Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari (V)

Tujuan Hidup Perspektif Murtadha Muthahhari

Meninjau Pandangan Al-Qur’an Terkait Tujuan Hidup

Pada pembahasan sebelumnya, telah disinggung bahwa al-qur’an menjadikan IBADAH sebagai tujuan penciptaan jin dan manusia. Hal ini ditekankan secara sangat jelas dalam surat ad-dzariyat ayat 56.

Namun, beberapa ayat menjelaskan hal yang berbeda. Sebagian ayat menjelaskan bahwa hari akhir merupakan ‘konsekuensi’ dari kehidupan. Artinya, jika tidak ada akhirat, maka hidup akan menjadi sia-sia. Dengan bahasa lain, akhirat adalah tujuan dari penciptaan dan kehidupan di dunia ini.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu sia-sia (‘abasa), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-mu’minun: 115)

‘Abas (sia-sia) berarti tak memiliki tujuan asli, lawan dari hikmah.

Ayat ini bermakna, apakah tidak ada hikmah dari penciptaan kalian, wahai manusia? Tanpa hari akhir, hidup sia-sia. “Bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami” bermakna jika kita tak kembali kepada Allah, maka penciptaan ini sia-sia.

Hal yang mesti ditambahkan di sini adalah, Syahid sedang mem-preteli kemungkinan-kemungkinan yang bisa ditafsirkan dari al-qur’an. Kita telah melihat bahwa al-qur’an, dalam sebagian ayatnya, mengatakan bahwa ibadah adalah tujuan penciptaan. Sedang di ayat lain, al-qur’an menyatakan bahwa kiamat lah tujuan dari penciptaan kehidupan ini.

Kita tentu juga belum lupa, dalam tulisan-tulisan sebelumnya, ada beberapa pandangan lain terkait tujuan hidup. Seperti mencapai puncak ilmu pengetahuan, dan menguasai pemberian alam.

Lalu, pandangan mana yang bisa diterima?

Syahid mengatakan bahwa al-qur’an tak pernah mengafirmasi dua pandangan terakhir (mencapai puncak ilmu pengetahuan dan menguasai pemberian alam). Syahid mengatakan bahwa sepintar dan sekuat apapun seseorang, namun jika ia tak mengenal Tuhan, dan tak beribadah, maka ia sama sekali belum berjalan menuju tujuan hidupnya.

Para nabi datang untuk membawa manusia menuju kebahagiaan hakiki, yang menurut mereka ibadah itu sendiri.

Sepintas, kita akan mengira bahwa ibadah adalah tujuan hakiki kehidupan kita. Benarkah demikian? Apakah ibadah tak memiliki tujuan? Lalu bagaimana dengan hari akhir tadi? Pada pembahasan selanjutnya, pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab.  Insya Allah...

Penulis Farazdaq Khuza’i, Penikmat Filsafat dan Perenung Sufisme

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.