Perwakilan Pelajar Indonesia: Membumikan Persatuan Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial

Makalah ini dibacakan dalam diskusi dan seminar kebangsaan bertajuk “Membumikan Persatuan Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial”, Jumat, 10/08/18, di Universitas Internasional Imam Khomeini, Qom, Republik Islam Iran.

Oleh, Ramza Hidayatullah, perwakilan Pelajar Indonesia di Iran

Dalam kaitannya dengan tema “Membumikan Persatuan Indonesia dalam mewujudkan Keadilan Sosial”, saya ingin menyoroti dua kata kunci dlm tema itu sendiri, yaitu persatuan bangsa dan keadilan sosial, karena mnnrt saya, dlm rangka membumikan persatuan bangsa demi keadilan perlu kiranya kita memahami kedua gagasan tsb secara konseptual, hubungan keduanya, termasuk didalamnya bagaimana peranan kedua prinsip penting tsb dlm kehidupan berbangsa dan benegara. Apakah keduanya saling mendukung dan melengkapi? Atau sebaliknya diantara keduanya terdapat hubungan kontradiksi, shg salahsatunya harus didahulukan dari yg lainnya? Setelah kita pahami dgn benar, maka mari kita sama2 melihat, meninjau dan bahkan membumikan realitas kedua konsep tsb dalam konteks kondisi politik di Indonesia.

Oleh karena itu di dalam kesempatan mulia ini, pertama izinkan saya utk sedikit saja menjelaskan konsep persatuan bangsa dan keadilan sosial tsb secara ringkas mengingat keterbatasan waktu yg diberikan.

1. Persatuan bangsa. Persatuan terlepas dari ikatan2 yg dibentuknya, di dalam literatur agama, terutama agama Islam mendapatkan sorotan yg begitu penting. Misalnya di dalam ajaran al-Quran, masyarakat Islam disebutkan sbg umat yg satu. (al-mukminun/52). وَ إِنَّ هذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً واحِدَةً
Dan lebih jauh lagi Islam, menyebutkan bahwa diantara kaum mukminin saling bersaudara,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ.
Dengan demikian, bagi masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan umat merupakan seruan agama dan keterpisahan merupakan larangan, karena misalnya Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَميعاً وَلا تَفَرَّقُوا
Makna persatuan bangsa: Persatuan bangsa itu sendiri terdiri atas 2 kata, persatuan dan bangsa. Persatuan berdasarkan kamus Besar Bahasa Indonesia ialah gabungan (ikatan, kumpulan dan sebagainya) dari beberapa bagian yang sudah bersatu. Sedangkan di dalam kamus ilmu sosial, persatuan berarti satu bendera, satu suara, bersatunya beberapa golongan, kelompok dan mazhab, dimana masing-masing kelompok saling menghormati dan berjalan dengan prinsip-prinsip bersama yg disepakatinya tersebut.

Adapun bangsa, yaitu sekelompok orang yg menjalani kehidupannya di sebuah tanah atau tempat tinggal dan dibawah kekuasaan satu pemerintahan ttn. Atau bisa juga sekumpulan orang yg berada di dalam sebuah Negara atau tanah air ttn yg memiliki satu pemerintahan, sejarah, budaya, dan karakteristik2 bersama lainnya.

Olehkarena itu, persatuan bangsa, adalah bergabung dan bersatunya bbr kelompok menjadi satu bangsa dlm kaitannya dgn kepentingan dan prinsip bersama seperti tempat tinggal, agama, mazhab, budaya, nasib dan sejarah bersama, dimana aktivitas2 sosial dari anggota masyarakat bangsa tsb mempunyai hubungan yg saling mempengaruhi demi tujuan atau cita-cita bersama.

Berdasarkan definisi tsb di atas, maka dpt dikatakan bahwa substansi dari persatuan bangsa adalah:
1. Adanya kesepakatan bersama dlm satu masyarakat/bangsa dgn suatu prinsip, kepentingan dan nilai bersama (baik yg bersifat materi maupun maknawi);
2. Adanya upaya gerak masyarakat utk mencapai tujuan2 dan kepentingan2 bersama;
3. Adanya persetujuan, penerimaan dan saling dukung mendukung diantara masyarakat bangsa tsb..

Dan yg perlu kami tambahkan, bahwasanya kita sebagai manusia yg berada di lingkaran pergaulan dunia, sdh tentu bisa memiliki byk ikatan persatuan berdasarkan ragam lingkaran pergaulan dan subjeknya. Misalnya persatuan sbg masyarakat dunia, sbg muslim dunia, sbg anak bangsa Indonesia, sbg muslim Indonesia, dsb, dimana masing2 ikatan tsb tentu saj memiliki konsekuensi masing2 dan di dalam kerangka tujuan2 bersama yg terdapat di dlm masing2 lingkaran ikatan persatuan tsb.

2. Keadilan Sosial

Konsep berikutnya adalah Keadilan sosial, dimana keadilan sbg cita2 luhur umat manusia di sepanjang sejarah mendapatkan tempat yg istimewa disisi agama Islam. Islam menyuruh manusia berbuat adil dlm seluruh dimensi kehidupannya. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسانِ (Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (Nahl/90).
Allah Swt juga mengatakan bahwa berbuat adil lebih dekat kpd takwa (al-Maidah/8)
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوى
Di dalam filsafat politik Islam, keadilan menempati ruang sedemikian mulia, hingga dpt dikatakan bahwa penegakan keadilan sbg tujuan utama diturunkannya para rosul bersama kitab-kitab Samawinya.

﴿لَقَدْ أَرْسَلْنا رُسُلَنا بِالْبَيِّناتِ وَ أَنْزَلْنا مَعَهُمُ الْكِتابَ وَ الْميزانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ﴾
Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab samawi dan neraca (pemisah yang hak dan yang batil dan hukum yang adil) supaya manusia bertindak adil. (al-Hadid/25)

Dalam konteks bernegara dan bermasyarakat, bahkan kita bisa mengatakan bahwa tanpa terwujudnya keadilan, maka tdk ada satupun masyarakat yg dapat lestari. Imam Ali as pernah mengatakan:
الملک یبقی مع الکفر ولا یبقی مع الظلم
kurang lebih, bahwa “(boleh jadi) sebuah pemerintahan msh tetap lestari dgn adanya kekufuran, namun tidak akan bertahan dgn adanya kezaliman. Hal ini disebabkan efek perusak dari kezaliman yg begitui dahsyat dlm menciptakan perpecahan, pertikaian dan peperangan, shg pada akhirnya akan meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan dan persatuan masyarakat tsb. Dan kita lihat disepanjang lintasan sejarah umat manusia, bagaimana silih bergantinya suatu umat sgt ditentukan oleh sejauhmana keadilan itu diamalkan.

Artinya tdk diragukan lagi bahwa dlm hubungannya dgn hablu minannas dan masyarakat luas, keadilan sosial merupakan bagian dari cita2 masyarakat manusia sbg makhluk sosial, bahkan dalam fitrahnya, setiap manusia mencintai keadilan dan membenci kezaliman. Salahsatu buktinya adalah begitu banyak orang2 zalim yg mencari pembenaran atas kezaliman yg dilakukannya dgn menutupinya dgn dalih keadilan dan semacamnya seperti HAM dan demokrasi, sebagaimana kita lihat dlm panggung politik Internasional.

Konsep keadilan itu sendiri ditinjau dari dimensi yg beragam dpt terbagi mnjd bbr bagian, Allamah Thabathabai dan allamah Muthahari telah membagi keadilan menjadi bbr kategori;

  1. Keadilan Ilahi (takwini [penciptaan) dan tasrii [legislasi));
  2. Keadilan insani (pribadi dan Sosial). Dan dlm konteks diskusi kita ini adalah keadilan sosial dalam kaitannya dgn pembicaraan politik bangsa.

Dan adapun keadilan sosial sdh tentu memiliki dimesi yg begitu luas, yakni melingkupi keadilan dalam dimensi politik, budaya, ekonomi, dsb.

Definisi Keadilan

Secara etimologis (ibnu Manzur [Lisanul Arab] dan Raghib Isfahani [al-Mufrodat fi Gharib al-Qura])) menyebutkan bahwa adil berarti sama, seimbang, dan lurus sbg lawan dari zalim, menyamakan sesuatu dgn sesuatu lainnya.

Adapun adil dalam satu ungkapan yg umum(lihat Nahjul Balaghah, hikmat 437), dikatakan sbg “meletakan perkara sesuai dengan posisinya الْعَدْلُ یَضَعُ الْاُمُورَ مَوَاضِعَهَا
Para cendikiawan memberikan definisi ttg keadilan sosial secara lebih spesifik diantaranya (di dlm kitab farhang Falsafi, Jamil Sabila) adalah penghormatan kpd hak-hak orang lain dan atau memperhatikan maslahat2 umum atau mengenal hak2 alami dan hak2 yg disepakati, dimana masyarakat cendrung meyakininya bagi seluruh orang seperti memperoleh pembagian kerja, pemberian upah kpd pekerja berdasarkan pekerjaannya, dan menambahkan pelayanan dan penyiapan kebutuhan2 sosial seseorang utk mempertahankan kelangsungan hidupnya sendiri serta mempermudah kemajuan pekerjaannya, dan mencapai bahagiannya yg merupakan haknya tsb.

3. Komparasi
Setelah kita mendifinisikan dan menjelaskan esensi dari persatuan bangsa dan keadilan sosial, maka giliran kita menkomparasikan kedua konsep tsb shg hubungan keduanya menjadi jelas.

Pertama, pembentuk persatuan bangsa adalah kesepakatan dan kebersamaan dlm prinsip2 dan nilai2 bersama (baik materi/maknawi), aktivitas gerak utk mencapai tujuan2 bersama, memperkuat dan mendukung satu sama lain.

Kedua, pembentuk keadilan sosial adalah penghormatan thd hak2 orang lain, menjaga kemaslahatan umum, menjamin kebutuhan2 sosial, dan pengalokasian peluang2, pelayanan2 dan kekayaan umum secara adil/merata.

Oleh karena itu persatuan bangsa akan memberikan dan mempersiapkan kondisi bagi terwujudnya keadilan sosial. Apabila persatuan bangsa tdk terwujud, maka keadilan sosial juga tdk akan pernah terwujud, karena persatuan sama dengan kesepahaman dan kesepakatan atas dasar prinsip2 bersama dan upaya gerak ke arah pencapaian kpd tujuan2 bersama.

Dan salahsatu tujuan bersama sebuah masyarakat adalah terwujudnya keadilan sosial bagi anggota masyarakat tsb. Nah, ketika kesepahaman dan saling pengertian satu sama lain tdk terwujud, maka terpeliharanya hak2 orang lain, pengalokasian kekuasan dan kelebihan secara adil tdk akan pernah tercapai. Apabila tdk ada nilai2 dan tujuan2 bersama yg disepakati diantara masyarakat, maka tdk akan pernah terbentuk sebuah bangsa yg bernama Indonesia. Dan bila perasaan satu bangsa dan koherensi tdk tercipta dlm suatu masyarakat, maka bagian2 dari masyarakat yg terpisah tdk akan pernah memahami bagian yg lainnya dan masing2 tdk akan mempercayai keadilan sosial dan pembagian kekuasaan secara adil sebagaimana kita saksikan dlm bangsa dan umat terdahulu yg mengalami kehancuran.

4. Kesimpulan

Dengan membandingkan definisi persatuan bangsa dan keadilan sosial, maka dpt disimpulkan bahwasanya,
Pertama Persatuan bangsa adalah kesepakatan dan kebersatuan sebuah bangsa dalam persoalan prinsip dan nilai-nilai bersama, dimana seluruh anggota bangsa tsb melaksanakan aktivitas2 sosialnya dalam ikatan persatuan dan saling menghormati dalam tujuan2 bersama.

Kedua, keadilan sosial adalah saling menghormati hak2 orang lain dan memperhatikan maslahat umum dan pembagian kekuasaan, fasilitas kemajuan dan perluasan bagi seluruh anggota masyarakat secara adil merata.

Ketiga, Persatuan bangsa merupakan faktor pendukung utama keadilan sosial, karena tanpa adanya kesepakatan dan kebersamaan suatu bangsa, maka keadilan sosial tidak akan mungkin bisa terwujud. Dengan kata lain, persatuan bangsa dan keadilan sosial mempunyai hubungan yg saling berkelindan, saling mempengaruhi dan saling menyempurnakan satu dengan lainnya.

Dan sebagai tambahan, bagaimana kita menjawab tindakan dari sekelompok orang/kelompok yg mengatasnamakan persatuan lalu menindas dan hendak meniadakan minoritas, sementara minoritas tsb sekedar menuntut haknya secara logis?

Setidaknya ada 2 jawaban; pertama mungkin karena memang kelompok tsb memiliki mental penindas/penzalim dan yg kedua, mungkin gagal paham terhadap makna dan relasi dari prinsip persatuan dan keadilan sosial. Karena ketika terbukti bahwa relasi keduanya saling melengkapi, maka tidak boleh saling bertentangan. Artinya, tidak boleh ada seorang atau kelompok pun dgn dalih persatuan, lalu mengorbankan keadilan sosial dan politik. Karena sesungguhnya, telah jelas bahwa menyuarakan keadilan bukan bermakna menentang persatuan. Jadi apabila rakyat menuntut kesamaan dan pemerataan secara logis, maka seharusnya tdk boleh dianggap sbg hal yg bertentangan dgn persatuan bangsa.

Begitu pula sebaliknya.  Menuntut keadilan tidak boleh menggunakan cara2 yg dapat mengorbankan persatuan bangsa.

Dan yg terakhir, apabila kita meninjau realitas kondisi sosial politik kebangsaan belakangan ini, maka dpt saya katakan bahwa semua realitas aktual dan kontekstual tsb mengindikasikan perlunya dirajutnya kembali kondisi serba keterpecahan kepada komitmen bersama membangun Indonesia lebih baik dan bersatu, yaitu dengan membumikan persatuan bangsa Indonesia demi terwujudnya keadilan sosial yg lebih baik. []

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.