Ustadz M. Iqbal: “Semua adalah Pemimpin, Cakupan Wilayah yang Membedakannya”

Mengusung tema “Kepemimpinan Dalam Asyura”, Chaesar Haddar sebagai pembawa acara mempersilahkan Ustad Iqbal untuk menyampaikan ceramah Asyura, namun sebelum itu, Ustadz Yusuf Suprayitna terlebih dahulu melantunkan ayat suci al-Quran sebagai pembuka acara.

Hadir dalam acara seperti ini (Peringatan Asyura) adalah ungkapan syukur kepada Allah Swt, yang nantinya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Majelis Muharram menambah nikmat sekaligus menambah potensi yang ada pada diri kita, sebaliknya jika kufur, Allah Swt tidak saja akan mencabut kenikmatan, bahkan akan menurunkan azab, demikian pernyataan Ustadz Muhammad Iqbal mengawali ceramah malam ketiga di Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran pada Rabu malam, 12/09/18.

Dikatakannya, keberadaan pemimpin ilahi seperti Imam Ali as yang mampu menyelesaikan semua problem, harus disyukuri, jika tidak, maka Allah Swt akan menggantikannya sosok seperti Muawiyah. “Bukan saja hilangnya kepemimpinan Imam Ali as, tapi mengganti posisi Imam Ali as dengan Muawiyah”, katanya.

Dalam agama, menurutnya, ada beberapa syarat utama sehingga seseorang bisa disebut sebagai pemimpin. Dalam terminologi al-Quran, semua orang adalah pemimpin, hanya saja cakupan wilayah yang membedakannya, dan semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.

“Bahkan seorang budak sekalipun adalah pemimpin ketika menjaga harta majikannya, dan itu akan dipertanggungjawabkan”, katanya, dan menegaskan, setiap diri kita adalah pemimpin, sekalipun untuk diri kita sendiri.

Ustadz Iqbal mengatakan, yang harus dimiliki seorang pemimpin menurut versi al-Quran ada dua syarat, yaitu mempunyai kapasitas kemampuan, dan amanah.

Menukil ayat al-Quran surat al-Qasas, ayat 26 yang bercerita tentang salah satu putri anak Nabi Syuaib as dengan Nabi Musa, “Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

“Kata, “alqawiyyu”, dan “alamiin” adalah kuat secara fisik, dan bisa dipercaya (amanah)”, katanya. “Meski kalimat alqawiyyu dalam kisah Nabi Musa ini berbicara kekuatan fisik, karena konteks al-Quran memang berbicara mengenai kisah dua putri Nabi Syuaib yang sedang menggembala, dan berusaha menimba air dari sumur untuk kambingnya, tetapi Nabi Musa punya kapasitas kemampuan dan amanah”, tandasnya.

Versi al-Quran juga berbicara mengenai kisah Nabi Yusuf (Surat Yusuf ayat 55) yang datang ke istana raja dan minta dijadikan sebagai bendahara kerajaan. “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Menurut Ustadz Iqbal, kata “hafiidun” dan “aliim” adalah orang yang mempunyai kemampuan menjaga dan berpengetahuan. “Dua hal dalam surat Yusuf itu adalah ciri yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin”, tegasnya.

Kemudian versi lain dari al-Quran ketika berbicara mengenai syarat pilihan bagi seseorang yang harus dipilih sebagai pemimpin tertuang dalam surat an-Naml ayat, 39-40 yang menceritakan dialog antara Nabi Sulaiman dengan para pembesar istana.

Ketika itu Nabi Sulaiman menanyakan siapa yang sanggup menghadirkan singgasana ratu Balqis kehadapan Nabi Sulaiman. Ifrit dalam surat itu mengatakan, mampu menghadirkan istana sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat dudukya. Namun, seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab mampu membawa singgasana itu kehadapan Nabi Sulaiman bahkan sebelum matanya berkedip.

Menurut Ustadz Iqbal, ayat ini berbicara mengenai bagaimana etika dan proses memilih seorang pemimpin dengan cara mendahulukan yang terbaik dari yang baik. “Kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang bernama Asif bin Barkhiya, “Qabla anyartadda ilaika tharfaka”, adalah bicara mengenai mana yang harus didahulukan dalam memilih seorang pemimpin, dan dalam konteks ini, Asif bin Barkhiya lebih mampu dari pada Ifrit, maka ketika itu Nabi Sulaiman lebih memilih Asif daripada Ifrit”, katanya.

Apa yang terjadi dengan peperangan di Karbala terkait dengan Imam Husain as dan Yazid adalah perang antara aimatul kufr dan aimatul huda, jelas ustadz Iqbal, dan dilanjutkannya, bahwa aimatul huda dalam konteks al-Quran mempunyai beberapa karakter.

“Karakter pertama adalah menjalankan perintah Allah Swt, diatas perintah apapun dan siapapun. Semua harus bersumber dari Allah SWT, dia harus menjadi abdinya Allah Swt.

“Karena Imam Husain mempunyai karakter sebagai aimatul huda, maka disaat menjelang kesyahidannya pun, ia tetap melaksanakan shalat, karena yang menjadi tolak ukur bagi Imam Husain as adalah Allah Swt, dan imam Husain tidak melihat apa-apa kecuali Allah Swt. Itu terjadi pada malam 10, ketika Imam Husain meminta waktu kepada musuh-musuhnya untuk beribadah kepada Allah SWT”.

Sementara sisi lain, menurutnya, karakter dari aimahtul kufr adalah mendahulukan hawa nafsu sebagai ganti dari perintah Allah Swt.

“Kepentingan yang berkuasa, bukan Allah. Dan itu terdapat dalam al-Quran. Dia lebih mendahulukan kepentingan manusia diatas kepentingan Allah Swt. Meskipun menggunakan slogan-slogan perintah Allah, karena hal itu sesuai dengan kepentingan dirinya.

“Aimatul kufr ketika melakukan suatu perintah dan perbuatan, itu sesuai dengan kepentingan dirinya sendiri dan bukan kepentingan Allah. Orang yang mempunyai ciri dan karakter seperti ini, jelas, tidak bisa dipercaya untuk dijadikan sebagai pemimpin,” pungkasnya.

Ceramah yang dimulai pukul 20:05 itu, selesai pada pulul 21: 15, dan dilanjutkan pembacaan maqtal oleh Ali Hadi, serta maktam yang dilanjutkan dengan pembacaan doa Ziarah Imam Husain bersama yang dipimpin oleh Aqil Mahdi. [HPI/ASS]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.