Perwakilan KKS: Membumikan Persatuan Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial

Makalah ini dibacakan dalam diskusi dan seminar kebangsaan bertajuk “Membumikan Persatuan Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial”, Jumat, 10/08/18, di Universitas Internasional Imam Khomeini, Qom, Republik Islam Iran

Oleh, Ismail Amin, perwakilan Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS)

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kepala duta besar Republik Indonesia untuk Iran bapak Octaviano Alimuddin Fungsi Sosial Budaya Ibu Tety Mudrika Hayati beserta staff lainnya yang saya hormati

Ketua umum HPI Iran atau yang mewakili beliau beserta pengurus dan anggota HPI Iran yang saya hormati

Ketua Umum IPI Iran atau yang mewakili beliau beserta pengurus dan anggota IPI Iran yang saya hormati

Para pembicara yang saya hormati serta hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt

Suatu kesyukuran yang tidak terhingga kita panjatkan kehadirat Allah swt yang menganugerahi kita kesempatan dan kesehatan sehingga bisa berkumpul di tempat ini guna mengadakan diskusi kebangsaan untuk merayakan momen HUT kemerdekaan RI yang ke 73.

Salam dan salawat kita kirimkan untuk Nabiullah Muhammad saw dan keluarganya yang disucikan dan sahabat-sahabatnya yang dimuliakan.

Saya mengucapkan terimkasih kepada HPI dan Panitia yang mengundang saya sebagai pembicara dalam diskusi ini. Semoga diskusi kita memberikan manfaat bagi kita semua.

Hanya saja, sejak disampaikan oleh panitia. Saya agak bingung dengan tema yang disodorkan. Saya bahkan sampai menanyakan kepada panitia, apa yang diinginkan dari tema ini.

Letak kebingungan saya, tema yang disodorkan menurut saya kurang sinkron.

Membumikan persatuan Indonesia itu domainnya publik
dan mewujudkan keadilan sosial itu domainnya pemerintah.

Jadi, yang bisa mewujudkan keadilan sosial adalah pemerintah yang memang memiliki wewenang dan kekuasaan yang menjadi amanah UU untuk bisa mewujudkan itu. sebagai rakyat, ya kita hanya bisa menyampaikan permintaan kepada pemerintah agar amanah dalam menjalankan tugas kenegaraan untuk memberikan keadilan pada semua.

Jadi menurut saya, urutannya adalah Indonesia bisa bersatu dalam pengertian yang sebenarnya jika pemerintah mampu mewujudkan keadilan sosial. Tidak adanya keadilan sosiallah yang membuat Indonesia rentan dengan perpecahan dan terancam mengalami disintegrasi bangsa.

Kita bisa lihat rentetan sejarahnya. Faktor dominan yang menjadi penyebab muncul dan lahirnya gerakan-gerakan yang meronrong pemerintah karena dinilai gagal mewujudkan keadilan sosial. Pemberontakan PKI misalnya. Wacana yang memicu munculnya pemberontakan tersebut adalah adanya ketimpangan sosial, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. PKI menolak negara menganut ekonomi yang kapitalistik yang menurut mereka itu tidak adil bagi rakyat miskin dan yang lemah.

Wacana pembetukan negara Islam misalnya. Yang bibit ideologinya dimulai dari pemberontakan DI/TII yang bahkan wacana ini masih santer sampai sekarang. Yang melatar belakangi, adalah umat Islam yang mayoritas di negari ini tapi hak-haknya banyak dikebiri, terutama di masa orde baru.

Begitupun munculnya gerakan-gerakan separatis di daerah. Gerakan Aceh Merdeka, RMS, dan gerakan papua merdeka, faktor dominan penyebab munculnya gerakan-gerakan tersebut adalah belum terwujudnya keadilan, atau mereka merasa tidak mendapatkan keadilan khususnya dalam menikmati bersama kue pembangunan.

Timor-Timor yang sebelumnya sempat menjadi provinsi termuda. Akhirnya setelah referendum, memilih berpisah dari NKRI, ya karena mereka tidak mendapatkan keadilan.

Jadi urutan sebenarnya menurut saya adalah, Mewujudkan keadilan sosial untuk memperkokoh persatuan Indonesia. Sementara yang bertugas untuk mewujudkan keadilan sosial ini adalah pemerintah.

Ketika pemerintah dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya berhasil menciptakan keadilan sosial, tanpa diminta pemerintah, dengan sendirinya akan memperkuat persatuannya.

Mengapa memperkokoh? bukan membumikan?

Sebab rakyat Indonesia dalam sejarah telah membuktikan diri mampu bersatu. Sebelum Indonesia dibentuk pun, kaum muda dari berbagai daerah dan suku-suku yang berbeda telah menyatakan tekad dan sumpahnya untuk bersatu, berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu pada 28 Oktober 1928. Dari 1340 suku yang ada di nusantara dengan bahasa-bahasa yang berbeda, ada 748 bahasa namun memiliki kebesaran jiwa untuk menyepakati bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.

Ada Aceh, yang merupakan wilayah yang paling terakhir takluk pada Belanda. Yang menyatakan dukungan kepada pemerintah Indonesia. Bahkan menyumbangkan uang untuk membeli pesawat kepresidenan.

Pada 10 November 1945 dalam upaya mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan rakyat Indonesia bersatu menghadapi sekutu yang bersenjata lengkap dan lebih canggih. Di sulawesi, 40 ribu nyawa berkalang tanah demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan tidak bersedia kembali di jajah.

Mungkin nama Andi Deppu Maraddia Balanipa, belum populer. Seorang pejuang kemerdekaan perempuan yang Kalah populer dari Cut Nyak Dien, Dewi Sartika atau RA Kartini.

Perempuan tanah Mandar ini sudah memimpin pasukan prakemerdekaan. Bahkan, pada akhir 1944, bendera Merah Putih sudah berkibar di tanah Mandar, Sulawesi Barat.

Perempuan yang digelari Ibu Agung itu berhasil mempertahankan Merah Putih di sepanjang Tinampung Polewali Mandar, berjajar dari Sulawesi Selatan hingga ke Sulawesi Barat sampai akhirnya Indonesia dinyatakan merdeka. Ia bertempur sekedar untuk mempertahankan agar merah putih tidak diturunkan tentara Jepang. Keperkasaan Andi Depu melegenda sampai sekarang bagi orang-orang Mandar. Orang-orang Mandar pun masih ingat seruannya di masa lalu: “Moa’ namunduro-o mie’ Tommuane, alai mai lasomu”. “Jika kalian, para laki-laki mundur (dalam pertempuran ini) lebih baik kelaki-lakianmu itu diserahkan kepada kami”.

Ada nama Andi Makkasau dan Abdi Abdullah Bau Massepe. Keduanya raja yang membuat deklarasi Jongayya yang menyatakan mendukung Indonesia merdeka. Keduanya dikenal sebagai penguasa lokal pertama. di luar Jawa yang menyatakan setia pada NKRI.

Pada tanggal 21 Agustus 1945 diadakan rapat raksasa dan upacara penaikan Bendera Merah Putih di lapangan La Sinrang dengan maksud memasyarakatkan Sang Merah Putih.

Pada saat itu, Andi Abdullah Bau Massepe berpidato menyerukan agar semua rakyat mempertahankan kemerdekaan sampai tetes darah penghabisan. Pada rapat-rapat selanjutnya, Andi Bau Massepe selalu menekankan perlunya persatuan dan kesatuan untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, Andi Bau Massepe juga menyusun satu kesatuan bersenjata untuk mempertahankan Indonesia. Ia tidak melihat adanya perbedaan suku, agama, dan ras, intinya kita sebangsa maka kita bersaudara.

Jadi fakta-fakta ini menunjukkan. Persatuan Indonesia sudah terbentuk bahkan semangat persatuan itu telah ada sebelum Indonesia merdeka. Jadi tidak perlu lagi diserukan untuk dibumikan atau direalisasikan. Tapi harus dijaga. Persatuan Indonesia hanya bisa membuat Indonesia merdeka, hanya bisa membuat musuh tidak berdaya untuk membuat kacau, tapi tidak bisa mewujudkan keadilan sosial, sebab keadilan sosial adalah domainnya pemerintah untuk mewujudkannya.

Pemerintah saat ini tengah berupaya mewujudkan keadilan sosial dengan melakukan pemertaan pembangunan. Papua dan wilayah-wilayah diperbatasan yang selama puluhan tahun diabaikan, sekarang sudah mulai diperhatikan. Sebelumnya ada kesenjangan luar biasa antara harga di Papua dengan di daerah lain, sekarang kesenjangan itu sudah mulai dikurangi, bahkan telah sama.

Persatuan rakyat untuk kemudian sepakat mendukung keputusan elit-elit rakyat dalam membentuk Republik Indonesia yang diproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 dilatarbelakangi oleh adanya perasaan senasib. Yaitu sama-sama bernasib di jajah oleh Belanda. Karena itu bentangan dari sabang sampai merauke, yang kemudian menjadi negara Indonesia adalah wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda. Karena itu timor2 yang awalnya dijajah portugal bukan bagian dari indonesia, begitupun sabah serawak yang dijajah Inggris bukan bagian dari indonesia. Padahal kita satu pulau dengan mereka. Jadi sejak awal keinginan bersatu itu ada, yaitu mendirikan negara yang akan memberikan manfaat dan keuntungan bagi semua. Namun karena dalam perjalanan selanjutnya, muncul ketidakadilan-ketidakadilan, maka itulah yang kemudian berpotensi melunturkan persatuan nasional itu.

Kemudian kaitannya saya diundang sebagai pembicara mewakil KKS. Saya sampaikan teman-teman asal sulawesi di Iran ini membentuk KKS (kerukunan Keluarga Sulawesi) karena beberapa motivasi:

Pertama, jumlah teman-teman asal Sulawesi di Iran relatif lumayan. Ada 40 orang dewasanya dan 20an anak-anak. Meski kemudian, sekarang telah berkurang drastis karena sudah lumayan yang telah balik ke Indonesia.

Kedua, KKS ini tidak ada kaitan dan juga tidak memiliki garis koordinasi dengan KKSS (kerukunan keluarga sulawesi selatan), yang memang berdiri secara resmi dan memiliki banyak cabang dibanyak negara. KKS Iran hanya berbentuk paguyuban dan semi organisasi. KKS tidak memiiliki kelengkapan-kelengkapan organisasi sebagaimana pada umumnya. KKS tidak memiliki AD/ART serta susunan kepengurusan yang lengkap. Yang ada hanya ketua dan sekretaris. Dan sekarang telah berusia 10 tahun.

Pemilihan ketua dilakukan setiap 2 tahun sekali. Rentetan ketuanya sebagai berikut:
1. Tahun 2008-2010 Ridwan Lagading,
2. Tahun 2010-2012 Akmal Kamil
3. Tahun 2012-2014 Idham Mustakim
4. Tahun 2014-2016 Sultan Nur
5. Tahun 2016-2018 Ali Pasolowongi
Sementara Sekretarisnya sejak periode pertama sampai kelima, Ismail Amin.

Ketiga, pembentukan KKS ini tidak didasari keinginan untuk esklusif atau targetnya hanya mementingkan kepentingan daerah saja. Melainkan, untuk menjaga kerukunan saja antar sesama warga sulawesi agar potensi yang ada bisa dimaksimalkan kelak untuk memajukan daerah dengan semangat persatuan yang telah dipupuk mulai dari tempat menimba ilmu, yaitu di Iran ini. Karena menurut kami, membawa kemajuan daerah sama dengan membawa kemajuan bagi bangsa ini. KKS tidak esklusif, sebab buktinya, terjadi juga pernikahan silang antar anggota KKS dengan teman-teman pelajar dari daerah lain. Yang dengan otomatis, pasangan nikah yang bukan orang Sulawesi otomatis menjadi anggota KKS.

Jadi pembentukan KKS bukan dimaksudkan untuk memecah pelajar Indonesia di Iran yang memang jumlahnya relatif lebih sedikit dibanding jumlah pelajar Indonesia di negara-negara lain, agar menjadi berkelompok-kelompok dan masing-masing mengurusi dirinya tanpa adanya interaksi dan kerjasama. Tidak demikian.

Anggota KKS bukan hanya boleh bahkan didorong untuk juga jadi pengurus dan anggota di IPI dan HPI. Sekali lagi, KKS hanya kelompok paguyuban yang dibentuk semi formal, dan kebanyakan kegiatannya silaturahim, tudang sipulung, makan-makan, rekreasi keluar kota serta kumpul-kumpul memanfaatkan momentum peringatan nasional dan agama kalaupun di momen yang sama HPI juga mengadakan, maka KKS mengambil waktu yang berbeda supaya anggota KKS juga bisa ikut memeriahkan kegiatan-kegiatan HPI. Dimomen-momen itu KKS membicarakan program-program yang akan dijalankan kelak ketika tiba kembali di tanah air untuk mengabdi.

Mungkin ini saja. Lebih kurangnya mohon dimaafkan. Wabillahi taufik walidaya.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.