Terlalu Banyak Yazid dan Tidak Ada al-Husain

Tragedi Karbala atau yang juga dikenal sebagai tragedi Asyura merupakan peristiwa besar sepanjang sejarah umat manusia; sebuah peristiwa yang menceritakan tentang perang dan spirit kesyahidan. Peristiwa ini berawal ketika Muawiyah pada 15 Rajab 60 H/679, mati, dan digantikan oleh Yazid bin Muawiyah yang kemudian mendeklrasikan diri sebagai khalifah. Pada saat itu, penduduk Madinah mendapat tekanan dan teror supaya berbaiat kepada Yazid.

Melalui berbagai tekanan dan teror, elit-elit penguasa Madinah berbondong-bondong berbaiat kepada Yazid, dan hanya menyisakan Imam Husain bin Ali yang tidak mau berbaiat. Intimidasi terhadap cucu Nabi ini semakin gencar. Maka putra Imam Ali as ini mulai hijrah dari Madinah menuju Mekah tepat di tengah malam yang ditemani oleh keluarga, sejumlah kerabat bani Hasyim dan pengikut-pengikut setianya.

Sekitar 4 bulan Imam Husain dan rombongan berada di Mekah. Di kota Mekah itulah, berbagai surat undangan dan bait untuk pertama kalinya datang dari warga Kufah untuk al-Husain. Maka, pada tanggal 8 Dzulhijjah rombongan yang dipimpin cucu Nabi itu mulai berkemas dan meninggalkan Mekah menuju kota Kufah untuk bergabung dengan warga disana. Belum sampai di kota Kufah, di tengah perjalanan, rombongan sudah berhadapan dengan ribuan batalyon tentara Yazid (Ubaidilah bin Ziad) dengan senjata lengkap dikomandoi Umar bin Saad.

Dari sana tragedi Karbala itu bermula. Imam Husain syahid bersama dengan Abbas bin Ali, Ali Asghar, 17 dari Bani Hasyim dan sekitar 50 orang dari sahabat setianya.

Sesudah darah daging Siti Fatimah, putri Nabi Saw itu dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan badan suci cucu Nabi Saw itu diseret-seret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer (dalam sebuah riwayat).

Dan tragedi pembantaian sesama muslim itu terjadi di Karbala, sebuah tragedi kemanusiaan yang sukar dicari padanannya sepanjang sejarah umat manusia. Hal yang kemudian menyulut sebuah kesadaran baru umat manusia bahwa kematian dan derita al-Husain adalah sumber tenaga dan sumber kehidupan. Kematian al-Husain bukan sekedar tragedi, tetapi sebuah kebanggaan yang melahirkan kesadaran baru ideologi jihadi dan syahid. Kematian al-Husain bukan kecelakaan, ia adalah sesuatu yang dirindukan, sesuatu yang tidak mungkin dihindari, bahkan sesuatu yang disongsong.

Hari-hari ini, kita sedang menghadapi berbagai tragedi Karbala-Karbala lain, di Irak, di Palestina, di Yaman, di Indonesia, di Suriah, di Afghanistan, di Libya, di Nigeria dan diberbagai belahan dunia muslim. Terlalu banyak Yazid, dan tidak ada sosok Imam Husain di antara kita.

Hari-hari ini suara-suara teriakan Muslimin itu bergema hanya membentur tembok kecil di ruang-ruang penyiksaan penjara Israel, di pinggiran Suriah, di lembah Afghanistan, di jalan-jalan Kashmir, di gang-gang kotor Yaman, di jalan-jalan kumuh Irak dan pengunungan Nigeria. Ternyata dunia Muslim masih diperintah oleh Yazid yang justru seringkali memuji-muji perjuangan al-Husain, sementara mereka bertindak seperti Yazid.

Sebelum meninggalkan Mekah dan berangkat menuju Kufah, Imam Husain mengajarkan kepada kita untuk dengan benar mendiagnosis setiap masalah yang dihadapi umatnya. Hal urgen yang dilupakan oleh kita dalam melakukan berbagai tindakan-tindakan. Sesuatu yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan besar mengenai kualitas perjuangan yang lebih tinggi, lebih kolektif dalam meneruskan konsistensi jihadi Husaini sampai ke tingkat substansi lebih agung. Atau mungkin saja, ketika kita melakukan ritual mengenang tragedi Karbala dan mengekspresikan rasa cinta kepada al-Husain, yang terjadi baru semacam pelampiasan syukur bahwa Yazid sudah mati, dan tidak mungkin bangkit lagi.

Al-Husain, nama cucu kecintaan Nabi itu, sungguh menderita. Tubuh sucinya tak hanya digilas-gilas kaki kuda, bahkan kepalanya dilepas dari badannya dan diletakkan diatas tombak digiring mengelilingi Kufah.

Hal yang serupa dialami oleh muslimin di abad ini, mereka diadu-domba, kemudian mereka ditembak, kemudian mereka dirudal, kemudian mereka dimusnahkan, kemudian mereka diinjak-injak harga diri kemanusiaannya, kemudian mereka dirampok hartanya, bahkan kemudian diperkosa perempuan-perempuannya di depan mata, atas nama Syariah oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai pecinta agama Nabi Saw.

Hari ini, Karbala telah melampui batas tanah di Irak. Karbala tidak lagi batasan geografis, juga kuasa, dan kekuatan Yazid tidak lagi terbatas lingkup teritorial yang terletak di Kufah. Karbala adalah global, sebuah wilayah perlawanan kebenaran melawan kebatilan, kedhaliman dan penindasan. Al-Husain telah menyatu dengan semua makna kebenarannya, dia menjadi milik semua manusia yang tertindas. Dan pembela al-Husain adalah rangkaian kekuatan-kekuatan kebenaran yang akan menumbangkan hegemoni berhala Yazid dimana saja, dan kapan saja. []

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.