Bukan Napak Tilas Perjalanan Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar

Atas perintah Allah Swt, dimulailah perjalanan itu. Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar bersama seorang bayi mungil bernama Ismail, memulai hijrah menempuh hidup di sebuah tempat dengan keadaan alam yang keras dan kejam. Hawa yang kering, panas dan tandus, tak ada wadi yang menampung air hujan, apalagi sungai-sungai yang mengalir, tidak ada sumber makanan, dan bahkan tidak ada jejak tapak kaki manusia sebelumnya.

Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar hanya berserah diri kepada Tuhan, dan terus berjalan diikuti pasir-pasir bertebaran, mereka bertiga berada di atas punggung unta keluar kota dan menapaki hamparan pasir dan padang terbuka, terik matahari dengan tajam menyengat ketiga tubuh itu. Angin sahara yang kencang menghambur-hamburkan debu-debu pasir seolah membungkus mereka. Siti Hajar hanya menjalani titah suaminya yang mendapat perintah Allah Swt. Perintah yang sesungguhnya Allah Swt tujukan kepada Nabi Ibrahim as, tetapi hal itu harus ditanggung bersama Siti Hajar dan anaknya yang mungil.

Berpekan-pekan mereka diatas punggung unta, maka tibalah Nabi Ibrahim as di satu tempat yang kelak dikenal sebagai Makkah, kota suci, tempat Kabah didirikan dan menjadi kiblat muslimin seluruh dunia. Berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri perjalanannya dan di situlah ia meninggalkan Siti Hajar bersama Ismail mungil dengan hanya dibekali beberapa suap makanan dan sedikit minuman, sementara di sekitarnya yang ada hanyalah hamparan batu dan pasir kering yang panas.

Dengan kebesaran hati, Siti Hajar membesarkan sendiri bayi mungilnya dengan cinta dan kasih sayang.

Setelah Ismail tumbuh besar dengan segenap jerih payahnya di tempat yang kejam, kemudian Nabi Ibrahim as datang menjenguk mereka, tetapi kedatangan nabi Ibrahim as bukan membawa kabar gembira. Nabi Ibrahim as datang dengan membawa wahyu yang luar biasa dari Tuhan yang memerintahkan supaya menyembelih Ismail.

Nabi Ibrahim kepada Ismail mengatakan, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!“. [as-Shaffaat 102]

Nabi Ismail kecil tanpa ragu menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” [as-Shaaffaat 102]

Siti Hajar tak pernah diajak dialog oleh Nabi Ibrahim, tidak juga pernah dimintai pertimbangan-pertimbangan, dan atau dimintai penjelasan logis sebagai seorang ibu. Tetapi Siti Hajar adalah seorang perempuan biasa, yang kemuliaan dan ketaatannya terhadap Allah Swt melebihi manusia mulia dijamannya, sehingga atas perintah Allah Swt Nabi Ibrahim as membangunkan sebuah bangunan kecil untuk Siti Hajar di sebelah utara Baitullah yang kita kenal dengan Hijr Ismail.

Siti Hajar adalah simbol dari luasnya samudra kemuliaan hati seorang ibu yang mengikuti perintah ilahi. Siti Hajar adalah seorang istri, seorang wanita, seorang manusia biasa yang dimuliakan oleh Allah Swt karena tidak neko-neko dan hanya berqurban.

Adegan penyembelihan tiba. Nabi Ibrahim as mengikat kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkannya di atas lantai, diambil sebuah parang tajam, sambil memegang parang di tangan kananya, kedua mata nabi Ibrahim as bercucur air mata. Kemudian parang diletakkan tepat di leher Ismail dan adegan penyembelihan itu terjadi. Namun, tiba-tiba parang tajam itu menjadi tumpul disaat akan menebas leher Ismail.

Dalam kondisi bingung karena gagal menyembelih puteranya, kemudian datanglah kepada Nabi Ibrahim as wahyu Allah: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah melaksanakan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata“. [as-Shaaffaat 104-106]

Sebagai tebusan Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih seekor kambing. Ibrahim pun menyembelih seekor kambing dengan parang yang sama, dan berhasil menyembelih kambing tersebut. Hal yang kemudian menjadi ritual berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap Hari Raya Idul Adha di dunia.

Ismail as adalah Dzabihullah, “sembelihan Allah” yang membahwa nilai dan konsep ilahiah. Nabi Ismail di-qurban-kan oleh Nabi Ibrahim as, bukan di-tumbal-kan, bukan disia-siakan, melainkan Ismail sedang diuji cinta kasihnya oleh Allah Swt melalui bapaknya, diuji kepatuhan dan tanggung jawab kemakhlukannya, serta diberi peluang untuk qarib kepada pemilik Sumber Segala Kehidupan.

Dan Ibrahim as adalah Khalilullah “kesayangan Allah”, mengajarkan kita tentang nilai qurban yang jauh melebihi nilai ibadah untuk individu dan personal. Qurbannya Ibrahim adalah kesanggupan seorang hamba untuk menyingkirkan egoisme dan berhalaisme diri.

Dan Idul Qurban bukan sekadar mengenang napak tilas mengenai apa-apa yang telah dijalankan Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar. Idul Qurban lebih dari itu, ia memperkokoh kualitas diri sehingga gelombang hidayah yang kita terima dari Allah Swt akan meningkat secara kualitas, lebih peka atas segenap dimensi sosial, lebih waspada, waskita, menjadi lebih tajam dan lebih jernih dalam berfikir dan bertindak. Tidak gegabah dalam menanggapi segenap fenomena-fenomena. [HPI]

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.