Konspirasi Semesta Membantu Manusia

Konspirasi Semesta Membantu Manusia

Ustad Syahid Murtadha Muthahhari, dalam salah satu ceramahnya, pernah berkata bahwa alam semesta ini tidak netral. Dalam artian, seluruh alam semesta tidak akan tinggal diam melihat seorang manusia yang berusaha menuju kesempurnaan. Mereka akan membantunya. Beginilah sunnatullah.

Hal ini pernah diutarakan juga oleh Paulo Coelho dalam novel abadinya, The Alcemist.

when you want something all the universe conspires in helping you to achieve it.

Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.

Bahkan, di media sosial sempat beredar meme bernada sama yang kali ini disandarkan kepada Bung Karno, Sang Proklamator.

Tentu tak perlu ribut mengenai siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat penuh inspirasi ini. Toh ini adalah ajaran universal yang pasti berasal dari Pencipta universe itu sendiri, Tuhan semesta alam.

Nah, dalam al-qur’an sendiri, Allah swt berfirman,

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.”[1]

Ayat ini bermakna bahwa karena cinta-Nya yang luas, Allah telah menundukkan segala yang ada di bumi dan langit bagi kita, makhluk-Nya yang disebut manusia. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Allah menundukkan jagad raya untuk kita? Maksudnya, memang apa yang sedang kita lakukan sehingga kita mesti dibantu alam semesta?

Jawabannya adalah karena kita sedang melakukan satu pekerjaan berat yang tak dapat dipikul oleh makhluk apapun, bahkan malaikat sekalipun. Pekerjaan itu ialah perjalanan dari dan menuju kepada-Nya. Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya kita kembali.

Hakikat manusia adalah berproses, menyempurna, senantiasa menjadi, takâmul. Dalam bahasa Rumi, manusia adalah seruling bambu (ney) yang tercerabut dari rumpunnya. Dan demi kembali ke rumpun, ney senantiasa merintih, mengoyak dada, membuat menangis siapapun yang mendengarnya.[2]

Mulla Shadra, filosof ilahi itu, merangkum perjalanan manusia dalam empat tahapan, yang bermula dari makhluk dan berakhir menuju makhluk, namun bersama khaliq. Sebuah perjalanan berat yang tak mampu dilakukan oleh malaikat manapun. Hanya manusia yang mau melakukan perjalanan ini.

Inilah hakikat ikhtiar (aktualisasi potensi) yang dimiliki manusia. Ikhtiar inilah yang bisa membuat manusia menjadi lebih mulia dari malaikat (jika dia meng-aktualkan segenap potensi yang dimiliki), atau menjadi lebih hina dari binatang (jika dia menyia-nyiakan potensi tersebut).

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berucap, meng-isyaratkan berat dan jauhnya perjalanan ini,

Oh! Betapa sedikit bekal, jalan panjang, perjalanan jauh, sedang tujuan sukar dicapai.[3]

Maka, sudah selayaknya kita mendapatkan bantuan dari jagad raya ini. Karena Allah swt akan senantiasa meneguhkan langkah kaki hamba-Nya yang berusaha berjalan di jalan-Nya, demi kembali pada-Nya.

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

 

[1] Q.S Al-Hajj:65

[2] Masnavi Ma’navi, Daftar-e Avval, Bait pembuka

[3] Nahjul Balaghah, aforisme ke-77

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.