Air, Angin, dan Pasir

EGO

Dalam sebuah buku kecil berjudul Kisah-Kisah Sufi –hasil terjemahan Sapardi Djoko Damono dari buku Tales of the Derwishes karya Idries Shah- ada sebuah kisah perumpamaan yang indah. Sebuah kisah tentang air yang ingin melewati padang pasir:

Dari mata airnya yang nun jauh di gunung sana, sebatang sungai mengalir melewati apapun di tebing dan ngarai, akhirnya mencapai padang pasir. Selama ini ia telah berhasil mengatasi halangan apapun, dan sekarang berusaha menaklukkan halangan yang satu ini. Tetapi setiap kali sungai itu cepat-cepat melintasinya, airnya segera lenyap di pasir.

Sungai itu sangat yakin, bahwa ia ditakdirkan melewati padang pasir itu, namun ia tidak bisa mengatasi masalahnya. Lalu, terdengar suara tersembunyi yang berasal dari padang pasir itu, bisiknya, “Angin bisa menyeberangi pasir, Sungai pun bisa.”

Sungai menolak pernyataan itu, ia sudah cepat-cepat menyeberangi padang pasir, tetapi airnya terserap: angin bisa terbang, dan oleh karena itulah ia bisa menyeberangi padang pasir.

“Dengan menyeberang seperti yang kaulakukan itu, jelas kau tak akan berhasil. Kau hanya akan lenyap atau jadi paya-paya. Kau harus mempersilahkan angin membawamu menyeberangi padang pasir, ke tempat tujuan.”

Tetapi bagaimana caranya? “Dengan membiarkan dirimu terserap angin.”

Gagasan itu tidak bisa diterima si Sungai. Bagaimanapun, sebelumnya ia sama sekali tidak pernah terserap. Ia tidak mau kehilangan dirinya. Dan kalau dirinya itu lenyap, apakah bisa dipastikan akan didapatnya kembali?”

“Angin,” kata si Pasir, “menjalankan tugas semacam itu. Ia membawa air, membawanya terbang menyeberang padang pasir, dan menjatuhkannya lagi. Jatuh ke bumi sebagai hujan, air pun menjelma sungai.”

“Bagaimana aku bisa yakin bahwa itu benar?”

“Memang benar, dan kalau kau tak mempercayainya, kau hanya akan menjadi paya-paya; dan menjadi paya-paya itupun memerlukan waktu bertahun-tahun-berpuluh tahun. Dan paya-paya itu jelas tak sama dengan sungai, bukan?”

“Tapi, tak dapatkah aku tetap berupa sungai, sama dengan keadaanku kini?”

“Apapun juga yang terjadi, kau tidak akan bisa tetap berupa dirimu kini,” bisik suara itu. “bagian intimu terbawa terbang, dan membentuk sungai lagi nanti. Kau disebut sungai juga seperti kini, sebab kau tak tahu bagian dirimu yang mana inti itu.”

Mendengar hal itu, dalam pikiran si Sungai mulai muncul gema. Samar-samar, ia ingat akan keadaan ketika ia –atau bagian dirinya?- berada dalam pelukan angin. Ia juga ingat –benar demikiankah?- bahwa hal itu lah yang nyatanya terjadi, bukan hal yang harus terjadi.

Dan sungai pun membumbungkan uapnya ke tangan-tangan angin yang terbuka lebar, dan yang kemudian dengan tangkas mengangkatnya dan menerbangkannya, lalu membiarkannya merintik lembut segera setelah mencapai atap gunung –nun jauh di sana yang tak terkira jauhnya. Dan karena pernah meragukan kebenarannya, sungai itu kini bisa mengingat-ingat dan mencatat lebih tandas pengalamannya secara terperinci. Ia merenungkannya, “Ya, kini aku mengenal diriku yang sebenarnya.”

Sungai itu telah mendapat mendapat pelajaran. Namun sang Pasir berbisik, “Kami tahu sebab kami menyaksikannya hari demi hari; dan karena kami, pasir ini, terbentang mulai dari tepi pasir sampai ke gunung.”

Dan itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa cara Sungai Kehidupan melanjutkan perjalanannya tertulis di atas pasir.[1]

Tentu tersimpan begitu banyak hikmah dalam kisah indah ini. Tentang ego menjadi diri sendiri yang muncul dari ketidak-tahuan –atau kelupaan?- yang dirasakan oleh si Air. Tentang kepasrahan menjadi butir-butir rintik, menjadi orang lain –menafikan jati diri yang terbentuk karena kesalahan persepsi. Dan tentang menjadi diri sendiri karena kesadaran penuh atas proses menjadi diri sendiri.

Selama air tidak mau meng-ikhlaskan inti, ataupun sebagian dirinya, menjadi uap yang kemudian dipeluk erat oleh angin, maka air tak akan mampu melanjutkan perjalanannya sebagai sungai. Maka beruntunglah air ketika menemukan pasir, yang menyerap habis keberadaannya. Pasir lah yang menyadarkan air akan keharusan meniadakan diri, demi menjadi diri sendiri.

Memasrahkan diri kepada mereka yang mengerti betul hakikat kita adalah ‘kewajiban’ yang mesti dilakukan. Sudahkah kita temukan Pasir dan Angin dalam hidup kita ini?

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

 

 

[1] Kisah-kisah Sufi, cet. Ketiga, 1989, penerbit Pustaka Firdaus.

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.