Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (VII)

Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari

Keadilan Sosial; Tujuan Lain Pengutusan Para Nabi

Dalam tulisan sebelumnya telah diketahui bahwa Al-qur’an menjadikan ibadah sebagai tujuan hidup manusia. Ibrahim as, salah satu manusia sempurna, mengatakan bahwa, “sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Ikhlas-lah yang menjadi pusat perhatian para manusia suci. Para hamba yang mukhlish dan mukhlash tidak memiliki motif apapun dalam hidup selain keridhaan Tuhan.

Syahid, dalam pembahasan selanjutnya, lantas membawa beberapa ayat al-qur’an yang menjelaskan tujuan diutusnya para nabi. Allah swt berfirman bahwa Nabi saw diutus sebagai saksi (syâhid) bagi amal perbuatan manusia, pembawa kabar gembira (mubasyyir) terkait amal baik yang diserukan Nabi, pemberi peringatan (nadzîr) terkait amal buruk, serta penyeru (dâ’i) ke jalan Tuhan.[1]

Dengan bahasa lain, ayat ini mengatakan bahwa tugas para nabi adalah mengantarkan manusia menuju Tuhan. Inilah tujuan pengutusan para nabi.

Dalam ayat lain, tugas para nabi adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Jelaslah, manusia diajak oleh para nabi untuk mengenal Allah swt. Para nabi adalah mata rantai penghubung antara makhluk dan khaliq.

Namun, dalam ayat-ayat lain dikatakan dengan jelas bahwa tujuan pengutusan para nabi adalah tegaknya keadilan sosial. Allah swt berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”[2]

Secara global, ayat ini bermakna bahwa Kami mengirim para nabi dengan bukti dan dalil-dalil yang kuat, sedang bersama mereka ada kitab dan neraca (perundang-undangan), supaya masyarakat mampu menegakkan keadilan.

Jelaslah, tujuan pengutusan para nabi adalah penegakkan keadilan di tengah masyarakat. Kata Syahid, sampai di sini, filsafat (pengutusan para nabi) telah berubah.

Insya Allah, pada pembahasan selanjutnya akan dibahas dua tujuan pengutusan para nabi tersebut.

 

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

 

[1] Al-Ahzab: 45-46

[2] Al-Hadid: 25

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.