Menyingkap “Poshte Parde” di Balik Acara Asyura HPI

Sekretariat HPI Iran berlantai tiga, ruang bagian bawah berisi perpustakaan, sekaligus tempat acara dan event-event organisasi yang melibatkan banyak orang seperti Asyura. Ruangan ini nampak luas dengan dinding-dindingnya berupa jejeran buku-buku dan kitab-kitab pelajaran. Tersusun rapih diatas rak-rak besi memanjang, dan ditempeli nama-nama buku dan kitab untuk mempermudah bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian dan atau sekedar membaca-baca. Ini semua kerjaan Yek Dollah Haddad dan Yek Murthada Edrus beserta kawan-kawan.

Lantai dua, terdapat ruang pertemuan model lesehan. Di ruangan ini, biasa anggota dan pengurus HPI mengadakan rapat mingguan maupun bulanan, serta diskusi. Meski dengan beberapa kamar tidur yang tersekat, ruangan itu tampak cukup bagus dan memadai sebagai sekretariat organisasi. Di ruangan ini pula Mbah Wono el-Abadi, lurahnya HPI biasa misuh-misuh membangunkan anak-anak dari tempat tidur untuk bergegas mempersiapkan acara seperti Asyura dan atau acara-acara lainnya. Sementara lantai tiga, berupa kamar kecil dengan luas lima kali tiga meter yang untuk saat ini digunakan sebagai sekretariat Badan Khusus Fathimiah HPI.

Di pelataran Sekretariatan Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran, Selasa, 11/09/18, sekitar jam 3 sore, akhir bulan dipenghujung musim panas, udara sore itu masih tetap ganas mendamprat raut muka. Meski demikian, banyak orang sibuk mempersiapkan acara Asyura yang rutin diselenggarakan setiap tahun, mereka tidak terganggu dengan tamparan udara musim panas, bahkan mereka nampak menikmatinya. Pelataran yang tidak cukup luas itu disulap menjadi dapur masak semi permanen, dan terlihat deretan ikan kembung goreng siap santap buat konsumsi para hadirin malam nanti. Hem. . . aroma sedap menusuk hidung dan nampak lezat. Ikan-ikan itu terpotong rapih dan siap dihidangkan.

“Menu malam ini, ikan kembung balado ala Ekys cak”, kata iyek Alwi dengan logat Bangilan yang sibuk memutar-mutar kran gas kompor entah untuk memasak apa.

Masuk kedalam ruangan tingkat dua, tempat yang biasa digunakan  ibu-ibu pelajar dan anak-anaknya mengikuti acara itu,  sekitar lima atau enam orang masih sibuk memotong-motong bawang bombay. Ouh, diantara mereka ada yang mengenakan helm.  Bukan untuk menghindari tilang pak polisi, tapi, sebagai palang pintu serbuan zat senyawa sulfat saat bawang dipotong yang menguap ke udara, menusuk dan meneteskan air mata. Sebagian lagi hilir mudik menyiapkan soundsistem supaya tidak ngadat di tengah acara.

Di sudut ruangan bersandar tembok, pakdhe Dzilal sebagai ketua panitia dan beberapa orang anggotanya sibuk berbincang-bincang dengan serius, di sisi kirinya terdapat karpet warna merah cukup lawas masih tergulung, namun nampak bersih. Hampir semua tembok ruangan itu terbungkus kain hitam besar bertuliskan nama-nama syuhada Karbala dan al-Husain.

“Diskusi persiapan acara besok cak, sopir bus servis sedang ada halangan, dan tidak bisa menjemput besok sore”, kata pakdhe Dzilal memberikan penjelasan.

Memang, setiap acara-acara besar seperti ini, biasanya dihadiri oleh ratusan pelajar dari ujung dan sudut kota Qom. Untuk mempermudah mereka datang ke acara dan supaya tepat waktu, HPI biasanya menyediakan servis bus gratis. Karena pelajar-pelajar Indonesia yang sudah berkeluarga biasanya menyewa rumah di pinggiran kota puluhan kilo meter jauhnya dari Sekretariat HPI, karena untuk menyewa rumah atau apartemen di tengah kota, tentu harganya sangat mahal.

Menjelang magrib beberapa orang sudah mempersiapkan diri, tertib dan rapih seolah sudah menjadi rutinitas masing-masing setiap hari, ada yang menuang air kedalam ceret buat teh dan memanggangnya diatas kompor, ada yang mengambil wudhu, ada yang merapihkan sandal-sepatu, dan ada yang mengumandangkan adzan. Semua berjalan secara otomatis dan saling membantu, mereka menikmati betul bagaimana rasanya mencari barokah secara bersama-sama. Bahkan kucing-kucing Persia yang biasa angkringan juga parkir pada tempatnya sendiri-sendiri.

“Lagi sak-masak air cak buat teh, supaya nanti longgar dan tinggal tuang saja”, kata iyek Zaki Adhamatkhan dengan logat Madura kental.

Selepas solat magrib, semua persiapan sudah selesai. Suasana ruangan bawah malam itu, cukup hening dan khidmat. Tembok yang biasa berupa jejeran buku dan kitab itu tidak terlihat, terbungkus kain hitam besar bertuliskan nama Aba Abdillah Husain dan para syuhada Karbala. Lampu-lampu juga di buat sedikit redup dengan pancaran warna merah ranum. Salah satu tembok belakang tempat para penceramah duduk, dibuat seperti backdrop hitam dengan tulisan besar berbahasa Arab dengan warna emas mencolok, “ASSALAMU ALAIKA YA ABA ABDILLAHIL HUSAIN AS-SYAHID”.

Kalimat itulah yang sebenarnya menjadi muara dan matan tema Asyura bulan ini.

Waktu mulai beranjak, para pelajar dari Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Thailand beserta keluarga dan anak-anaknya perlahan mulai berdatangan, mereka datang berkelompok menggunakan servis, ada pula yang menggunakan sepeda motor berboncengan. Sesekali sebagian dari mereka duduk-duduk santai di pelataran HPI menunggu acara dimulai sambil menikmati udud.

Begitulah suasana persiapan dibelakang layar acara yang selalu nampak berjalan secara otomatis setiap harinya, dan para pelajar yang hadir terasa benar memanfaatkan momen tersebut bukan hanya untuk sekedar menghadiri acara, tapi sudah bergeser menjadi ajang silaturahmi rutin diantara mereka.

Menjelang pukul 20:00 waktu setempat, para pelajar mulai mendekat ke ruang acara Asyura dan acara dimulai.

Pemandangan yang luar biasa itu memunculkan pertanyaan, kira-kira apa yang mereka cari, baik sebagai panitia yang selalu poshte parde (dibalik layar), dan mereka yang hadir di malam-malam seperti ini. Apakah uang? Rasanya tidak. Atau apakah mereka melakukan itu untuk sesuatu yang buruk? Tentu sama sekali tidak.

Melihat antusiasme itu, kita yakin bahwa semua yang hadir baik sebagai panitia dan hadirin adalah orang-orang yang ikhlas. Dari jauh mereka hadir dari ujung kota Qom, berkumpul sekitar tiga jam setengah di ruang sempit itu hanya karena cinta kepada Allah, Rasulullah dan Aba Abdillah al-Husain.  Dengan bara cinta  itu, mereka yakin bahwa Nabi Muhammad dan Aba Abdillah al-Husain ada dalam diri kita. Cahaya Muhammad  Saw dan Aba Abdillah, masuk melalui pori-pori. Berdenyut pada jantung dan urat nadi, mengalir dalam aliran darah. Dan terpancar lewat sikap dan perbuatan sehari-hari. [HPI/Ass]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.