Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri Setiap Hari

Selamat hari raya

Pemerintah melalui Kementerian Agama selesai menggelar sidang isbat petang ini. Hasilnya secara resmi memutuskan bahwa Idul Fitri 1 Syawal 1439 H jatuh pada hari Jumat, tanggal 15 Juni 2018.

“Seluruh peserta sidang isbat bersepakat, dengan mendengarkan pertimbangan MUI, sidang isbat telah menetapkan 1 Syawal 1439 H jatuh pada hari Jumat 15 Juni 2018,” kata Menag Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakpus, Kamis, 14/6/2018, seperti dilansir oleh Detik.

Bagi muslimin Indonesia, merayakan hari raya Idul Fitri kurang bermakna tanpa menggelar acara Halal bi Halal. Tradisi Halal bi Halal ini diambil dari nilai-nilai budaya kearifan lokal oleh para ulama, tokoh dan pemimpin terdahulu yang biasanya dilakukan beberapa hari setelah Perayaan Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa. Mereka berkumpul bersama sanak famili, handai tolan dan para tetangga. Salah satu tujuan mulianya adalah menjalin tali dan ikatan silaturrahmi dengan saling memaafkan satu sama lain. Sebuah tradisi lokal yang sangat elok dan terpuji.

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna Halalbihalal (ha-lal-bi-ha-lal) adalah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Dan dianggap sebagai suatu kebiasaan khas Indonesia. Dan berhalalbihalal adalah bermaaf-maafan pada Lebaran dengan segenap sanak keluarga dan handai tolan.

Ensiklopedia Indonesia, 1978, menyebutkan bahwa kalimat halalbihalal berasal dari bahasa Arab yang tidak berdasarkan gramatika secara benar sebagai pengganti istilah silaturahmi. Dan tentu saja masih banyak lagi sejarah munculnya kalimat Halal bi halal ini. Lepas dari itu semua, tradisi halal bi halal adalah bentuk dari nilai agung silaturahmi, maka tradisi ini semestinya harus dijaga dan dipelihara untuk mempertahankan sikap ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insyaniyah.

Sementara Idul Fitri adalah rangkaian dua kata, idul dan fitri. Kata fitri satu rumpun dengan dengan fithrah berasal dari kata fathara. Secara leksikal, kata ini bisa diartikan tumbuhnya sesuatu dari yang semula tidak ada kemudian menjadi ada. Dan kata “Id” sendiri bermakna perayaan, meski untuk kata dasarnya yaitu aada yang artinya kembali.

Namun, kalimat itu bukan berarti bertentangan. Karena bisa jadi para ulama kita memproses kata ini menjadi satu istilah khusus, sehingga muncullah istilah kembali ke fitrah. Kembali bersih, suci dan tidak ada dosa, terlahir kembali menjadi manusia baru lagi.

Alla kulli hal, diluar konteks pembahasan dua istilah diatas, ada pertanyaan yang jauh lebih penting. Bukankah muara silaturahmi sebenarnya adalah ejawentah ayat al-Quran yang berbunyi, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“? (al-Baqarah 2:156) Bukankah tujuan Maha Adi dari ibadah adalah bersilaturahmi secara mutlak kepada dzat yang Maha Agung, yakni Allah Swt? “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (ad-Dzariyat: 56)

Kemudiaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengatakan;
إِنَّمَا هُوَ عِيدٌ لِمَنْ قَبِلَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَ شَكَرَ قِيَامَهُ وَ كُلُّ يَوْمٍ لَا يُعْصَى اللَّهُ فِيهِ فَهُوَ يَوْمُ عِيد

Sesungguhnya, hari raya adalah bagi orang yang puasanya diterima Allah Swt dan shalatnya disyukuri, dan setiap hari yang didalamnya tidak bermaksiat adalah hari raya“.

Dengan demikian, untuk tetap bisa merayakan hari raya, kita tidak perlu menunggu momen perayaan Hari Raya Idul Fitri. Sebab, manivestasi silaturahmi itu jelas tidak dibatasi pada hari atau event khusus itu. Setiap saat dan kapan saja kita bisa kembali kepada asal, fitrah, dan menjadi fitri, dengan metodologi silaturahmi melalui perintah-perintah wajib dari dzat yang Maha Agung yang kita lunasi sepanjang hari.

Karena itu, halal bi halal juga mestinya dilakukan setiap saat. Di sepanjang waktu, di mana saja, dunia sampai akhirat. Supaya setiap hari yang kita jalani, benar-benar manifestasi dari perayaan Idul Fitri yang sesungguhnya. Karena tidak ada hari yang lepas dari kita dengan tidak dihalalkan dan disilaturahmikan, terutama dengan dzat yang Maha Agung. Hal penting lain adalah, Halal bi Halal bukan saja menuntut seseorang untuk senantiasa membuka lapang dada, dan menggeledah mata hati untuk orang lain, juga senantiasa melepas belenggu tangan demi kebaikan terhadap siapapun menyangkut segenap aktivitas manusia sepanjang hari.

Jadi, mari kita membulatkan niat dan tekad dengan beridul fitri setiap hari, dimana saja.

Untuk itu, kami segenap anggota dan pengurus Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran mengucapkan;

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Bathin“.

Taqobbalallahu Minna Waminkum, Minal Aidin wal Faizin. []

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.