imam Husain as adalah posisi cahaya, sebagaimana hadist nabi yang mengatakan “Husain minni wa ana min Husain“, karena keduanya adalah tercipta dari nur yang sama. Dan ini adalah keistimewaan alam cahaya dibanding alam materi”, tandasnya.

“Aslab saamikhoh wa arhami mutahharah, adalah silsilah itrah suci yang berasal dari nur suci (Cahaya), sebagaimana tertulis dalam ayat al-Quran dalam ayat Tathir”, jelasnya.

Sebagaimana Imam Husain adalah cahaya suci, sama seperti cahaya para Ahlul Bait dan Nabi Saw, maka di Karbala adalah peperangan antara hak dan batil, antara cahaya dan kegelapan, tandasnya.

“Perang dengan nilai-nilai luhur Imam Husain as dan, Yazid yang merupakan intisari dari kegelapan. Karbala bukan fragmen sejarah yang berlalu, Karbala adalah konsep perjuangan Husaini yang harus diabadikan, dan Yazid adalah konsep kedhaliman yang harus ditentang.

“Al-Husain menyadarkan masyarakat dengan cahaya yang melebihi cahaya apapun, itu adalah perjalanan dan logika inspirasi, yang bertentangan dengan logika materialistis yang memandang kematian adalah kehilangan.”

Menentang kedhaliman sejak di Karbala, dan sejak perjalan Imam Husain hingga sampai di Karbala, ia mempersiapkan segalanya”, jelasnya.

Di Karbala, ditengah kepungan musuh-musuhnya, Imam Husain tetap memberikan cahaya, dan memberikan petunjuk kepada semua orang untuk berpegang pada kebenaran dan menolak kegelapan, sebagaimana puisi yang dilantunkan oleh Imam Husain menjelang syahadah yang dibacakan oleh ustadz Hanafi dan diikuti para hadirin.

الموت اولى من ركوب العار والعار اولى من دخول النار

Kematian lebih baik dari hidup menanggung kehinaan. Namun kehinaan lebih baik dari masuk neraka

أنا الحسين بن علي آليت أن لا أنثني أحمي عيالات أبي

Aku Husain putra Ali, melindungi anggota keluarga ayahku

اليت ان لا انثني أمضي على دين النبي

Aku telah bersumpah untuk tidak menyerahkan diri. Aku berjalan sesuai dengan agama Nabi.

Usai ceramah dilanjutkan pembcaan Maqtal yang dibacakan oleh ustadz Yopi, dilanjutkan pembacaan Maktam oleh ustadz Hasaan Zakaria cs, yang diakhiri dengan pembacaan doa ziarah Imam Husain yang dipimpin oleh Faqih. [HPI/Ass]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.