Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (VI)

Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari

Tujuan Hidup Manusia Sempurna Hanyalah Allah swt.

Di tulisan sebelumnya, kita tengah melacak pandangan al-qur’an terkait tujuan hidup. Telah dikatakan bahwa ibadah adalah tujuan diciptakannya manusia dan jin. Hari akhir pun dianggap sebagai tujuan penciptaan. Pertanyaannya, bagaimana menggabungkan dua kemungkinan ini?

Syahid mengatakan bahwa makna dari hal di atas adalah bahwa menurut islam, “…tujuan asli dari kehidupan tidak mungkin sesuatu lain selain Tuhan. (ma’bud).” Al-qur’an ini membentuk manusia dan memberikan tujuan serta harapan padanya. Tujuan dan harapan yang diberikan islam itu hanyalah Tuhan. Selain Tuhan hanya bersifat ‘mukadimah’, bukan tujuan asli.

Dalam ayat-ayat al-qur’an, Allah menggambarkan manusia-manusia sempurna –para nabi dan awliya’– dengan karakteristik “memahami tujuan hidup dengan baik, serta berjalan sesuai tujuan ini.”

Dalam surat al-an’am, ayat 79, menukil perkataan Ibrahim as, Allah berfirman,

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Dalam ayat lain, Allah swt berfirman,

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”[1]

Menurut Syahid, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tauhid itu bukanlah hanya sebuah pemikiran. Tauhid juga memainkan peran penting dalam perbuatan terkecil manusia. Al-qur’an menginginkan seorang manusia yang tidak hanya percaya bahwa hanya Allah-lah yang pantas disembah, dan segalanya adalah milik Allah, lebih dari itu, yang diinginkan al-qur’an adalah bahwa manusia mesti bergerak menuju satu-satunya tujuan yang layak untuknya, yaitu Tuhan.

Tentu saja, seluruh tujuan-tujuan baik lain merupakan hasil dan efek dari tujuan agung ini. Sehingga, Syahid menyebutkan bahwa dalam islam segala sesuatu berputar mengelilingi poros ketuhanan, baik dari sisi tujuan pengutusan para nabi, maupun dari sisi tujuan hidup satu individu manusia.

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

 

[1] Al-an’am, 162

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.