Al-Quds dan Upaya Revitalisasi Spirit Perjuangan

Al-Quds dan Upaya Penggembosan Spirit Perjuangan

Hari Al-Quds Internasional akan segera hadir dalam beberapa hari kedepan. Hari penyuaraan pembebasan Palestina dan perlawanan terhadap arogansi dunia pada tahun ini terasa akan semakin membara menyusul terbunuhnya Razan al-Najjar, perawat muda Palestina yang tertembak tentara Israel. Peristiwa tragis tersebut menambah daftar panjang tindak kriminal Israel terhadap bangsa Palestina di wilayah pendudukan dan jalur Gaza.

Hari Al-Quds Internasional sejatinya adalah manifestasi dari penggalan pidato Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam Nahjul Balagha “Jadilah kalian musuh bagi penindas dan penolong bagi orang-orang yang tertindas”. Saat ini Israel, Amerika beserta sekutunya adalah penindas, dan seluruh manusia merdeka hendaknya menjadi musuh mereka. Dan bangsa Palestina adalah pihak tertindas yang harus kita tolong dan bela. Hari Al-Quds Internasional adalah hari perlawanan terhadap kaum penindas dan pembelaan kaum tertindas.

Tak pelak, upaya demi upaya penggembosan semangat Al-Quds terus digaungkan dalam wujud yang berbeda-beda. Sayyid Hashim al-Haidari, seorang pemuka agama di Iraq mensinyalir beberapa bentuk penggembosan semangat al-Quds yang terhembus di dalam tubuh umat Islam. Mulai dari modus rasial, nasional, mazhab hingga politik. Seluruh modus dan bentuk tersebut memiliki satu tujuan utama yang sama: “Menghilangkan rasa kepemilikan tanggung jawab syar’i atas pembebasan Palestina dari umat muslim”.

Dalam modus rasial, berhembus paham yang mengatakan bahwa isu Palestina bukanlah masalah dan problem muslimin. Melainkan problem rasial antara bangsa Arab dan Israel, yang seharusnya dihadapi oleh orang-orang Arab saja. Tidak perlu ada orang luar yang ikut campur. Dengan begitu, seluruh masyarakat non-Arab dikeluarkan dari medan perjuangan.

Mereka mungkin akan memanfaatkan fakta peperangan kedua bangsa tersebut semenjak 1948 hingga sekarang. Konflik berkepanjangan ini melibatkan negara-negara Arab seperti Palestina, Lebanon, Yordania, Iraq, Kuwait, Sudan, Aljazair, Tunisia, Mesir dan Suriah.

Peperangan-peperangan susulan terus meletus. Seperti Perang Suez 1956, Perang enam hari 1967, Perang Yom Kippur 1973, Perang Lebanon 1982-1985, Perang Hizbullah 2006 dan Perang Gaza 2008-2014. Dengan tetap adanya ketegangan politik dan konflik militer sejak 1948 hingga sekarang, tanpa jeda. Peristiwa-peristuwa diatas menunjukkan fakta ketegangan Arab dan Israel. Sehingga segala bentuk problematika yang ada di Palestina dipahami sebagai imbas dari ketegangan Arab-Israel yang sudah berlangsung selama beberapa dekade hingga sekarang.

Dengan itu, mereka menyimpulkan bahwa persoalan Palestina adalah persoalan bangsa Arab murni. Tak ada unsur-unsur agama atau apapun di dalamnya. Persoalan Palestina benar-benar persoalan rasial, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan bangsa non Arab.

Modus ini tak lain adalah bentuk strategi “divide and conquer” yang berhasil selama berabad-abad untuk memberondong habis negara-negara jajahan. Dengan melempar isu rasial dan kesukuan, sebuah bangsa bahkan satu umat yang besar dapat terpecah serta terkotak-kotakkan. Sehingga tidak ada lagi rasa tanggung jawab maupun simpati terhadap sesama. Bukankah Imam Ali as. pernah menasehati kita, “Mereka yang bukan saudaramu dalam Islam adalah saudaramu dalam kemanusiaan”? Modus diatas mencoba memecah umat Islam dari persatuannya sebagai umat yang satu diatas Islam dan memecah umat manusia sebagai umat yang satu diatas kemanusiaan.

Kedua, setelah isu rasial dirasa kurang berhasil, selanjutnya yang digunakan adalah modus nasional. Mereka mengatakan bahwa persoalan Palestina bukan persoalan bangsa Arab. Melainkan persoalan antar Negara. Seperti persoalan sengketa garis batas antara Indonesia dan Malaysia. Sehingga mereka yang harus peduli pada problem palestina adalah orang-orang Palestina sendiri. Ini bukan problem ummat Islam ataupun Bangsa Arab. Ini adalah problem geopolitis-historis bangsa Palestina dan Israel sendiri. Karena itu harusnya problem ini diselesaikan oleh mereka sendiri tanpa intervensi dan campur tangan lain.

Dengan ini, meraka berusaha menekan jumlah oponen Israel dengan mengeliminasi seluruh bangsa Arab non-Palestina. Paham ini tersebar cepat menjangkiti bukan hanya masyarakat biasa di negara-negara Arab, tapi juga elit-elit politik pemegang kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Seperti yang dilakukan oleh negara sapi perah Amerika di kawasan, Saudi Arabia.

Merasa berhasil dengan modus nasional, bukan berati membuat mereka mengendurkan upaya penggembosan spirit pembebasan. Berikutnya mereka menggunakan modus relijius kemazhaban, dan menegaskan bahwa problematika Palestina adalah problem Sunni semata. Muslim Syiah tak perlu turut dalam perjuangan ini, dan Muslim Sunni tidak perlu simpati terhadap Muslim Syiah.

Kata “Mereka” dalam tulisan ini adalah siapa saja yang mengatakan atau menyebarkan paham yang melemahkan tekad dan spirit pembebasan tersebut. Siapapun dia. Entah apakah itu atas dasar ketidaktahuannya atau karena didasari kesengajaan. Bisa kawan bisa lawan. Siapapun mereka, apabila mereka menggembosi spirit pembebasan dengan ucapan atau tindakan maka mereka adalah penghambat gerakan ini.

Tak terkecuali dengan salah seorang pembicara Syiah ternama yang tidak perlu penulis sebut namanya. Dalam salah satu pidatonya, ia berkata bahwa kita orang Syiah tak perlu repot-repot menghadiri pawai al-Quds atau kegiatan-kegiatan semisalnya karena bangsa Palestina adalah bangsa sunni. Sebagian dari orang-orang itu tergabung dalam ISIS yang membantai orang-orang Syiah di Iraq dan Suriah dan mereka adalah orang-orang Palestina. “..lalu setelah kami pulang dari pawai untuk kalian, kalian membantai saudara-saudara kami?!” ucapnya dalam pidato tersebut.

Begitu juga beberapa oknum dari pihak sunni yang senada mengatakan bahwa orang-orang Palestina adalah orang-orang sunni dan sama sekali tak perlu bersimpati dengan orang-orang Syiah.

Dengan begitu, baik dari dalam tubuh Syiah maupun dari dalam tubuh Sunni ada upaya penggembosan spirit persatuan Islam dan spirit al-Quds. Penggembosan ini tak hanya mengikis semangat al-Quds dalam dua belah pihak tapi juga sebagai bahan konflik baru diantara keduanya. Bukan hanya menyerang semangat al-Quds, tetapi juga jiwa persatuan Islam dalam tubuh muslimin.
Lalu ketika tersadar bahwa ternyata isu sunni-syiah tak lantas membuat orang-orang Syiah kemudian berhenti menyuarakan pembebasan al-Quds, mereka mengubah strategi dengan pola baru, bahwa problem Palestina dan problem al-Quds adalah temuan Imam Khomeini. Seruan ini muncul dari Iran.

Al-Quds dianggap tidak memiliki tujuan tulus dan murni. Melainkan terdapat kepentingan politik keji yang memanfaatkan ketertindasan rakyat palestina untuk menyingkirkan Israel yang notabene adalah rival Iran di timur tengah. Dengan demikian Iran dapat menjadi tuan dan penguasa seluruh Timur Tengah. Tak ada tujuan-tujuan Islami atau lainnya sebagaimana yang selalu didengungkan. Semuanya adalah demi kepentingan politik Iran.

Apalagi Amerika mulai memperpanjang tangannya di Timur Tengah. Maka dengan adanya al-Quds, Iran dapat merongrong serta mengurangi pengaruh Amerika di wilayah dan disaat yang sama menyebarkan pengaruhnya pada seluruh negara kawasan.
Oleh karena itu, al-Quds dianggap tidak ada hubungannya dengan muslimin, orang arab atau siapapun di dunia. Al-Quds hanyalah problem dan demi kepentingan Iran semata. Tak perlu kita ikut campur apalagi sampai dimanfaatkan oleh Iran.

Padahal apa yang dilakukan Iran semata-mata adalah untuk kepentingan umat muslim bersama. Karena problem Palestina memiliki dampak langsung dan tak langsung yang merugikan stabilitas sosio-politik dunia Arab secara khusus serta dunia Islam secara umum. Mulai dari pembebasan situs agama dari tangan penindas, meredam konflik berkepanjangan yang mengorbankan puluhan ribu nyawa, menyumbat arus pengungsian hingga memutus kelahiran teroris dari rahim penindasan yang saat ini tak hanya membuat kekacauan di seluruh Timur Tengah, tapi juga di seluruh dunia.

Memang benar bahwa Iran adalah salah satu negara paling “ngganyang” rezim arogansi dunia dan bangsa penindas pasca revolusi. Negara yang sudah memuntahkan anak emas Amerika –Shah Pahlevi pada tahun 1979 ini, hari demi hari menjadi semakin kuat dan didaya. Tak pelak ia menjadi momok dan ancaman bagi kaum penguasa. Dan Iran adalah satu-satunya Negara Islam kuat dan berperan penting dalam menjaga stabilitas negara-negara kawasan serta berada di garis depan dalam menantang arogansi global.

Lalu, apakah hanya karena Imam Khomeini menyeru pembebasan al-Quds, lantas bisa dikatakan hal itu adalah demi kepentingan politik Iran? Padahalm, jauh sebelum Imam Khomeini menyuarakan Hari Al-Quds Internasional , Presiden pertama Indonesia adalah orang yang paling frontal dalam membela Palestina dan mengecam Israel. Apakah itu berarti Indonesia punya kepentingan pribadi dalam membela Palestina?

Begitu juga Mesir, Venezuela, Kuba, Aljazair, Afrika Selatan, Malaysia dan negara-negara lain. Apakah dengan membela Palestina dan mengecam Israel berarti mereka memiliki kepentingan politik keji diatas penderitaan bangsa Palestina? Mereka tentu punya kepentingan. Yaitu menghapus penjajahan diatas dunia dan menjungkalkan segala kekuatan yang berlagak majikan atas bangsa-bangsa lain di dunia. Tidakkah peristiwa penggunaan hak veto AS atas resolusi dewan keamanan PBB adalah bentuk paling nyata kesewenang-wenangan dan arogansi mereka?

Dan pembebasan Palestina juga merupakan amanat presiden Soekarno. Dalam sebuah pernyataan pada tahun 1962, Bung Karno mengatakan, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.”

Palestina adalah negara yang semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia telah menunjukkan dukungannya untuk memerdekakan Indonesia. Ketika merdekapun, Palestina merupakan bagian negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan juga mendorong Mesir untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

Dukungan Bung Karno pada Palestina tidak hanya sebatas ucapan, tapi juga perbuatan. Mulai dari pernyataan dukungan, penolakan hubungan diplomatik dengan Israel, hingga menolak keikutsertaan Israel dalam konferensi Asia-Afrika pada tahun 1953. Kemudian pada KAA 1955 Soekarno mengundang Palestina walaupun saat itu belum diakui sebagai negara merdeka.

Yang menarik adalah, pada tahun 1958, ketika Indonesia hadir dalam Piala dunia, timnas Indonesia berada satu grup dengan Mesir, Sudan dan Israel. Namun timnas menolak dan memilih tidak tampil di piala dunia ketimbang beradu di satu lapangan dengan Israel. Dan Bung Karno yang memerintahkan hal itu. Menurut Presiden, “itu sama saja dengan mengakui Israel.” Kemudian Mesir dan Sudan mengikuti jejak Indonesia dengan menolak merumput bersama timnas Israel.

Insting tajam anti-penjajahan Bung Karno membuatnya sadar bahwa dengan berakhirnya era penjajahan bukan berarti kolonialisme turut punah. Tapi justru tampil dengan wajah baru yang ia sebut dengan Nekolim (neokolonialisme-imperialisme). Sehingga beliau selalu menakhodai Indonesia untuk menjadi negara yang aktif berusaha menghapus segala bentuk penjajahan dan penindasan diatas dunia. Karena sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa.

“Kita harus bangga, bahwa kita adalah salah satu bangsa yang konsekuen terus. Bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!” kata Bung Karno dalam pidatonya yang terekam dalam buku “Revolusi Belum Selesai”.

Isu Palestina selamanya adalah isu perlawanan terhadap bangsa penindas dan pembelaan kaum tertindas. Al-Quds akan selalu menjadi simbol perjuangan dan pembebasan. Mewakili seluruh perjuangan terhadap penindasan di muka bumi. Tanggung jawab perjuangan pembebasan ini berada di pundak umat muslim secara khusus dan umat manusia secara umum. Dan ketika hari kemenangan itu tiba, semoga saya dan Anda berada di barisan yang sama. Betapa hari itu sangat dekat. Semakin dekat seiring hembusan napas. Masa kehancuran arogansi dunia sudah hampir sampai. Dan dunia akan segera menyaksikan hari itu.
Salam Pembebasan.[]

Penulis: Muhammad Baqir, mahasiswa SI, Jurusan Ulumul Quran, di Universitas Imam Khomeini, Qom, Republik Islam Iran

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.